Trap Mr. Coldhearted

Trap Mr. Coldhearted
Part 141


__ADS_3

Cathleen menelan saliva, terasa berat sekali untuk sekedar membasahi tenggorokan yang kering. Bisikan dari Gerald seolah membuatnya mematung karena sebuah rasa takut mendadak muncul. Ia tahu persiapan diri seperti apa yang dimaksud.


“Bagaimana? Kau siap atau tidak?” Suara bisikan Gerald kembali masuk ke dalam gendang telinga Cathleen.


Membuat lamunan wanita manis itu memudar dan terganti menjawab dengan sebuah anggukan lemas.


“Good wife.” Gerald tersenyum seraya mengacak-acak rambut Cathleen dengan penuh kelembutan. “Sekarang kau istirahat dulu, bersihkan tubuhmu, setelah itu kita keluar melihat aurora.”


“Ba—ik.” Cathleen sampai gugup. Ia takut kalau ketahuan masih tersegel rapat dan belum pernah disentuh oleh siapapun. “Aku ke kamar dulu,” pamitnya seraya menunjuk sebuah pintu yang dimaksud. Padahal ia asal tebak saja itu ruangan untuk istirahat.


“Bukan di sana.” Namun, Gerald memindahkan arah tunjuk Cathleen ke pintu yang lain. “Tapi di situ tempat kita tidur.”


“Oh, oke, aku mau mandi dulu.” Orang gugup ada saja alasan yang dilontarkan oleh Cathleen. Ia buru-buru menjauh dari Gerald sebelum terlihat jelas kalau sedang menyembunyikan sesuatu.

__ADS_1


Cathleen membuka pintu hingga menimbulkan suara, ia segera masuk ke dalam dan menguncinya agar Gerald tak bisa masuk. Duduk di tepi ranjang, jempol dengan kuku lentik itu digigit karena terlalu takut ketahuan kalau ia pernah menjebak dan melakukan sebuah settingan supaya bisa dinikahi oleh suaminya sekarang.


“Bagaimana ini? Kalau Gerald tahu, pasti dia akan marah dan kecewa,” ucap Cathleen. Ah ... seharusnya diajak melihat aurora akan membuatnya senang, tapi justru keresahan menyelimuti diri dan pikirannya saat ini.


Duduk tak membuat Cathleen tenang, akhirnya dia berdiri dan berjalan mondar mandir untuk memikirkan cara menghindari Gerald yang ingin meminta hak sebagai suami.


“Alceena, pasti dia bisa membantuku mencari jalan keluar,” ucap Cathleen. Ia pun meraih tas, mencari ponsel untuk menghubungi kembarannya yang jauh di Helsinki. Tak ada yang tahu rencana awalnya menjebak Gerald kecuali wanita yang saat ini sedang berusaha ia telepon.


“Cath? Kenapa pintunya dikunci?” Namun, suara Gerald diiringi bunyi ketukan pintu membuat Cathleen terkejut dan reflek menyentuh layar tepat di logo bulat berwarna merah.


“Tidak perlu dikunci, aku tak akan mengganggu. Buka! Bagaimana jika terjadi sesuatu denganmu? Akan sulit aku menolong jika pintunya dikunci dari dalam.”


“Tidak, aku berjanji akan baik-baik saja.”

__ADS_1


“Baiklah, teriak saja kalau kau butuh bantuan.” Gerald pun memilih menjauhkan diri dari pintu. “Mungkin dia butuh waktu sendiri untuk mempersiapkan diri,” gumamnya.


Gerald menghidupkan perapian untuk menghangatkan tubuh. Sedangkan Cathleen masih saja berusaha menghubungi Alceena.


Sudah tiga kali panggilan, tapi tak kunjung diangkat juga. “Ke mana kau Alceena? Aku sedang membutuhkan bentuanmu,” ucapnya sangat lirih.


“Mungkin dia sedang sibuk mengurus anak-anaknya.” Cathleen mencoba berpikir positif saja. Ia pun meletakkan ponsel ke atas ranjang, dan masuk ke dalam kamar mandi.


“Semoga air hangat membuatku lebih relax dan bisa berpikir agar Gerald tak marah padaku.” Cathleen menghidupkan shower hingga dari ujung kepala sampai kaki basah. Ia sedang membersihkan pikiran dari hal-hal yang membuat risau.


Lima belas menit, rasanya mandi air hangat menjadi tak enak ketika ada hal yang mengganjal di pikiran. Cathleen pun menyudahi membersihkan diri, ia keluar dengan bathrobe yang menutupi tubuh polos dan handuk melilit di atas kepala.


Tepat sekali satu langkah Cathleen keluar dari kamar mandi, ponselnya berbunyi. Segera kaki itu membawa untuk mendekat, membaca nama sang penelepon. “Alceena.”

__ADS_1


...*****...


...Ngerepotin orang aja lu Cath! Situ yang cari masalah, orang lain yang dibikin pusing. Jangan mau Ceen kalo dimintain bantuan. Biarin aja dia ketauan...


__ADS_2