
Gerald sudah berada di dalam ruangan bersama Edbert dan tim Cosa Nostra. Mereka akan membahas rencana penyergapan Gretta si psikopat yang liciknya bukan main, pandai sekali bersembunyi. Tapi, setiap kejahatan pasti akan ada yang bisa melawan.
“Bagaimana? Apa kau sudah mendapatkan lokasi Gretta berada?” tanya Gerald pada Roxy.
Sejauh ini mereka memang nampak diam karena sedang mencari tempat tinggal Gretta selama di Helsinki. Wanita itu pasti sudah masuk wilayah Finlandia, bukan lagi di Italia karena kode negara yang menghubungi Edbert adalah plus tiga lima delapan.
“Sudah.” Roxy menghidupkan proyektor, menunjukkan sebuah peta dan titik merah. “Itu adalah rumah yang ditinggali Gretta selama satu bulan terakhir.”
Edbert melihat dengan seksama lokasi yang ditunjukkan. “Jadi, selama ini dia bersembunyi di sana.”
“Kita rancang segera rencana penyergapan, supaya cepat selesai ancaman terhadap kebahagiaan rumah tanggaku!” titah Gerald, nampak sudah muak sekali pria itu menghadapi Gretta.
“Tugasmu di sini saja, menjaga Cathleen, Faydor, dan Galtero. Biar aku dan tim yang lain pergi ke sana,” ucap Edbert. Harus ada yang tetap berjaga di sisi wanita itu supaya tetap aman.
__ADS_1
Gerald mengangguk setuju. Sedangkan Edbert, pria itu menatap ke arah Roxy. “Barang yang ku minta, apakah sudah kau siapkan?”
Roxy hanya menjawab dengan anggukan, justru berdiri untuk mengambil sebuah tas kecil, lalu kembali duduk. Ia meletakkan ke atas meja dan mendorong benda tersebut ke arah Edbert. “Sesuai permintaanmu, timku harus merakit dulu.”
Edbert menghadang tas tersebut supaya tak terlewat atau sampai jatuh ke bawah. Membuka untuk mengecek isi di dalamnya. Setelah dipastikan sesuai, ditutup kembali. “Semoga ini berhasil.”
Gerald tak tahu apa yang diminta Edbert dan baru saja diberikan oleh Roxy. Tapi, penasaran juga. “Apa itu?”
“Kau penasaran?” Edbert justru balik bertanya. Dan dijawab anggukan oleh Gerald.
“Tidak akan ku berikan, lebih baik aku tak tahu.”
Edbert tersenyum sekilas, Gerald pelit dan protektif juga rupanya. Tapi, pada akhirnya ia memberi tahu juga. “Bom.” Menunjukkan ke arah mantan rivalnya isi di dalam tas tersebut.
__ADS_1
“Kau mau membunuh Gretta?” tanya Gerald dengan kening mengernyit.
“Jelas, itu satu-satunya cara supaya Cathleen dan dua keponakan jagoanku bisa terhindar dari ancaman psikopat yang terobsesi padamu.”
“Cathleen pasti tak akan setuju, aku saja dilarang saat mengatakan ingin membunuh Gretta.”
“Itukan kau, bukan aku. Sudah lama memang aku merencanakan ini. Jadi, mau kau setuju atau tidak, tetap akan ku hancurkan wanita itu sampai tak berbentuk!” Edbert terlihat sekali berapi-api, tangannya bahkan terkepal saat menyampaikan rencana tersebut.
“Kita sekap sajalah dia, dengan begitu Cathleen dan anak-anakku pasti aman. Tak ada pembunuhan ataupun pembantaian.” Gerald sepertinya tidak setuju dengan rencana sepihak Edbert.
“Kau lupa Gretta siapa? Dia itu anggota mafia, memangnya kau pikir aku tak menyekapnya saat menyelamatkan mantan kekasihmu yang sudah meninggal itu? Aku sudah mengurung dia! Tapi, nyatanya bisa melarikan diri juga.” Edbert berucap begitu tegas seakan dia tak mau dibantah.
Gerald hendak mengajukan protes lagi. Tapi, tak jadi, karena ada salah satu anggota Cosa Nostra yang masuk dan memberikan sebuah informasi hingga membuat semua tercengang.
__ADS_1
...*****...
...Makanya, sedia hand sanitizer sama pake masker biar gak kena virus Gretong. Udah tau yang dihadapi ini virus berbahaya dan mematikan, dilihat pake mata aja susah...