Trap Mr. Coldhearted

Trap Mr. Coldhearted
Part 40


__ADS_3

Dalam tujuh menit Cathleen menandaskan sarapan, ia mengakhiri dengan minum air putih. Biasanya selalu susu setelah makan, tapi di kulkas Gerald tidak ada, justru lebih banyak minuman beralkohol di lemari pendingin itu.


Cathleen masuk ke dalam kamar di mana ia istirahat, mengambil tasnya. Sebelum berangkat ke kantor, ia akan berpamitan terlebih dahulu sekaligus meminta kunci supaya bisa mengakses lift dan tidak perlu menunggu Gerald seperti semalam.


Untuk yang kesekian kali, Cathleen masuk ke dalam ruangan kecintaan Gerald, tanpa permisi. Kali ini ia berjongkok hingga kepalanya sejajar dengan wajah sang suami yang masih terlelap.


Sesaat Cathleen memandangi suaminya itu. Dan tidak terasa bibir mengulas senyum karena wajah Gerald nampak damai ketika mata terpejam, lain hal saat pria itu bangun.


Tanpa rasa takut, Cathleen menoel lengan pria berhati dingin itu. “Ge?” panggilnya dengan suara lirih.


“Hm?” Gerald tetap tidak membuka mata.


“Aku akan berangkat kerja,” pamit Cathleen.


“Berangkat saja, untuk apa kau menggangguku!” seru Gerald dengan suara paraunya.

__ADS_1


“Aku ingin meminta kunci apartemenmu, boleh?”


“Ck! Ambil saja yang ada di dekat pintu, hanya seperti itu kau mengganggu tidurku.” gerutu Gerald. Ia memutar tubuh hingga membelakangi Cathleen.


“Takutnya kau marah kalau aku mengambil kunci secara lancang dan tak izin denganmu,” jelas Cathleen. Perlahan ia berdiri dan terdiam sejenak supaya aliran darah kembali normal terlebih dahulu setelah beberapa menit berjongkok.


Tidak mendapatkan tanggapan dari Gerald, Cathleen pun menuju ke arah pintu. Ia sudah memegang handle untuk menutup. “Di meja makan ada sandwich untuk sarapan. Jangan lupa dimakan, oke?” beritahunya sebelum mengayunkan kayu kokoh itu ke arahnya.


Cathleen pun sungguh mengambil kunci berupa kartu yang ada di tembok dekat pintu masuk. Sebelum meninggalkan unit apartemen milik pria berhati dingin itu, matanya melihat nomor yang tertempel di sana. Mengingat tempat tinggal Gerald supaya ia bisa pulang ke sana tanpa tersesat.


Untuk sekarang, Cathleen ingin naik transportasi umum saja. Dia harus menyiapkan nyali untuk mengendarai mobil sendiri karena sudah bertahun-tahun tak memegang stir kemudi.


Kendaraan yang dinanti pun datang juga. Cathleen memberitahukan lokasi perusahaannya. Dan dia pun berangkat ke kantor seperti wanita lajang yang bebas tak memiliki pasangan.


Cathleen merasa hidupnya yang dahulu mulai kembali. Kebebasan tanpa kekangan siapapun. Melakukan apa saja sesuai keinginannya dan tak ada yang membatasi atau mengawasi seperti saat bersama Edbert.

__ADS_1


Sepanjang perjalanan, Cathleen terus mengulas senyum bahagia. Rasanya udara yang dihirup sangat segar. Tak terasa taksi itu pun sampai juga di perusahaan miliknya.


“Terima kasih, suah ku bayar dengan uang digital, ya?” Cathleen berucap untuk memastikan kembali pembayarannya sudah diterima atau belum.


“Sudah, Nona.”


Cathleen pun memijakkan kaki di lantai perusahaannya. Hari ini ia bekerja seperti biasa, tidak ada aura pengantin baru yang terpancar dari dirinya.


Detik demi detik, menit demi menit, dan tiga jam pun sudah terlewati. Jika Cathleen sedang fokus bekerja di ruangannya, lain hal dengan Alceena—saudari kembarnya.


Kabar tentang pernikahan Gerald dan Cathleen pun sudah sampai di telinga Alceena. Wanita itu segera menemui kembarannya untuk menanyakan hal tersebut karena merasa ada sesuatu yang tak beres.


“Di mana Cathleen?” tanya Alceena pada Liliana—sekretaris Cathleen yang tak sengaja berpapasan di lobby. Ia datang tanpa pemberitahuan terlebih dahulu.


...*****...

__ADS_1


...Ceena, balikin Ayang DarDarku! Kalo enggak, ku siksa adikmu itu!...


__ADS_2