Trap Mr. Coldhearted

Trap Mr. Coldhearted
Part 220


__ADS_3

Tujuh hari berlalu, setiap detik, menit, dan jam yang dilewati bersama selalu terasa indah karena kedekatan Gerald dan Cathleen justru tambah lengket. Tapi, mereka harus berpisah ketika malam hari, sebab sudah tidak tinggal bersama lagi.


Selama kurun waktu itu Gerald tidak pernah terlihat menjenguk Chloe. Entah kalau saat malam hari, karena pagi hingga sore dihabiskan mengantar Cathleen untuk bekerja dan menemani wanita itu pergi kemanapun.


Semenjak hubungan mereka semakin dekat, Cathleen justru menjadi sulit untuk tidur sendiri karena terus terbayang-bayang mantan suami. Padahal, biasanya ia terbiasa terlelap tanpa ditemani siapapun. Namun, kini tak bisa ke alam mimpi dengan mudah, sudah sejak tadi mata terpejam tapi kesadaran masih penuh melekat.


“Huft ....” Cathleen menghela napas frustasi. Dia mengantuk, tapi tak kunjung mendapatkan posisi yang nyaman untuk tidur.


Menyerah sudah Cathleen, akhirnya ia memilih untuk bangkit dari ranjang. Memakai alas kaki dan berjalan keluar kamar.


Cathleen ingin mencoba membuat tubuhnya lelah sampai mengantuk dengan cara berjalan di dalam bangunan utama mansion Pattinson. Menuruni satu demi satu anak tangga, ia berhenti sejenak di dapur, tapi ternyata sedang ada orang di sana.


“Mau minum, Cath?” tanya Edbert. Ia tengah membuka kulkas untuk mencari makanan sebagai teman menonton televisi.


“Iya.” Kepala Cathleen mengangguk, ia hendak mengambil air dari kran yang bisa langsung dikonsumsi. Tapi sudah dicegah oleh Edbert.

__ADS_1


“Duduklah, akan ku ambilkan.” Edbert menarikkan satu kursi supaya Cathleen tidak perlu mengeluarkan banyak tenaga. Ia sigap mengambil gelas dan diisi dengan air mineral.


“Ini.” Edbert meletakkan gelas tersebut di atas meja. “Mau ku buatkan susu?” tawarnya kemudian.


Namun kepala Cathleen menggeleng sebagai penolakan. “Tidak, ini sudah cukup.”


Edbert pun ikut duduk di sana, tepat di hadapan Cathleen. Ia melihat wajah wanita itu yang nampak mengantuk, lalu beralih memastikan waktu. Ternyata sudah tengah malam.


“Kau baru bangun atau tidak bisa tidur?” tanya Edbert.


“Kenapa? Memikirkan Gerald? Atau anak-anakmu merindukan Daddy mereka?”


Cathleen mengedikkan bahu. Ia juga tak tahu persis kenapa bisa seperti itu.


“Sini, ikut aku,” ajak Edbert seraya mengulurkan tangan untuk menggandeng Cathleen.

__ADS_1


Tapi, Cathleen justru berjalan sendiri. Edbert tidak memaksakan diri dan cukup sadar posisi saja kalau ditolak secara halus. Ia mengajak mantan kekasihnya untuk duduk di ruang keluarga.


“Tunggu di sini sebentar, aku akan ambil properti seperti biasanya.” Edbert segera meninggalkan Cathleen di sana seorang diri.


Kejadian Cathleen yang susah tidur tidak terjadi satu kali ini saja. Dahulu, ketika awal setelah perceraian, wanita itu juga sempat mengalami insomnia. Tapi selalu berhasil membuat tidur ketika Edbert melakukan satu cara jitu.


Tak berselang lama, Edbert menuruni anak tangga dengan membawa sebuah topeng dari kertas. Ada wajah Gerald tercetak jelas di sana. Ia menutupi wajah dengan itu.


“Mari kita coba cara ini, apakah masih bisa berhasil atau tidak,” ucap Edbert seraya duduk di lantai, tepat di bawah sofa tempat Cathleen sedang tiduran.


“Ed, kau tak perlu melakukan ini.” Cathleen merasa tak enak hati karena Edbert selalu memikirkan cara supaya membuatnya nyaman dan bisa tidur. Meskipun dengan cara yang cukup menyakitkan bagi pria itu karena harus menutup wajah dengan topeng bergambar Gerald.


“Aku tak masalah, asalkan kau bisa tidur. Atau mau ku antarkan ke apartemen Gerald saja?”


...*****...

__ADS_1


... Sebenernya kasian sih sama si Eed, tapi kek mana ya, aku demennya sama si duda tamvan tiada tandingannya, Reyhan aja kalah. Tapi Reyhan baik...


__ADS_2