
Kesalahan terbersar bagi pasangan yang ingin melahirkan, tidak membawa perlengkapan bayi. Apa lagi Cathleen melakukan persalinan darurat di dalam mobil karena sudah tidak tahan lagi. Kini, Gerald harus mencari cara untuk menghangatkan bayi polos yang masih terus menangis. Apa lagi tali pusar belum dipotong.
“Apa tak bisa menunggu sebentar sampai tenaga medis datang?” tanya Gerald. Bukannya dia tidak mau membantu, tapi bingung juga mau melakukan apa karena dirinya tidak ahli dibidang kesehatan.
“Kau pikir tagihan hutang bisa meminta untuk ditunda!” Sudahlah, entah Gerald siap atau tidak, Cathleen mengejan lagi. Dia tak tahan, ingin segera menuntaskan.
Gerald hanya bisa menghela napas dan tetap tenang. Walaupun telinga terus menangkap jelas suara tangis bayi di dalam dekapannya. Tidak ada kain yang bisa menghangatkan anak pertama, tidak mungkin juga memberikan pada Cathleen saat wanita itu mengejan. Maka, dia terus mendekap, memberikan kehangatan dari kulit tubuhnya yang tidak terbalut apa pun.
AC mobil juga sudah dimatikan sejak tadi oleh Gerald. Jadi, anaknya tidak akan terlalu kedinginan. “Keluarkan saja, aku siap menarik lagi.”
Kedua bola mata Gerald terus tertuju pada jalan lahir anak-anaknya. Menanti kepala mungil muncul lagi dari sana.
Tepat sekali ketika anak kedua menunjukkan kepala keluar, ambulan dan tenaga medis yang Gerald hubungi baru datang.
__ADS_1
“Ck! Telat, lama sekali mereka.” Masih sempat-sempatnya Gerald menggerutu. Dia tidak segera membukakan pintu, tanggung.
“Bisa kau dekap anak kita sebentar? Aku akan menarik yang kedua,” tanya Gerald. Tangannya hanya dua, dan tidak bisa membantu bayi kedua keluar kalau masih menggendong yang pertama.
Tangan Cathleen terulur siap menerima walaupun tidak mengeluarkan suara. Fokusnya sedang tertuju pada mengejan.
Gerald hendak memberikan bayi mungil itu. Tapi, ternyata anak kedua terlilit tapi pusar di leher dan yang pertama juga saluran pembawa nutrisi selama di dalam perut pun belum dipotong.
“Tidak jadi, aku tak berani mengeluarkan anak kedua.” Awalnya Gerald akan membantu persalinan semua anak-anaknya. Tapi, ternyata yang terakhir takut salah langkah justru bisa membuat tercekik lilitan tali pusar.
“Tolong bantu wanitaku melahirkan,” ucap Gerald. Dia memilih menyerah saja.
Melihat pria itu menggendong anak dengan tali pusar masih menempel di tubuh mungil tersebut, petugas medis segera memotong. “Bawa ke ambulan saja, di sana ada selimut. Hangatkan anak itu dan tetap berada didekapan Anda.”
__ADS_1
“Oke.” Gerald segera turun dan mengikuti sesuai arahan. Dia akan mempercayakan anak kedua pada yang lebih berpengalaman saja.
Lima belas menit berlalu, akhirnya petugas medis berhasil membantu mengeluarkan anak kedua yang terlilit tali pusar. Kondisi bayi mungil itu selamat dan menangis ketika menghirup udara segar.
Cathleen sampai berkaca-kaca, dia tidak menyangka akan melahirkan sedramatis ini. Tapi, rasanya sangat lega setelah melahirkan. Perutnya tidak berat lagi seperti sebelumnya. “Boleh aku menggendongnya?”
“Tentu.” Petugas medis itu meletakkan bayi mungil supaya mendapatkan dekapan hangat.
“Anak-anakku tidak ada yang sabar ternyata. Semua ingin cepat melihat Mommy dan Daddy, ya?” ucap Cathleen seraya mengusap kulit berwarna merah.
Meskipun baru pertama kali ini memiliki anak, tapi Cathleen dan Gerald tidak takut untuk menggendong bayi yang masih merah dan mungil. Terlihat kalau keduanya sudah siap menjadi orang tua.
...*****...
__ADS_1
...Bukan gak sabar, anakmu lagi ngerjain bapaknya biar gak nakal...