
“Apa kau baik-baik saja?” tanya Gerald seraya menyentuh kedua lengan Cathleen.
Kepala Cathleen mengangguk. Ia berusaha menghilangkan kegugupan yang sempat melanda hati dan pikiran. “I’m totally ok.”
“Lalu, kenapa lama sekali? Dan aku mendengar kau berbicara dengan seseorang, siapa?” Gerlad mulai ingin tahu dan menginterogasi.
“Alceena tadi meneleponku,” jawab Cathleen seraya mengusap rahang tegas suami, tak lupa senyum manis juga perlu ditunjukkan agar Gerald tak berpikiran yang aneh-aneh.
Meskipun sudah dijelaskan, namun Gerald tetap melihat penampilan Cathleen dari atas sampai bawah untuk memastikan kondisi sang istri baik-baik saja. Setiap inchi tubuh tak luput dari penglihatannya yang tajam. Mulai wajah cantik yang nampak manis, leher putih dan mulus, tapi tak sampai ke bawah sudah berakhir pada bibir berisi berwarna pink yang membuat dirinya ingin mencium sang istri saat itu juga karena terlalu menggoda, atau mungkin akibat dari dirinya yang telah lama menahan keinginan akan bercinta.
Sampai tak sadar kepala Gerald mulai merendah dan mensejajarkan dengan wajah Cathleen. Perlahan ia mendekatkan bibir, lalu mencium sang istri tanpa izin maupun aba-aba.
Kedua bola mata Cathleen sampai membulat karena terkejut. ‘Apakah Gerald ingin mengajakku bercinta detik ini juga?’
__ADS_1
Karena belum siap mendapatkan serangan dini, Cathleen sampai tak membalas ciuman Gerald. Ia terkesan kaku, walaupun dada sudah berdendang sejak awal.
Gerald menarik mundur kepala. Wajahnya terkesan datar dengan sorot mata tertuju pada Cathleen yang masih mematung dan tak berkedip sedikitpun. “Aku seperti mencium sebuah manekin.” Ucapannya mengandung sebuah sindirian yang menandakan kalau dia tidak suka. Tergambar jelas dari mimik wajah yang tidak tersenyum sedikit pun.
“Maaf, aku terlalu terkejut, kau tak memberitahu jika ingin menciumku.” Cathleen menunduk, menunjukkan betapa ia menyesal sudah membuat suasana hati sang suami menjadi buruk.
“Sudahlah, mungkin aku yang terlalu terburu-buru.” Gerald tak marah, hanya sedikit kecewa, ia justru menengadahkan tangan ke depan dada Cathleen. “Mau lihat aurora sekarang?” ajaknya.
Dijawab anggukan kepala oleh Cathleen. “Boleh.” Tangannya membalas gandengan Gerald.
Gerald melepaskan gandengan untuk mengambilkan jaket tebal dengan bulu-bulu lebat berwarna abu-abu. Ia memakaikan itu ke tubuh Cathleen. “Supaya kita nyaman saat menikmati pemandangan indah malam ini.” Dia juga sama mengenakan bahan yang tebal.
“Aku sangat bersyukur memiliki suami yang pengertian dan perhatian seperti dirimu,” puji Cathleen. Ia menyandarkan kepala di lengan Gerald seraya kaki terayun ke luar penginapan.
__ADS_1
Gerald cukup tersenyum dan mengusap puncak kepala Cathleen dengan tangan satunya yang leluasa bergerak. Ia tidak membalas menggunakan kata-kata pujian.
Kedua pasang kaki itu terus menyusuri hamparan salju yang menutupi tanah. Menuju ke arah cahaya berwarna indah yang ada di langit.
“Kita melihat dari sini saja, oke?” ajak Gerald seraya menghentikan langkah kaki.
“Posisi yang sangat sempurna, aku bisa melihat semua dari sini,” ucap Cathleen. Wajahnya terlihat berbinar, akhirnya bisa menyaksikan aurora lagi.
“Apa kau merasa malam ini udara lebih dingin dari biasanya?” tanya Gerald dengan pandangan mata sedikit mendongak ke langit.
“Ya, mungkin karena ini lingkungan terbuka,” jawab Cathleen. Dia memang merasakan kalau suhu minus ingin menerobos masuk ke dalam celah pakaian hangatnya.
Tanpa berlama-lama, Gerald langsung merubah posisi yang awalnya di samping Cathleen, menjadi di belakang sang istri. Ia menyatukan kedua tangan dengan Cathleen, dan memeluk wanita itu agar lebih hangat. “Jangan terlalu lama melihat auroranya, aku ingin menghangatkan tubuh di dalam penginapan,” pintanya dengan suara berbisik yang sengaja dikeluarkan di dekat leher Cathleen agar napas hangat menyapu kulit.
__ADS_1
...*****...
...Serem euyyy mau nulis next part, takut kena tolak NT, bukan takut Gege marah sama si Kucing. Kalo Gege marah mah bodo amat, lah kalo bab kena tolak baru berabe...