
Edbert sudah memastikan kalau tak ada anggota Cosa Nostra yang berhasil mengikuti. Dia berkendara melebihi batas, menyalip setiap kendaraan di depan, bahkan masuk ke dalam gang untuk mengecoh. Merasa lebih baik tidak melibatkan orang luar dalam misinya sendiri supaya tak ada korban jiwa. Tapi, kalau dirinya yang gugur dalam pertempuran ini pun tak masalah. Lagi pula, semua anggota keluarganya sudah tiada.
Untuk menuju tempat persembunyian Gretta si psikopat licik, Edbert sampai harus melewati jembatan yang menghubungkan dengan salah satu pulau bagian Finlandia, masih berada di dekat Helsinki. Namun, di sana memang jarang pemukiman penduduk. Walaupun ada, jaraknya berjauhan. Justru di dominasi pohon, sepertinya bisa disebut hutan.
Ada jalan tanah yang bisa dilewati mobil, ada bekas kendaraan juga. Edbert mengikuti itu dan berhenti di depan sebuah rumah.
Edbert melihat GPS yang dikirim oleh Roxy, benar sekali titiknya berhenti di sana. Sepertinya mulai yakin kalau rumah itu adalah tempat persembunyian Gretta. Sebab, ada mobil yang terparkir di depan.
Tangan Edbert meraih tas berisi bom, lalu memijakkan kaki di atas tanah. Dia keluar dan melihat ke arah sekitar terlebih dahulu, memastikan adakah orang lain di sekitar sana atau tidak. Ternyata sangat sepi. Sepertinya Gretta hanya tinggal sendiri.
__ADS_1
Kaki Edbert mulai mengayun menuju rumah yang bagian luarnya terbuat dari kayu kokoh. Dia tidak mengetuk pintu, tapi menendang berkali-kali sampai rusak.
“Siapa di sana?!” Ada suara seorang wanita yang bertanya dengan ketus.
Edbert tidak menjawab, dia diam saja dan terus melangkah menuju sumber suara. Hingga kedua bola mata bisa melihat jelas wajah bekas operasi plastik yang belum sembuh total, masih sedikit membengkak. Tapi memang diakui, mirip sekali dengan Chloe.
“Hello, bitchh!” sapa Edbert seraya menarik sebelah sudut bibir sangat mengerikan.
“Jangan banyak bicara kau!” sentak Edbert, mendengar suara Gretta saja sudah membuatnya muak.
__ADS_1
Tapi, Gretta justru berdiri tepat sekali di hadapan Edbert, tidak ada jarak sedikit pun. Dia seperti seorang wanita yang sedang menggoda. Menurunkan ritsleting jaket pria itu, membuka tiga kancing kemeja di dalamnya, dan menggerakkan jemari di dada bidang. “Biar ku sambut kedatanganmu dengan layanan memuaskan.” Suara itu sengaja dibuat begitu sensual supaya membangkitkan gairah.
Tapi, sayangnya, Edbert tak akan bergairah dengan wanita psikopat. Dia justru mencengkeram pipi Gretta sangat kasar. “Aku tak ingin basa basi denganmu!” Mendongakkan kepala wanita itu supaya melihat wajahnya yang sedang berkilat amarah. “Aku akan membunuhmu sampai kau tak bisa menjadi ancaman bagi wanita yang ku cintai!”
Gretta tidak terlihat takut sedikit pun meski sedang diancam. “Jangan bodoh, kau mencintai Cathleen, bukan? Bagaimana kalau kita membuat kesepakatan?”
“Oke, aku ingin kau telepon semua orangmu supaya tak menyakiti Cathleen beserta keluarganya, bagaimana? Tarik mereka untuk menjauh.”
“Mudah, bisa ku lakukan. Tapi, kau harus mau membebaskanku dan bekerja sama untuk mendapatkan apa yang kita mau, setuju?”
__ADS_1
“Terdengar tak terlalu buruk.” Edbert melepaskan cengkeraman supaya Gretta bisa bergerak leluasa. “Teleponlah anak buahmu sekarang, setelah itu kita rancang rencana.”
“Pilihan sangat cerdas bersekutu denganku.” Gretta menepuk pundak Edbert saat berdiri, lalu masuk ke dalam kamar untuk menelepon seseorang yang menjadi koordinator.