
Selepas mengantarkan Cathleen sampai di kantor dengan selamat, Gerald meninggalkan wanitanya. Dia juga memiliki pekerjaan yang harus diselesaikan. Tapi, sebelum pulang ke apartemen, pria itu berbelok sebentar ke coffee shop, ingin membeli kopi untuk teman bekerja.
Tanpa Gerald sadari, sejak ia keluar dari apartemen, ada mobil yang terus mengikuti. Tak lain adalah Edbert. Pria dengan obsesi yang begitu tinggi ingin memiliki Cathleen kembali itu memastikan kondisi aman dan tepat untuk melancarkan rencana.
Edbert tidak ikut masuk ke dalam coffee shop, dia menunggu Gerald keluar. Saat orang yang ditunggu menampakkan batang hidung, barulah turun dari mobil dan menghadang Gerald supaya tak masuk ke dalam kendaraan.
Edbert langsung mendapatkan pelototan dari Gerald. “Menyingkir kau dari mobilku!” usirnya dengan suara yang terlontar sangat dingin.
“Tidak, aku ingin berbicara sesuatu denganmu, ini sangat penting.” Edbert tetap berdiri tegak di depan Gerald.
“Ku beri waktu lima menit.”
__ADS_1
“Aku tak butuh lima menit, cukup empat menit tiga puluh detik.” Edbert segera mengeluarkan ponsel yang sudah berisi salinan rekaman CCTV. Ia menyodorkan benda itu ke rivalnya. “Lihat dan dengarkan itu!”
Gerald menatap ponsel yang ada di depan dadanya. Terlihat jika ada sebuah video berisi Cathleen dan Alceena. “Kau itu bodoh atau bagaimana? Jelas suaranya akan kalah dengan bunyi kendaraan yang berlalu lalang.” Dia enggan memegang benda tersebut.
“Pakai ini.” Edbert mengeluarkan airpods, menyambungkan dengan ponselnya. “Dengarkan menggunakan ini.” Ia langsung memakaikan satu ke telinga Gerald.
Edbert memegang ponsel, mengarahkan layar ke wajah sang rival, memutar video tersebut. “Dengarkan dengan jelas apa yang mereka bicarakan.”
Gerald mendengarkan dan melihat interaksi antara istri dan iparnya. Dia tahu di mana video itu diambil, ruang kerja Cathleen. Tiba-tiba tangannya terkepal erat saat mendengar penjelasan dari Cathleen.
Perasaan Gerald saat ini sangat tak keruan. Merasa dibohongi, dan ia sangat benci hal itu. Kopi dalam cup yang baru saja dibeli menjadi sasaran amarahnya. Langsung dia minum dalam satu kali tegukan. Meremas sampah tersebut, dan membuang ke sembarang arah di dalam mobil.
__ADS_1
Gerald menghidupkan kendaraan tersebut, menginjak pedal gas sedalam mungkin hingga melaju secepat kilat. Dia tak jadi pulang ke apartemen untuk menyelesaikan pekerjaan, tapi kembali ke arah perusahaan Cathleen. Gerald ingin mendengar secara langsung penjelasan dari istrinya.
“Hei! Ponselku!” teriak Edbert saat Gerald sudah menjauh. Rivalnya main pergi dengan membawa barang miliknya. Tapi saat mengingat bagaimana respon Gerald, ia tak jadi marah-marah. “Ambillah sebagai kenang-kenangan, untung bukan ponsel yang ku pakai sehari-hari.”
Edbert kembali ke mobil dengan raut wajah puas, gembira, lega. Menggambarkan rencana pertama berjalan sesuai harapannya.
“Padahal aku belum selesai memberi tahu tentang Chloe, sudah kabur saja pria itu,” ucap Edbert seraya menyandarkan kepala. “Baiklah, hari ini cukup memberikan pemanasan saja, selanjutnya akan ku perlihatkan yang lebih spektakuler lagi.”
“Tuan, kita pergi ke mana lagi?” tanya Bene yang sejak tadi menunggu perintah dari atasannya, tapi justru melihat wajah gila Edbert yang senyum-senyum sendirian padahal tak ada yang lucu.
“Ikuti saja mobil Gerald!” titah Edbert.
__ADS_1
...*****...
...Mood banget dah nulis si Eed yang gila wkwkwk saya senang merusak hubungan orang hahahaha...