
Selama satu bulan ini Gerald tidak bisa bertemu Cathleen. Dia merindukan istrinya, tapi selalu saja tidak bisa bertatap mata secara langsung karena Cathleen seperti sengaja menghindar. Bahkan ditelepon pun tak pernah diangkat. Benar-benar membuat Gerald gila menahan rindu yang menggebu-gebu.
Gerald juga jadi tak bisa fokus ketika bekerja dan merawat Chloe. Ya, pria itu tidak berhenti menjaga kekasihnya selama wanita itu masih bernapas di dunia. Rasa bersalah membuatnya merasa harus bertanggung jawab atas keselamatan hidup Chloe. Padahal pikiran dan hatinya sudah dipenuhi oleh Cathleen.
Hanya saja Gerald tidak berada di sisi mantan kekasihnya dari pagi sampai malam lagi. Sekarang dia merawat ketika orang tua Chloe tidak bisa menjaga saja.
Hari ini Gerald tidak ada niatan untuk ke rumah sakit. Sebab, sidang perceraiannya akan berlangsung tiga puluh menit lagi. Sekarang pria itu justru tengah berganti pakaian. Dia akan datang dan menggagalkan rencana Cathleen supaya tak jadi berpisah dengannya.
“Apa yang sudah menjadi milikku, pasti akan kembali padaku,” gumam Gerald pada pantulan dirinya di cermin. Tubuhnya sudah terbalut oleh jas yang sangat rapi, badannya wangi. Tenang saja, kali ini dia mandi karena tak sabar ingin bertemu dan bertatap muka dengan wanitanya.
Tangan kekar Gerald menyambar kunci mobil. Dia mengayunkan kaki keluar apartemen dengan wajah berseri. “Pasti Cathleen akan terkejut dengan kedatanganku.” Tentu saja, karena istrinya tidak tahu kalau ia akan datang ke sidang untuk memutuskan hasil akhir proses perceraian mereka.
Gerald melajukan kendaraan roda empatnya dengan sangat kencang supaya kedatangannya bisa pas sekali saat orang-orang sudah masuk ke dalam ruangan. Namun, ketika perjalanan yang ditempuh sudah tujuh puluh lima persen dari jarak semestinya, mendadak ponselnya berbunyi.
__ADS_1
Tanda menepi, Gerald memencet tombol hijau dan mengeraskan suara supaya ia bisa berkomunikasi dengan penelepon tanpa harus memegang benda tersebut. “Ya?”
“Gerald?” Suara Tuan Eleanor, orang tua Chloe terdengar sangat panik.
Membuat Gerald menurunkan kecepatakan karena terfokus pada intonasi yang baru saja didengar. “Ada apa? Kenapa kau seperti orang ketakutan?”
“Chloe.”
Kendaraan roda empat itu sengaja ditepikan. “Apa yang terjadi dengan Chloe? Coba kau katakan padaku dengan pelan-pelan, jangan panik.”
“What?” Gerald menjambak rambutnya setelah memekik akibat rasa terkejut. Dia harus datang ke persidangan untuk menggagalkan perceraian, tapi juga perasaan bersalah menyelimuti dirinya setelah tahu kondisi Chloe drop karena merindukannya yang tak kunjung datang.
“Shitt!” umpat Gerald. Kenapa semua harus terjadi pada waktu yang sama. Membuatnya pusing karena dia tidak ingin melewatkan kedua moment tersebut. Gerald mau membatalkan perceraian tapi juga ingin ada di saat-saat terakhir Chloe sebelum meninggal. “Aku akan segera ke sana.” Akhirnya, dia mematikan panggilan itu.
__ADS_1
Gerald memutar balikkan arah kendaraan menuju rumah sakit. Pengadilan negeri dan tempat di rawat Chloe berbeda arah.
Gerald berusaha menghubungi Geraldine, satu-satunya keluarga yang masih mau membantunya walaupun dia harus selalu mendengarkan omelan terlebih dahulu.
“Apa?” Panggilan itu langsung disapa dengan suara ketus.
“Tolong kau ke pengadilan, bantu aku supaya sidang perceraianku diundur, aku baru bisa datang terlambat beberapa menit,” pinta Gerald.
“Aku sudah di sini sejak tadi, memangnya kau mau ke mana?”
“Chloe kejang, jadi aku harus putar arah ke sana.”
“Fuckk!” Geraldine membalas dengan umpatan yang terdengar sangat kesal. “Secara tak kau sadari, Chloe membuatmu jauh dari orang-orang disekitarmu.” Dia memutuskan panggilan itu secara sepihak.
__ADS_1
...*****...
...Ya ampun Ge, itu kesempatan terakhir loh, bisa-bisanya lu ya puter balik. Udah ku kasih waktu buat memperbaiki semuanya. Tapi kok ah elah sebal. Edisi darah tinggi mulu akibat kelakuan Gege si manusia seenak jidat...