
“Urungkan niatmu itu jika kau meminta izin hanya karena anak yang ada di dalam kandungan putriku. Aku tidak akan memisahkan kalian karena memang darahmu ada pada calon cucuku. Silahkan temui mereka, tapi tidak dengan tinggal bersama,” tegas Papa Danzel. Hatinya belum tersentuh dengan alasan yang diberikan oleh Gerald. Dia belum melihat kesungguhan dan ketulusan dari pria itu.
Mereka tidak terkejut kalau Gerald sudah tahu tentang anak yang dikandung Cathleen. Justru bagus kalau pria itu bisa mengetahui dan sadar tanpa diberi tahu.
Gerald tidak tinggal diam atas penolakan tersebut. Ia tetap berusaha ingin mendapatkan izin. Dirinya sudah memutuskan untuk kalah di dalam permainan kehidupannya. “Lantas, apa yang perlu ku lakukan supaya kalian yakin kalau aku sungguh mencintai dan peduli dengan Cathleen? Ini bukan sekedar alasan anak, meskipun mereka adalah sebuah kesatuan yang tidak bisa dipisahkan.”
Daripada pusing memikirkan alasan apa lagi yang bisa diterima oleh Tuan Pattinson, lebih baik bertanya saja dengan pria paruh baya itu. Siapa tahu akan ada jalan keluar.
Papa Danzel nampak terdiam, mengusap dagu menggunakan telunjuknya seakan menunjukkan kalau saat ini sedang berpikir. Tapi memang seperti itu kenyataannya. Ia sedang menimbang ingin menguji Gerald dengan cara apa? Tidak mungkin memberikan syarat seperti menantunya Dariush karena tak mau kejadian naas pada saat itu terulang lagi.
__ADS_1
“Apa yang tidak bisa kau lakukan?” Akhirnya Papa Danzel mengajukan pertanyaan balik.
“Tidak ada, ku rasa bisa melakukan semua hal.” Gerald juga bingung kalau ditanya seperti itu. Hidupnya terlalu lurus sehingga dia hanya tahu segala hal yang merupakan keahliannya.
“Kau yakin? Tidak ada manusia yang terlahir dengan bakat sempurna, pasti memiliki kekurangan walaupun hanya satu.” Papa Danzel tidak percaya dengan jawaban mantan menantunya.
Gerald terdiam, sedang mencerna dan memikirkan di dalam otak, memilah memori mana yang dirasa belum pernah dilakukan seumur hidup. Pasti itu adalah kekurangan dan tidak bisa dia lakukan karena belum pernah mencoba walaupun hanya satu kali.
Seketika itu Papa Danzel langsung mendapatkan ide. “Aku tahu ini tak ada hubungannya dengan Cathleen maupun anak-anak kalian. Tapi, aku hanya ingin melihat kesungguhanmu. Panjatlah pohon paling tinggi di mansionku, maka akan ku izinkan kau tinggal bersama putriku.”
__ADS_1
“Oke.” Gerald tidak menolak, dia tak tahu apakah bisa melakukan tantangan tersebut atau tidak. Tapi, coba saja terlebih dahulu. Kalau gagal pun bisa diulang lagi sampai berhasil.
Papa Danzel bisa menilai dari jawaban Gerald yang tak ada unsur keraguan sedikit saja. Ia yakin kalau pria itu memang serius dengan putrinya. Hanya saja setelah diusut secara diam-diam, dia tahu kalau mantan menantunya masih sering menemui seorang wanita yang sedang dirawat di rumah sakit. Sehingga, rasanya belum rela melepaskan Cathleen untuk Gerald lagi.
“Baiklah, ikut denganku.” Papa Danzel berdiri, diikuti oleh Gerald, Mama Gwen, dan Cathleen.
Mereka berempat mengayunkan kaki keluar bangunan utama untuk menuju taman yang ada di ujung mansion. Di sana ada pohon tinggi yang sudah hidup puluhan tahun.
“Tolong siapkan trampolin atau matras.” Saat bertemu pelayan mansion, Papa Danzel memberikan perintah pada salah satu karyawannya. Ia tak mau mencelakai Gerald sehingga akan mengamankan tanah, berjaga-jaga kalau pria itu terjatuh karena tak mahir memanjat pohon.
__ADS_1
...*****...
...Si Gege mah ahlinya manjat bininya Pa, tapi sayang dah gapunya bini wkwkwk cian deh lo duda, jomblo pula hahaha...