Trap Mr. Coldhearted

Trap Mr. Coldhearted
Part 134


__ADS_3

Berkali-kali Gerald membujuk Cathleen, tapi tetap saja kepala wanita itu terus menggeleng sebagai pertanda penolakan.


“Hatiku masih sakit, Ge.” Cathleen memalingkan pandangan ke sembarang arah saat wajahnya sengaja didongakkan oleh sang suami. Dia menghindari kontak mata dengan Gerald karena sadar diri kalau lemah akan sorot yang meneduhkan.


Karena Cathleen tak mau menatapnya, Gerald pun membawa sang istri masuk ke dalam dekapan. “Jika kau tak mau pulang bersamaku, setidaknya jangan bersembunyi bersama pria lain. Kau boleh menghindariku, mendiamkanku saat di apartemen. Atau kau bisa pulang ke mansion keluargaku.” Tetap saja dia tak berhenti untuk membujuk.


Cathleen berusaha mendorong dada bidang Gerald, tapi tak bisa karena pria itu mematung seperti batu. “Biarkan aku di sini lebih lama,” pintanya dengan suara lirih penuh permohonan. Suasana yang sepi di sekitar danau tempatnya saat ini, membuat pikiran lebih relax.


“Jika kau terus kabur dan meninggalkanku, bagaimana bisa aku jatuh cinta padamu dan melupakan mendiang kekasihku?” tanya Gerald. Namun sesungguhnya mengandung sebuah sindiran kalau ia tak bisa mencintai seseorang dengan sendirinya dan tanpa alasan.


Cathleen mematung dan diam seribu bahasa. Mencerna setiap kalimat yang masuk ke dalam gendang telinganya.


Tangan Gerald berusaha memberikan kenyamanan, mengusap puncak kepala sang istri dengan sangat lembut. “Kau mau rumah tangga kita tetap utuh? Maka pulanglah, aku membutuhkanmu berada di sisiku. Aku berjanji tak akan merubah penampilanmu seperti Chloe, tidak membayangkanmu seperti mendiang kekasihku juga, dan aku berusaha semaksimal mungkin untuk mencintaimu sebagai Evanthe Cathleen Giorgio.”


“Pattinson, namaku belum berubah.” Cathleen menyanggah nama lengkapnya menggunakan suara yang sesegukan.


“Giorgio, kau istriku, secara negara sudah masuk menjadi bagian keluargaku.” Gerald melabuhkan sebuah kecupan ke puncak kepala Cathleen. Terlihat kalau dia adalah orang yang sabar menghadapi sifat kekanakan sang istri. “Pulang, ya? Tak masalah kalau kau mendiamkanku, asalkan kau tidak pergi bersama pria lain.”


Cathleen masih diam, belum memiliki jawaban atas permintaan sang suami. Ia sedang menimbang keputusan.


“Aku tak suka dibohongi atau dikhianati. Kali ini aku tak menilaimu berselingkuh dariku karena kau pergi pun atas kesalahanku. Tapi, saat aku sudah membujukmu pulang dan kau memilih tetap bersama pria lain, maka pemikiranku akan mulai berubah. Ku anggap kau berkhianat.” Memang suara penjelasan Gerald mengalun lembut, tapi setiap kalimat yang terucap mengandung sebuah peringatan yang tidak disukai dan bisa membuatnya kecewa.


Kepala Cathleen mengangguk, dia tidak mau dianggap selingkuh atau berkhianat. Walaupun niatnya pergi bersama Edbert untuk menenangkan hati, jiwa, dan pikiran.


“Good wife,” puji Gerald seraya mengacak-acak rambut Cathleen.

__ADS_1


Gerald menuntun sang istri untuk mendekati mobilnya. Ia membukakan pintu sebelah kanan agar Cathleen segera masuk ke dalam.


“Aku mau mengambil tas dan ponselku, juga berpamitan dengan Edbert agar dia tak mencariku,” tutur Cathleen. Ia menolak untuk masuk ke dalam kendaraan pribadi sang suami.


“Aku yang akan mengambilkan dan berpamitan dengan pria yang membawamu pergi dariku.” Gerald mulai menunjukkan sisi mengintimidasi karena Cathleen susah sekali menurut. Ia sedikit memaksa wanita itu supaya masuk ke dalam mobil, tapi ia tidak menggunakan kekerasan atau kasar.


Gerald segera menutup pintu dan mengunci menggunakan tombol yang ada di remot saat ini dia pegang. Sehingga Cathleen tak akan bisa keluar begitu saja.


Gerald meninggalkan Cathleen seorang diri di dalam mobil. Ia masuk ke dalam penginapan, manatap Edbert yang masih tertidur di sofa. “Terlalu lama tidur bisa membuatmu kehilangan kesempatan emas,” ejeknya. Lalu ia melanjutkan masuk ke dalam satu-satunya kamar yang ada di sana, mengambilkan tas dan juga ponsel milik istrinya.


Edbert masih tidur saat Gerald hendak keluar dari penginapan. Dia menarik sebelah sudut bibir dan berakhir dengan membanting pintu sekeras mungkin supaya menimbulkan bunyi yang mengganggu.


Gerald sengaja melakukan itu untuk memperlihatkan pada Edbert kalau ia berhasil membawa Cathleen kembali.


Benar saja, Edbert sangat terkejut kala mendengar suara pintu yang tertutup. Ia langsung mengerjapkan mata dan melihat kalau Gerald sedang menatap ke arahnya dengan bibir menyeringai.


“Shitt!” Edbert yang sadar kalau sedang diejek pun langsung mengumpat. “Gerald sialan! Kau membawa wanitaku pergi!” Ia geram sampai mengepalkan tangan.


Buru-buru Edbert keluar penginapan. Dia hendak membujuk Cathleen supaya tak mudah terpedaya oleh tipu muslihat Gerald. Tapi, sayang sekali, mobil Gerald sudah bergerak meninggalkan halaman.


“Awas, aku pasti akan mengambil Cathleen lagi. Dia ditakdirkan hanya untukku, sebanyak apa pun rintangannya, pasti akan ku dapatkan kembali.” Edbert berjanji dengan diri sendiri, ia sudah terlalu cinta dengan Cathleen hingga tak berniat untuk berpaling atau melihat wanita lain.


Jika Edbert masih menggerutu sendiri, berbeda dengan Gerald dan Cathleen yang masih saling diam di dalam mobil.


Cathleen tidak mau berbicara sedikit pun dengan Gerald. Sepanjang perjalanan, dia melamun, menatap ke arah luar.

__ADS_1


“Kita sudah masuk Helsinki, kau mau pulang ke apartemen kita atau mansion keluargaku?” tawar Gerald. Dia tidak memberikan pilihan ke mansion Pattinson karena mertuanya terlihat jelas kalau tak menyukai dirinya, dan bisa saja mengompori supaya hubungan dengan Cathleen semakin memanas.


Cathleen mengedikkan bahu tanpa mengeluarkan suara. Ia sendiri tak tahu mana tempat yang lebih nyaman untuk menata hati kalau pilihannya sama saja akan bertemu Gerald semua.


Gerald menghela napas, ia tetap berusaha sabar. Karena tak mendapatkan jawaban pasti, mobil pun melaju ke arah apartemen. Pertimbangan Gerald adalah semakin banyak memiliki waktu berdua, maka peluang kedekatan bisa bertambah banyak.


“Sudah sampa—” Belum juga Gerald selesai memberi tahu, Cathleen sudah turun terlebih dahulu.


Gerald paham kalau istrinya masih dongkol dan sakit hati, jadi ia berusaha untuk memahami situasi.


Gerald ikut turun. Ia membawakan tas Cathleen yang lupa tak dibawa oleh wanita itu. Berjalan di belakang sang istri. Gerald sungguh memberikan ruang untuk Cathleen mendiamkannya.


Tangan Cathleen memasukkan pin saat berhenti di depan unit apartemen Gerald. Ia langsung masuk dan duduk di sofa. “Malam ini aku tidur di sini. Hatiku belum kuat kalau kau masih membayangkan aku adalah Chloe.”


“Ada dua kamar, untuk apa kau tidur di sofa. Kalau ingin pisah ranjang, kau bisa istirahat di kamar kita, aku di ruang games,” balas Gerald. Ia membukakan pintu kamar supaya Cathleen istirahat di dalam.


Masih dengan wajah yang muram, Cathleen menatap ke arah suaminya. ‘Kenapa Gerald datar sekali,’ gumamnya dalam hati. Masih ada sesuatu yang mengganjal di dalam dirinya, belum mendengar kalimat maaf dari sang suami setelah kejadian saat kencan.


Cathleen pun mengayunkan kaki ke arah kamar. Tiba-tiba tangannya dicekal oleh Gerald. Pria itu memutar tubuhnya hingga saling berhadapan.


“Aku beri kau waktu satu minggu untuk menenangkan diri dan menata hati, setelah itu kita tetap tidur satu kamar.” Gerald melabuhkan kecupan di kening Cathleen, lalu memberikan tas wanita itu.


...*****...


...Halah Cath Cath, pantesan kamu tuh dulu jomblo dan cuma dimanfaatin terus sama cowo, ternyata sifatmu tuh terlalu menginginkan lelaki yang sempurna dan sesuai yang kau inginkan. Hadehhh bisa-bisa si Gege jenuh noh sama kamu yang kekanakan. Untung ya tu manusia Antartika sabar minta ampun, kalo si Gege kaya aku pasti udah ku tinggalin dah, bodo amat sama rajukan elu....

__ADS_1


...Ini 2 bab aku jadiin 1 ya bestie, jadi lebih panjang dan aku cuma update ini aja hehehe...


__ADS_2