Trap Mr. Coldhearted

Trap Mr. Coldhearted
Part 120


__ADS_3

Cathleen tak bisa membendung air mata. Sepanjang langkah kaki menuju mobil, dia terus menunduk agar kesedihan tak disaksikan oleh orang lain. Dia segera masuk ke dalam kendaraan pribadinya.


Wanita itu tak langsung menghidupkan mesin, tapi semakin menangis dengan mengeluarkan isakan. “Kenapa harus dirubah seperti orang lain? Apakah wujudku sangat buruk? Sampai suami sendiri membuatku berpenampilan layaknya mendiang kekasihnya?”


Kedua tangan Cathleen disilangkan pada stir kemudi, kepalanya berangsur menunduk hingga dahi bersentuhan pada lengan. “Sakit, mungkin ini akibat aku terlalu memaksakan kehendak untuk keluar dari penjara Edbert.”


Rutukan demi rutukan terus terlontar dari bibir Cathleen. Dia menyalahkan diri sendiri. Maju menjalani hubungan dengan Gerald membuatnya pedih karena pria itu masih terbayang masa lalu. Mundur pun pasti akan ditangkap kembali oleh Edbert.


“Sayang?” Gerald langsung menyusul sang istri saat Cathleen menunjukkan gelagat aneh. Dia tidak enak membiarkan Cathleen berangkat mengendarai mobil sendiri.


Ketukan di jendela membuat Cathleen segera mengusap air mata. Dia menurunkan sedikit kaca, tapi tetap menutupi wajah menggunakan rambut agar Gerald tak melihat wajah kacaunya. “Hm?”


“Buka pintunya, aku akan mengantarmu.” Meskipun celah kaca yang diberikan oleh Cathleen sangat kecil, bahkan kepala saja tak akan bisa masuk, tapi Gerald tetap berusaha untuk meminta sang istri agar turun.

__ADS_1


“Maaf, aku ingin berangkat sendiri.” Cathleen segera menghidupkan mesin. “Tolong singkirkan tanganmu karena kaca akan ku tutup,” titahnya dengan suara parau.


“Tidak, aku tahu kalau kau sedang tak baik-baik saja,” tolak Gerald.


Karena suaminya tak ingin menyingkirkan tangan, Cathleen pun langsung menginjak pedal gas secara perlahan. Mengeluarkan mobil dari jajaran kendaraan lain yang sedang terparkir di sana.


“Sayang, kalau kau sedang ada masalah, katakan padaku.” Gerald berbicara seraya sedikit berlari agar bisa menyamakan laju mobil sang istri yang belum terlalu kencang.


Setelah mengucapkan keluhan tersebut, Cathleen langsung menaikkan kecepatan. Meninggalkan Gerald di basement.


Ada perasaan lega sudah memberitahukan tentang apa yang dirasakan pada orang yang bersangkutan. Tapi, tetap tak membuat air mata menjadi kering. Justru sepanjang perjalanan, Cathleen terus berusaha mengusap jejak basah yang mengalir tiada henti.


Wanita itu melajukan kendaraan menuju perusahaan. Awalnya ingin pulang, tapi diurungkan karena suasana hati sedang tak baik-baik saja. Takut membuat orang tuanya kepikiran.

__ADS_1


Sesampainya di kantor, suasana masih sangat sepi, Cathleen adalah orang pertama yang memijakkan kaki di sana pada hari ini. Dia tidak memulai bekerja, melainkan berteriak sekencang mungkin.


“Aaa ... kenapa nasib cintaku tak pernah sesuai dengan keinginanku?” Cathleen berani meluapkan amarah ketika sendirian. Jika sudah ada orang lain, dia akan menutupi semua hal yang mengganjal dalam hati.


Secara tak disadari oleh Cathleen, tangisan penuh rasa frustasi dan kekecewaan itu sedang ditonton oleh Edbert.


Edbert, pria itu tak sengaja membuka aplikasi yang tersambung dengan CCTV di ruang kerja Cathleen. Tapi ternyata, justru membuatnya meremas ponsel karena melihat wajah sedih wanita pujaan hatinya.


“Sudah benar kau bersamaku, tak akan ku biarkan kau menangis seperti itu.” Edbert segera mengganti pakaian. Dia sudah tak sabar lagi, awalnya berusaha ingin menjalankan rencana secara pelan namun pasti. Tapi, melihat Cathleen yang sedih, tentu membuat dirinya seperti ditampar seribu kali karena merasa tak bisa menjaga wanitanya.


...*****...


...Waduhhh pasti si Kucing merasa sok cantik nih dikelilingi dua cogan, tapi sayangnya sakit jiwa semua wkwkwkwk cian deh lo Cing...

__ADS_1


__ADS_2