Trap Mr. Coldhearted

Trap Mr. Coldhearted
Part 101


__ADS_3

“Kau pulang jam berapa?” Gerald lagi-lagi mengajukan pertanyaan, bukannya menjawab sang istri. Jika dahulu Cathleen yang lebih sering bertanya padanya, kali ini justru sebaliknya.


“Mungkin setengah lima sore baru selesai pekerjaanku,” jawab Cathleen. Dia merasa aneh jika diperhatikan seperti ini. Mungkin karena sudah terbiasa memberikan perhatian sehingga dia belum beradaptasi dengan sifat suaminya yang perlahan berubah. “Apa ada sesuatu yang kau butuhkan? Katakan saja.”


“Tidak, aku hanya ingin bertanya saja,” kilah Gerald. “Aku tutup teleponnya, selamat bekerja.” Dia pun langsung memencet tombol bulat berwarna merah.


Cathleen sampai melongo menatap ponselnya sendiri. “Kenapa Gerald jadi aneh seperti ini?” gumamnya seraya meletakkan benda berlayar enam koma tujuh inch tersebut ke atas meja.


Sudahlah, Cathleen tidak ingin ambil pusing. “Mungkin Gerald sedang bingung melakukan apa, dia ‘kan pengangguran.” Wanita berpakaian setelan kerja itu pun kembali memfokuskan mata pada monitor.


Waktu terus bergulir dan jam pulang pun akhirnya datang juga. Cathleen tidak langsung mengemasi barang-barangnya. Dia menyelesaikan mengkoreksi proposal pengajuan kerja sama terlebih dahulu, tanggung sekali jika disudahi padahal tinggal sebentar saja.


Melenceng sedikit dari perkiraan Cathleen, dia selesai bekerja bukan setengah lima tepat, namun lebih sepuluh menit.


Cathleen pun segera mematikan komputer dan mengemasi barang-barang ke dalam tas. Dia buru-buru keluar karena harus belanja mingguan dan tidak ingin sampai di apartemen terlalu larut.

__ADS_1


Lorong perusahaan itu sudah sepi karena semua karyawan telah kembali ke tempat tinggal masing-masing tepat waktu.


Cathleen terlihat tak takut sendirian di sana, sebab sudah biasa seperti itu. Dan lift pun sampai juga di basement tempat di mana ia memarkirkan mobil. Kaki terayun untuk segera menuju pada kendaraan roda empatnya.


Tapi, langkah kaki Cathleen mendadak berhenti saat melihat ada seorang pria yang bersandar di mobilnya. Ia mengucek mata untuk meyakinkan apakah yang dia lihat adalah orang sungguhan atau jadi-jadian.


“Tidak mungkin itu dia.” Cathleen bergumam karena belum yakin dengan apa yang memenuhi penglihatan saat ini.


Untuk lebih akurat, Cathleen pun semakin mendekat. Di sana hanya tersisa mobilnya saja.


“Kenapa kau melihatku seperti itu?”


Suara yang sangat dikenal oleh Cathleen itu menembus gendang telinga. Cathleen otomatis membulatkan mata karena tak percaya. “Gerald? Ini sungguh kau?”


“Iya, ini suamimu, bukan penjahat ataupun hantu.” Gerald menjawab diiringi senyuman, tak lupa tangannya mengacak-acak rambut Cathleen yang nampak menggemaskan.

__ADS_1


“Untuk apa kau datang ke mari?” tanya Cathleen seraya merapikan rambut yang telah diporak porandakan oleh sang suami.


“Menjemputmu.” Walaupun sudah menghangat, tapi tetap saja ada moment Gerald menjawab singkat.


Cathleen sampai membuka mulut dan mata membulat. Sangat tak menyangka kalau suaminya melakukan hal tersebut. “Aku membawa mobil sendiri.”


“Justru kau membawa mobil sendiri, maka dari itu aku datang ke sini menjemputmu.” Gerald menengadahkan tangan ke depan dada Cathleen. “Mana kuncimu? Biar aku yang menyetir, nanti kau menabrak halte lagi.”


Diingatkan tentang insiden saat awal menikah, membuat Cathleen meringis malu. “Dulu aku masih belajar membiasakan diri mengendarai mobil sendiri, sekarang sudah lumayan lancar.” Ia menjelaskan sembari memberikan kunci. “Jika kau mengemudikan kendaraanku, lalu mobilmu bagaimana?”


“Aku ke sini naik taksi,” jelas Gerald seraya menggandeng tangan sang istri untuk dituntun ke sisi mobil sebelah kanan.


...*****...


...Kaya jelangkung lu Ge! Dateng ga dijemput, pulang tak dianter. Tiba-tiba nongol ae kaya hantu. Untung kaga jantungan tu si Kucing...

__ADS_1


__ADS_2