
Cathleen tidak bisa menanggapi dan menghadapi Edbert lagi. Ia menangis hingga sesegukan. Rasanya seperti percuma saja melancarkan segala cara demi terhindar dan terbebas dari pria itu, kalau pada akhirnya tertangkap lagi.
Edbert juga tak merasa bersalah. Ia menganggap semua yang dilakukan selama ini adalah benar dan sebagai cara mempertahankan wanita yang dicintai supaya tetap menjadi miliknya.
Edbert menarik paksa kepala Cathleen hingga menyandar di pundaknya. “Jangan menangis, Sayang. Aku datang ke sini hanya ingin berpamitan. Aku akan pulang ke New York. Ku biarkan kau tetap di sini, jika saatnya tiba akan ku jemput untuk kembali.” Ia memeluk wanita itu walaupun tidak dibalas oleh pujaan hatinya.
Ada perasaan lega karena Edbert mau pulang ke negaranya. Tapi mendengar kalau pria itu akan menjemputnya suatu saat nanti, membuat dirinya tak bisa membayangkan jika pada akhirnya akan kembali lagi pada sosok pemaksa seperti pria itu.
Edbert berpindah posisi menjadi berdiri, masih memeluk Cathleen seakan ia tak ingin melepaskan wanita itu. “Aku anggap kau sedang berlibur karena bosan berhubungan denganku. Untuk saat ini, aku membebaskanmu, tapi jangan harap bisa lepas lagi setelah tertangkap untuk kedua kalinya.” Ia mengeluarkan sebuah ancaman dari suara bisikan yang tepat di telinga Cathleen.
Edbert mengurai pelukan. Ia mencengkeram kedua lengan wanitanya. “Tatap aku, jangan menunduk!” titahnya.
__ADS_1
Tapi Cathleen menggelengkan kepala. Tidak mau melihat wajah Edbert yang di matanya menakutkan.
Edbert menghela napas berat. “Apa aku sangat menyeramkan?!” tanyanya dengan nada sedikit membentak.
Cathleen reflek menjawab anggukan kepala. Memang seperti itu yang dia rasakan dan pikirkan saat ini.
Wajah Edbert langsung mengeras saat itu juga. Tangan kekar bertatonya terulur menyentuh kedua pipi Cathleen. Tanpa permisi, ia memaksa wanita itu untuk menatap ke arahnya.
Tapi, Cathleen memalingkan kepala untuk menghindar.
Edbert menghela napas, rasanya sakit sekali diperlakukan seperti itu oleh wanita yang sangat dia cintai. Ia juga seperti dikhianati oleh Cathleen, tapi perasaannya tidak pudar sedikit pun. Justru semakin ingin merebut kembali dari Gerald.
__ADS_1
Baiklah jika Cathleen tak ingin dicium bibirnya. Edbert pun melepaskan cengkeraman pada pipi wanita itu. Ia menegakkan tubuh yang tadi sempat sedikit membungkuk supaya sejajar dengan Cathleen.
Pria itu membawa Cathleen ke dalam dekapan untuk perpisahan sementara. Walaupun wanitanya tetap saja mematung. “Aku sangat mencintaimu, Sayang, pasti kita akan kembali lagi. Aku janji akan membantumu supaya bisa bercerai dengan suamimu. Aku tahu kalau kalian tidak saling cinta. Ku anggap kau hanya sedang bermain-main saja.”
Edbert melabuhkan kecupan di puncak kepala Cathleen. Menghirup dalam-dalam aroma tubuh wanita yang akan sangat dirindukan.
Melepaskan pelukan, Edbert memegang kepala Cathleen dan melabuhkan kecupan di kening wanita itu. Menatap lekat wajah yang akan dia kenang dan rindukan. “Aku pulang dulu. Jangan menangis lagi, kau boleh bersenang-senang untuk saat ini.” Ia menyeka air mata di pipi Cathleen menggunakan jemari kekarnya.
Dengan berat hati, Edbert perlahan berjalan mundur. Ia belum ingin melepaskan pandangan dari wajah cantik kesukaannya. Kedatangannya ke Helsinki yang berniat hendak mempersunting Cathleen, justru berakhir sebaliknya. Ia harus melepaskan wanita itu untuk sesaat, karena tak akan pernah rela mengucapkan selamat tinggal pada apa yang seharusnya menjadi miliknya.
...*****...
__ADS_1
...Can i call Cathleen is a dumb? Edbert loved her so much. Cius, apa lagi yang mau dicari sih Cing kucing? Heran banget gue tuh. Enakan dicintai, diperjuangkan sepenuh hati dan jiwa raga loh, emangnya kamu pikir Gerald bisa kasih kamu cinta? Bentukan manusianya aja begitu...