
Cathleen terkejut dengan serangan bibir Gerald yang datang secara tiba-tiba, kedua bola mata bahkan sampai membulat sempurna. Seorang pria dingin yang ia tahu dan kenal kalau tak pernah bisa romantis, apa lagi di depan umum, kini berani menciumnya di lobby perusahaan. Aksi spontan itu sampai menjadi tontonan karyawan di sana.
Karena tidak segera dibalas oleh wanita itu, tangan Gerald sengaja menyentuh kepala Cathleen. Menahan supaya tidak menghindari. Dia akan melepaskan setelah mantan istrinya membalas.
Lidah Gerald berusaha bergoyang di dalam rongga, menghisap rasa yang sudah lama dirindukan. Sampai pada akhirnya, Cathleen pun mulai hanyut, membalas sebagaimana yang ia lakukan.
Itulah pertama kali Gerald dan Cathleen berani menunjukkan sentuhan fisik yang sangat dekat di depan umum. Bahkan disaksikan oleh Edbert.
Pria yang dahulu sangat tempramen itu merasakan nyeri di hati saat melihat ciuman antara rivalnya dan wanita yang sampai sekarang masih dicintai. Rasanya ingin memisahkan kedua manusia itu. Tapi, dia tak mau merenggut kebahagiaan Cathleen lagi. Edbert akan mencoba bahagia meskipun ada luka dan kecewa yang pasti tak mudah untuk pulih.
__ADS_1
Jika dahulu keingan tertinggi Edbert adalah memiliki Cathleen sepenuhnya, berbeda dengan sekarang. Saat ini ia hanya ingin melihat wanita itu hidup tenang, dicintai, dan bahagia. Sebab, jika ia terus memaksakan diri, akan ada dua anak yang ikut terluka karena tidak bisa dekat dengan orang tua kandung.
Lebih baik Edbert memilih untuk balik kanan, bubar, jalan ke arah mobilnya. Daripada menyaksikan hal yang menyakitkan, lebih baik ia berangkat ke lokasi proyek saja. Mendahului Gerald dan Cathleen yang masih belum menyudahi ciuman saat kakinya mulai menginjak pedal gas hingga keluar area perusahaan.
Cathleen mendorong dada bidang Gerald supaya pria itu menyudahi ciuman yang tak segera dihentikan. Bukan kehabisan napas, tapi ini ruang publik, malu juga. Walaupun tadi dirinya pun sempat terhanyut dan membalas. Jantung menjadi tidak aman, berdisko, melompat-lompat, dan sampai sekarang pria itu selalu mampu memporak porandakan perasaannya. Atau mungkin memang ia yang mudah jatuh cinta pada pesona seorang Gerald Gabriel Giorgio.
“Cukup, Ge, aku ingin bekerja,” ucap Cathleen seraya menyingkirkan tangan Gerald yang menahan kepalanya.
Cathleen tidak bisa menghindar, tangan Gerald merangkulnya dengan erat tapi tidak sakit. Sudahlah, lagi pula ia juga nyaman seperti itu.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan menuju lokasi proyek, Gerald sering menengok ke arah Cathleen yang terdiam dan melamun. Wanita itu terlihat menyentuh bibir hingga membuatnya tersenyum karena ciuman yang ia berikan berhasil membuat mantan istrinya terngiang oleh rasa yang pasti akan menjadi candu untuk keduanya.
“Kenapa dipegang terus bibirnya? Apa masih kurang? Aku bisa menepi dan menciummu sampai puas.” Gerald mengeluarkan suara maskulinnya. Tidak ada aksen yang terdengar dingin, justru kali ini ia sedang menggoda.
Cathleen segera menurunkan tangan. Dia tidak sadar mengusap bibir karena ciuman tadi seperti masih terasa sampai sekarang. “Tidak, aku hanya membersihkan jejak basah bekasmu.” Ia mengusap kasar hingga lipstik yang terpoles tipis ikut hilang.
Gerald terkikik geli, dia memang tak suka jika dibohongi, tapi kali ini pengecualian karena tahu kalau Cathleen pasti sedang malu. Tangan kekar pun mengacak-acak rambut mantan istrinya dengan gemas.
...*****...
__ADS_1
...Ya Tuhan ... tolong tendang janda dan duda itu ke Pluto, atiku remuk gaes...