Trap Mr. Coldhearted

Trap Mr. Coldhearted
Part 137


__ADS_3

Cathleen menatap Gerald dengan sorot sangat intens. Ia seolah mendengar sekilas kata maaf dari suaminya. Tapi tidak terlalu jelas karena pria itu berbicara seraya berjalan menuju ke arahnya, sehingga yang terdengar jelas adalah kata terakhir.


Kepala Cathleen menggeleng. “Tidak, aku baru saja keluar,” jawabnya dengan wajah yang masih belum menunjukkan perdamaian.


Gerald langsung menggandeng tangan Cathleen. “Kita pulang sekarang, ya? Mommy sudah membawakan banyak makanan untuk kita.”


Ajakan itu tidak bermaksud untuk meminta persetujuan. Sebab, Gerald sudah menuntun Cathleen supaya berjalan menuju mobil.


Gerald membukakan pintu untuk sang istri, bahkan menutupkan lagi. Padahal, ia adalah orang yang malas sekali direpotkan oleh hal-hal sepele seperti itu. Tapi, demi dimaafkan oleh Cathleen, Gerald sampai melakukan sesuatu yang tidak pernah dilakukan.


Kendaraan mini cooper itu segera melaju di atas jalan raya. Suasana di dalam mobil itu sangat hening. Gerald jadi merasakan seperti ada sesuatu yang kurang karena biasanya Cathleen selalu mengoceh atau menyanyi walaupun suara tidak bagus.


“Mau ku hidupkan musik? Siapa tahu kau bosan dengan kesunyian,” tawar Gerald seraya melirik sekilas ke arah Cathleen.


Cathleen menggelengkan kepala sebagai jawaban. Ia justru sedang menikmati bangunan dan kendaraan yang dilewati oleh mobil Gerald.


Gerald menghela napas pelan. Ternyata membujuk wanita sangatlah sulit. ‘Memang lebih baik hidup sendiri kalau aku tak terikat oleh sebuah perjanjian dengan keluarga,’ gumamnya dalam hati. Kalau boleh jujur, ia pusing sendiri menghadapi Cathleen. Padahal sudah melontarkan kalimat maaf tapi wanita itu masih nampak acuh dengannya.


Mobil Gerald mulai masuk ke dalam basement. Cathleen langsung turun sebelum sang suami keluar.


Gerald membawa papperbag berisi makanan dari sang Mommy, langsung menyusul Cathleen yang sudah berjalan mendahului dirinya.


Kedua orang itu tetap saja diam saat berada di dalam lift. Gerald sudah tak tahu harus berbicara apa lagi saat Cathleen puasa mengobrol dengannya.


Pintu apartemen itu dibuka oleh Cathleen. Ia masuk ke dalam mendahului Gerald dan langsung hilang ditelan pintu kamar.


“Apakah caraku mengatakan maaf masih salah?” gumam Gerald seraya meletakkan bawaan yang ditenteng ke atas meja makan.


Melihat waktu sudah sore, Gerald memilih untuk membiarkan Cathleen membersihkan tubuh terlebih dahulu. “Lebih baik aku panaskan makanan untuk makan malam.” Sementara dirinya memasukkan wadah yang dibawakan oleh Mommy Gabby ke dalam microwave.


Selepas menyajikan seluruh hidangan ke atas meja, Gerald duduk sebentar di sofa seraya bermain ponsel. Ia membaca berita umum terutama cuaca, tak lupa menghabiskan waktu dengan bermain game sembari menunggu Cathleen keluar kamar.


Tapi, sampai daya baterai ponsel Gerald habis dan waktu menunjukkan tujuh malam, Cathleen tak juga menunjukkan batang hidung. Akhirnya Gerald pun mengetuk pintu kamar setelah mencharge ponsel di ruang game.


“Cath? Buka pintunya, ayo makan,” ajak Gerald.


Tak lama, pintu yang sejak tadi diketuk pun terayun ke dalam. Cathleen menyembul keluar menggunakan piyama tidur serba panjang. Aroma wangi bahkan bisa tercium oleh Gerald saat sang istri berjalan melewatinya. Harum yang menenangkan, tapi saat teringat perang dingin yang digencarkan oleh Cathleen, membuat suasana menjadi tak nyaman.

__ADS_1


Sepasang suami istri itu pun duduk saling berhadapan. Cathleen mengambilkan makanan dan diletakkan ke hadapan Gerald. Ia tidak mengucapkan apa pun, tapi Gerald tetap mengulas senyum karena sang istri sudah mau menyiapkan makanan untuk dirinya.


“Terima kasih,” tutur Gerald seraya mengangkat piring yang diberikan oleh Cathleen.


Keduanya menyantap hidangan makan malam dengan kesunyian. Tidak ada perbincangan, apa lagi kebiasaan pertanyaan yang sering dilontarkan oleh Cathleen pun mulai menghilang.


“Perkiraan cuaca malam ini akan turun badai salju, mungkin udara akan lebih dingin dari biasanya.” Kini Gerald berusaha untuk membuka topik pembicaraan.


Cathleen mengangguk mengerti. “Aku sudah baca beritanya.”


“Oh, ku pikir kau belum tahu.”


Lagi-lagi suasana menjadi sunyi. Sembari menghabiskan makanan, Gerald memikirkan topik pembicaraan lain. Tapi, sampai kedua piring sudah bersih pun tak ada yang terlintas dalam pikirannya.


Cathleen menarik alat makan kotor dan dibawa untuk dibersihkan.


Gerald hanya bisa menatap punggung sang istri yang sedang mencuci piring. “Cath, bagaimana pemanas di dalam kamar? Apakah kau merasa kedinginan tidur sendirian?”


“Tidak, pemanasnya baik-baik saja dan kamar juga hangat,” jawab Cathleen. Walaupun ia sedang melancarkan aksi mogok bicara, tapi kalau ditanya pun masih menjawab.


Gerald tidak berbicara apa pun saat mengangkat telepon. Ia hanya mendengarkan informasi dan langsung menutup lagi panggilan tersebut.


Tubuh Gerald berdiri dengan tangan menggenggam ponsel. Ia mengayunkan kaki, mengikis jarak dan memeluk Cathleen dari belakang. “Aku ke ruang game dulu, ya? Ada hal penting yang harus ku lakukan. Malam ini aku akan menemanimu tidur, waktumu untuk mendiamkanku sudah habis.” Setelah berbicara lumayan panjang, ia membalikkan tubuh sang istri hingga kedua tubuh itu saling menempel.


Tangan Gerald meraih dagu Cathleen, mendongakkan wajah wanita itu sampai sosok cantik memenuhi kedua kornea matanya. Tidak memberikan celah sedikit pun untuk sang istri menghindar, Gerald menyatukan bibir dangan Cathleen. Ia mencium tanpa izin, jika perhatian tak mampu meredamkan marah, maka sentuhan fisik adalah salah satu cara yang terlintas dalam benaknya.


“Selamat malam, Sayang,” ucap Gerald setelah menyudahi ciuman. Ia mengusap bibir Cathleen untuk menghilangkan bekas basah akibat ulahnya.


Cathleen sampai tak ada waktu untuk bernapas karena terkejut oleh sentuhan Gerald. Bahkan ketika suaminya berjalan kian menjauh dan kedua bola mata hanya bisa melihat bagian punggung, barulah ia menarik udara masuk ke dalam paru-paru setelah tak mampu berkata apa pun.


“Jantungku mulai tak bersahabat lagi,” ucap Cathleen seraya menyentuh dada yang berdebar sangat cepat.


Cathleen segera masuk ke dalam kamar untuk menetralkan debaran akibat perasaan yang baru saja diporak porandakan oleh Gerald. Ia segera mencuci muka dan memakai skincare, menaikkan suhu penghangat dan menarik selimut. “Aku harus segera tidur sebelum Gerald menyusul dan mengetahui kalau jantungku sedang berdebar.”


Sementara Cathleen sedang berusaha membuat dirinya masuk ke alam mimpi, Gerald masih tetap di ruang game. Entah apa yang dilakukan oleh pria itu karena sampai pukul satu dini hari pun belum menyusul ke kamar.


Cathleen sejak tadi tak berhasil masuk ke alam mimpi. Ia mulai merasa kedinginan saat pemanas ruangan sepertinya tidak berfungsi normal. Padahal salju di luar mulai deras hingga membuat hawa dingin mencoba menerobos masuk ke dalam apartemen. Tentu saja membuatnya kini menggigil karena tak tahan dengan suhu yang ekstrim.

__ADS_1


Cathleen tak tahan berada di dalam kamar, ia membawa selimut tebal yang membalut tubuh ke ruang tengah di mana ada tungku api yang bisa dihidupkan di sana. Ia tidak mau mengetuk ruang game untuk menghangatkan diri di sana. Rasa sakit hatinya pada Gerald masih belum hilang. Sehingga, ia pun menghidupkan tungku api dan meringkuk di atas karpet.


Pukul dua dini hari, Gerald baru menyelesaikan seluruh urusan. Ia keluar dari ruang game dan langsung mematung kala melihat ada selimut tebal di depan tungku api.


Gerald memastikan terlebih dahulu di dalam kamar. “Cath?” panggilnya. Ternyata kosong saat lampu dihidupkan.


Gerald langsung mendekati perapian. Berjongkok dan menyentuh seonggok selimut. Ia bisa merasakan ada seseorang yang menggigil di balik kain tebal tersebut.


Tangan Gerald tentu saja menyibakkan selimut untuk memastikan kalau itu adalah sang istri. Ketika melihat wajah Cathleen yang pucat, ia segera membopong. “Kenapa kau tidur di luar? Sudah ku katakan kalau malam ini ada badai salju.”


Meskipun mata terpejam, tapi Cathleen masih bisa mendengar ucapan Gerald. “Pe—manas di kamar rusak,” jawabnya dengan suara lirih.


Gerald pun mengurungkan niat untuk membawa Cathleen ke dalam kamar, ia berpindah membuka pintu ruang game karena di sana pemanas ruangannya lebih baru.


“Kenapa kau tak masuk ke ruanganku jika tahu kedinginan? Apakah semarah itu sampai membuatmu lebih baik kedinginan daripada menghangatkan tubuh dalam satu ruangan bersamaku?” Sembari berucap, Gerald merebahkan tubuh Cathleen ke atas tempat tidur yang tak terlalu luas karena ruangan itu lebih banyak perlengkapan game.


Cathleen tidak menjawab, ia terdiam dan pasrah ketika ditidurkan oleh Gerald.


Gerald pun mengambil inisiatif sendiri. Ia ikut merebahkan tubuh di balik punggung Cathleen, masuk ke dalam satu selimut dan memeluk sang istri untuk memberikan kehangatan.


“Cath, marah boleh, tapi jangan menyiksa dirimu. Tubuhmu sangat dingin,” ucap Gerald saat kulitnya saling bersentuhan dengan Cathleen. Ia bisa merasakan suhu tubuh sang istri yang tak biasa. “Aku minta maaf jika sudah menyakiti perasaanmu, sebisa mungkin tak akan ku ulangi lagi,” imbuhnya seraya kian mengeratkan pelukan.


Bukannya langsung menjawab, Cathleen justru menangis. Sebuah kalimat langka yang akhirnya bisa ia dengar.


“Aku tahu kau sakit hati, jangan menangis lagi. Aku selalu lemah jika menghadapi wanita yang mengeluarkan air mata, apa lagi orang-orang terdekatku dan itu adalah karena ulahku juga,” pinta Gerald. Ia memutar tubuh Cathleen tanpa menyingkirkan selimut yang menutupi tubuh. Menghapus jejak basah di pipi sang wanita.


Cathleen membalas dengan pelukan juga. Ia menangis bukan karena sedih, tapi terharu. Menumpahkan rasa penuh kelegaan di dada bidang Gerald. “Aku juga minta maaf karena sudah mendiamkanmu dan waktu itu pergi bersama mantan kekasihku.”


Tidak hanya Gerald yang merasa bersalah, tapi Cathleen pun sama tak enaknya ketika menggencarkan perang dingin.


“It’s okay, kita lupakan saja masalah yang sudah berlalu,” tutur Gerald seraya mengusap puncak kepala Cathleen dengan penuh kelembutan.


...*****...


...Yailah, gausah romantis-romantisan deh Ge, kamu tuh gak cocok berperilaku manis kaya gitu! Lagian si Cath menye-menye amat si jadi cewe, dikit-dikit merajuk. *edisi cemburu karena gak dipeluk*...


...Ini 3 bab aku jadiin 1, artinya gak ada update lagi buat hari ini....

__ADS_1


__ADS_2