Trap Mr. Coldhearted

Trap Mr. Coldhearted
Part 96


__ADS_3

Sejak tadi mata Gerald tak dialihkan dari sosok Cathleen. Kedua korneanya terus mengikuti kemanapun sang istri bergerak. Bahkan hanya terlihat bagian belakang tubuh pun tetap saja diperhatikan.


“Cath?” Akhirnya setelah empat bulan menikah, Gerald untuk pertama kalinya memanggil nama sang istri. Biasanya dia sangat pasif, hanya menjawab dan menanggapi ucapan dari Cathleen saja. Entah ada angin apa hingga pria itu mau memanggil istrinya.


“Ya?” Cathleen segera memutar tubuh sebanyak seratus delapan puluh derajat setelah meletakkan pakaian dan handuk kotor ke dalam keranjang cucian. “Kau membutuhkan bantuanku?” tanyanya kemudian. Dia tetap berdiri ditempat dengan wajah manis mengulas senyum.


“Boleh aku minta tolong?”


“Tentu saja.” Cathleen tentu saja sangat senang kalau dibutuhkan. Dia merasa dianggap ada di sisi sang suami jika seperti itu.


“Tolong keringkan rambutku seperti biasanya,” pinta Gerald dengan wajahnya yang masih minim ekspresi dan terkesan datar.


“Tunggu sebentar, aku ambil hairdryer.” Cathleen segera mendekati almari di mana ia menyimpan pakaian dan alat-alat yang dibawa. Dia sudah memindahkan semua barang bawaan ke dalam tempat penyimpanan supaya lebih rapi dan mudah mencari juga.

__ADS_1


Gerald mengulas senyum saat melihat Cathleen sangat antusias memenuhi permintaannya. Tapi wajahnya segera kembali datar kala sang istri berbalik badan ke arahnya dan mengayunkan kaki dengan membawa alat pengering rambut.


Cathleen mencolokkan pengering rambut itu ke sumber listrik, dia menghidupkan benda tersebut dan diarahkan ke rambut Gerald.


Cathleen dan Gerald tidak terlibat perbincangan sedikit pun. Posisi keduanya saling berhadapan di mana Cathleen tengah berdiri dan Gerald duduk.


Pandangan Gerald yang lurus langsung tertuju pada dada Cathleen, karena posisi ranjang yang lumayan tinggi ditambah tubuhnya juga tinggi.


“Kenapa hari ini pencariannya hanya sebentar? Biasanya sampai malam.” Untuk menghilangkan keheningan, Cathleen memulai sebuah pembicaraan.


Cathleen menghentikan pergerakan tangannya, mundur satu langkah supaya bisa melihat wajah suaminya apakah sedih atau tidak. Tapi, wajah Gerald sama saja, datar. Membuatnya sulit menilai suasana hati pria itu. “Are you ok?”


Gerald tidak langsung menjawab dengan kata-kata. Dia menarik tangan Cathleen hingga jarak semakin terkisis. Dan tiba-tiba kedua tangan Gerald sudah melingkar di tubuh istrinya dengan kepala disandarkan pada dada wanita itu.

__ADS_1


“Aku tak tahu. Seharusnya aku sedih, tapi aku tak bisa menangis. Tapi aku juga tak bahagia,” jawab Gerald. Matanya terpejam seolah sedang mencari ketenangan dari istrinya.


“Mungkin karena kau masih terkejut, jadi belum bisa memahami perasaanmu sendiri.” Tangan Cathleen sebelah kiri digunakan untuk menepuk punggung Gerald, sedangkan kanan mengelus rambut pendek yang belum kering total itu.


Cathleen senang, ini adalah pelukan pertama dari suaminya walaupun harus dilatar belakangi oleh sebuah peristiwa ditemukannya bukti nyata kekasih Gerald telah tiada. Tapi tak masalah baginya, asalkan bisa membantu meringankan beban pikiran Gerald.


“Menangis saja kalau kau ingin mengeluarkan air matamu. Aku tak akan melihat atau mengatakan pada keluargamu atas kesedihan yang kau rasakan. Jangan malu mengeluarkan ekspresi, aku istrimu,” tutur Cathleen.


Cathleen mencoba membujuk agar Gerald bisa mengeluarkan emosi kesedihan yang sepertinya menumpuk di dalam hati. Dia ingin mengurangi risiko suaminya depresi untuk kedua kali akibat tak bisa mengekspresikan semua yang sedang dirasakan.


...*****...


...Kaya gitu mau kamu sia-siakan Ge? Ckckck matamu kayanya abis ketetesan insto sebotol sampe gabisa melihat kebaikan si Kucing yang sok manis itu...

__ADS_1


...*****...


...Ya Allah Gustiiii gak tidur semaleman aku tu, gara-gara tetangga hajatan tapi tidak memikirkan kalo dia pun memiliki tetangga seorang manusia yang tidak semua bisa istirahat dalam suasana ramai. Berisik polllll, mana suara kenceng bener itu sound. Ya paham sih hajatan gak tiap hari, tapi gak gini juga konsepnya. Berasa ingin kembali ke Mars aja. Ini meresahkan sekali kawan, otakku sangat tidak bersahabat untuk berpikir dalam suasana berisik. Ah jadi curhat kan aku. Bayangkan saja kalian punya tetangga yang mode sound kenceng gak tau waktu, pasti kesel, mana nyanyi pun suaranya kaga bagus, masih mending kalo kaya Raisa atau Afgan, la ini macem curut kejepit...


__ADS_2