
Terlihat keempatnya tertawa gembira. Setiap hari mereka selalu hidup dilimpahkan banyak kebahagiaan. Hampir tidak pernah ada duka selain kepergian Edbert yang tak tahu apakah masih hidup atau memang telah tiada.
“Mommy ingin jagoannya dilepaskan?” tanya Gerald.
“Ya, lepaskan mereka,” jawab Cathleen seraya menarik tangan suaminya.
“Baiklah, kalau begitu, Mommy saja yang digelitiki.” Gerald berhenti membuat dua jagoannya kegelian dan melepaskan mereka. Ia justru berbalik badan untuk membalas wanita yang sangat dicintai itu.
Gerald menarik Cathleen menuju sofa kosong satunya. Dia tidak menggelitiki sang istri, tapi justru memeluk wanita itu dengan memberikan balasan sebuah ciuman di bibir secara bertubi-tubi, bahkan hingga Gerald terduduk di sana.
“Kita bermain berdua saja, Mommy dan Daddy tidak asyik,” ajak Faydor seraya menggandeng tangan kembarannya. Meskipun suara juga belum terlalu jelas, tapi mereka bisa memahami satu sama lain.
“Ayo.” Galtero sengaja mengajak untuk melewati kedua orang tua mereka yang tengah saling memeluk. Dia menendang kaki sang Daddy saat berjalan, supaya segera melepaskan Mommy.
Galtero menjulurkan lidah kala Gerald menatap ke arahnya. “Daddy jelek,” ejeknya.
Dua saudara kembar itu segera berlari dan masuk ke ruang bermain. Menutup pintu agar tak dikejar oleh Daddy mereka.
“Anak kita semakin besar bertambah luar biasa aktifnya,” ucap Gerald seraya menarik sang istri supaya tertidur bersama di sofa.
“Hei, kau mau apa?” Cathleen berusaha melepaskan diri dari pelukan sang suami karena tidak ingin sampai kedua anaknya melihat hal-hal yang tak senonoh.
“Selagi mereka asyik bermain berdua, aku ingin memelukmu. Sudah lama tak melakukan ini karena selalu diganggu oleh setan cilik itu.” Gerald merengkuh tubuh Cathleen dari belakang.
__ADS_1
Keduanya jarang sekali bisa memiliki moment berdua, pasti diganggu terus oleh Faydor dan Galtero. Selagi ada kesempatan, maka Gerald tak akan lewatkan. Lagi pula, ia sangat merindukan aroma tubuh sang istri saat tak ada jarak ataupun sekat diantara keduanya.
Cathleen diam saja, tidak memberontak lagi. Sebab, Gerald memang memeluk, tidak melakukan yang lain. Justru jemarinya mengusap lembut permukaan tangan yang melingkar di perut. “Apa anggota Cosa Nostra masih belum menemukan Edbert?”
“Belum, kemungkinan selamat mungkin sangatlah kecil, sudah dua tahun ini kita tak berhenti mencari.”
Cathleen menghela napas pelan. “Dia tidak memiliki saudara satu pun, setidaknya kalau memang telah tiada, aku ingin mengubur sebagaimana mestinya di dekat makam keluarganya.”
Gerald merubah posisi Cathleen supaya menghadap ke arahnya. Keduanya bisa saling bersitatap. Jemari berotot itu mengusap pipi mulus sang istri tercinta. “Aku akan terus berusaha mencarinya sampai ketemu. Entah dalam kondisi hidup ataupun mati.”
Mata Cathleen selalu berkaca-kaca ketika teringat Edbert. Gerald tidak pernah cemburu juga, memaklumi karena memang pria itu berjasa bagi mereka.
Gerald membenamkan kepala Cathleen ke dada bidangnya. Menepuk pelan supaya wanita itu tidak menangis. Lumayan lama keduanya saling memeluk dan terdiam, sampai ada sebuah suara yang masuk ke gendang telinga.
“Sepertinya milikmu, karena ponselku silent,” jawab Gerald.
Cathleen mengurai pelukan suaminya. “Aku angkat sebentar.”
Terlepas dari rengkuhan, Cathleen mengambil ponselnya yang ada di atas meja makan. Dia tidak langsung mengangkat, tapi kembali ke sofa, duduk di samping suaminya.
“Siapa yang menelepon?” tanya Gerald.
Cathleen menggelengkan kepala karena tak tahu juga. “Nomor tak dikenal, aku belum menyimpan.” Dia menunjukkan layar ke arah sang suami.
__ADS_1
Gerald melihat kode negara dari penelepon tersebut. “New York?”
Mendengar kota itu, Cathleen otomatis langsung mengangkat telepon. Berharap kalau Edbert yang menghubungi karena pria itu berasal dari salah satu kota di Amerika.
“Halo?” sapa Cathleen dengan dada berdebar dan harap-harap cemas.
“Cath?” panggil seorang pria dengan suara sangat dikenal.
“Edbert?”
“Ya, ini aku. Kau tidak perlu mencariku lagi, cukup tahu saja kalau aku masih hidup. Bangunlah keluarga bahagiamu.”
“Ed, kau ada di mana sekarang?”
Tapi, Cathleen tidak mendapatkan jawaban. Panggilan itu sudah terputus. Dan disaat dia hendak menelepon nomor tersebut, sudah tak aktif lagi.
Dua bola mata Cathleen berkaca-kaca menatap ke arah Gerald. Ada perasaan lega saat mengetahui kalau Edbert masih hidup.
“Edbert yang menelepon aku,” beri tahu Cathleen.
“Ya, aku dengar.” Gerald memeluk wanita itu lagi yang nampaknya sedang menangis penuh rasa syukur.
Dua tahun terakhir Cathleen memang sudah hidup bahagia bersama Gerald dan kedua jagoan kecilnya. Namun, sekarang ia bertambah senang ketika tahu bahwa mantan kekasihnya masih menghirup udara di dunia.
__ADS_1
...-TAMAT-...