
Cathleen sempat berpikiran kalau saat sang suami melihat foto tadi seperti tengah memandang mendiang Chloe. Ternyata, setelah ditanya, Gerald menilai sama-sama cantik. Sehingga perasaan yang tadi sempat tak enak, sudah perlahan kembali normal. Hingga membuatnya bisa menikmati setiap denyut yang dihasilkan dari jantung akibat adrenalin penyatuan bibir yang semakin lama justru menjadi kian panas.
Terhanyut dalam suasana mendebarkan di bawah langit yang temaram, tangan Gerald sampai menjalar ke bagian tubuh lain. Miliknya yang sedang bersembunyi di balik celana, sudah mulai bisa menunjukkan perubahan.
Cathleen tiba-tiba memundurkan kepala saat merasakan remasan di salah satu buah yang kembar dan kenyal menempel di dada. Dia terkejut karena Gerald tidak memberikan pertanda sedikit pun.
“Kenapa?” tanya Gerald seraya menatap mata sang istri.
“Aku kaget dengan tanganmu yang secara tiba-tiba,” jelas Cathleen. Dia memegang dada yang luar biasa debarannya.
Gerald mendekatkan kepala dan disandarkan pada bahu Cathleen. Sedikit menengok hingga posisi bibir ada di leher istri. “Tubuhku sudah mulai merespon. Tandanya aku mulai memiliki rasa denganmu.” Suara itu keluar berupa bisikan. Hembusan napas hangatnya sampai menyapu kulit Cathleen karena jarak sangat dekat.
“Ma—maksudmu, kau menginginkan bercinta denganku?” tanya Cathleen. Ia gugup sampai terbata-bata.
__ADS_1
Gerald menggeleng. “Tidak, aku hanya ingin kau tahu saja, kalau di sini.” Ia meraih tangan sang istri dan di tempelkan pada dada yang berdebar. “Mulai ada namamu yang terukir secara perlahan.”
Muah ...
Gerald mencium pipi Cathleen setelah memberitahukan tentang perasaannya.
Cathleen mematung, sungguh manis dan lembut sekali suaminya ini. Membuatnya merasa tak menyesal meninggalkan Edbert. “Kau sudah lama berada di sini.” Dia balas menyentuhkan telapak suami ke dada.
Gerald mengulas senyum diiringi melakukan kebiasaan yang mulai tak bisa absen setiap hari, yaitu mengacak-acak rambut istri. “Kau tidak perlu tegang, aku tak mungkin bercinta di sembarang tempat. Meskipun kita sudah memiliki ikatan, tapi melakukan hubungan badan di lapangan sepak bola bukanlah gayaku.”
Cathleen menunjukkan rentetan gigi putih yang terkesan canggung. “Ku pikir kau tidak bisa mengontrol hasrat jika sudah seperti tadi.”
“Hanya orang tak memiliki akal sehat yang bisa bercinta di tempat umum, padahal bisa saja ada orang lewat atau datang ke sini. Walaupun cahaya remang-remang, tapi tetap saja hal itu memalukan jika sampai dilihat oleh orang lain,” jelas Gerald seraya mengemasi alat makan kotor agar tak memenuhi tikar.
__ADS_1
Cathleen ikut membantu memasukkan ke dalam keranjang. “Biasanya ada saja pria yang selalu mementingkan napsu dibanding akal sehat.”
“Tidak semua orang memiliki pemikiran dan hasrat yang sama, tidak perlu diambil pusing. Kalau aku ingin, pasti akan ku lakukan di apartemen, kamar, hotel, yang pasti tidak di tempat umum dan terbuka.” Gerald menjelaskan seraya merebahkan tubuh dan kembali berbantal paha sang istri.
Oh senangnya Cathleen mendengar hal tersebut. Dia langsung mengusap rambut Gerald dan menunduk untuk menatap pria tampan. Tidak ada suara yang dikeluarkan, sedang menikmati wajah suami yang tengah terpejam.
“Jika aku menyentuhmu, jangan tegang, Cath,” pinta Gerald tanpa membuka kelopak mata.
“Kenapa?”
“Karena aku menganggap hal itu sebagai penolakan atas rasa takut dengan sentuhanku. Aku tidak pernah mau bercinta dengan orang yang tidak menginginkan hal sama sepertiku. Bagiku, hal itu seperti melecehkan, walaupun kau adalah istriku. Jadi, tolong jangan tegang ketika suatu saat aku menginginkan hakku.” Gerald membuka mata, meraih tangan Cathleen untuk dilabuhkan kecupan.
...*****...
__ADS_1
...Kalo si Kucing gamau, sama aku aja sini Beb. Gapapa deh aku beku, yang penting dapet kamu...