
“Shitt! Keluargaku sendiri tak mau membantu,” gerutu Gerald seraya memasukkan ponsel ke dalam sakunya lagi. Wajahnya terlihat nampak kesal sekarang. Ia kembali berbicara dengan pria yang masih ada di hadapannya.
“Di mana Roxy? Aku ingin bertemu dengannya.” Gerald pun menanyakan keberadaan salah satu anggota Cosa Nostra yang paling bisa diandalkan untuk dimintai bantuan.
“Pergi bersama Nona Geraldine.”
“Ke mana?”
“Tidak tahu, Anda tanya sendiri saja Nona Geraldine atau hubungi Roxy langsung.”
“Ck! Tidak membantu sama sekali.” Tanpa mengucapkan terima kasih, Gerald memutar tubuhnya dan kembali keluar dari gedung Cosa Nostra. Dia masuk ke dalam mobil lagi.
Mata dan jemari Gerald terpusat pada layar ponsel sebesar enam koma tujuh inch. Tentu saja ingin menghubungi Roxy. Pasti kalau bertanya pada kembarannya tak akan diberi tahu.
“Lama sekali!” Gerald menjadi uring-uringan dengan diri sendiri, mengomel saja sejak tadi karena panggilan tak segera diangkat oleh Roxy. Bahkan sampai terputus pun tak ada yang diangkat.
__ADS_1
Tangan Gerald mencengkeram setir kemudi dengan sangat erat, mengeluarkan rasa kesalnya karena semua orang mengabaikannya yang sedang memiliki masalah. “Dasar keluarga pendendam.” Dia yakin kalau Roxy juga sudah diberikan perintah untuk tidak membantunya.
Sementara orang yang dihubungi ternyata sedang menemani Geraldine makan di sebuah cafe. Sejak tadi mereka hanya melihat layar ponsel yang menunjukkan nama Gerald.
“Saudaramu menghubungiku lagi.” Roxy menunjuk ponselnya yang ada di atas meja saat Gerald kembali menelepon untuk yang ke tujuh belas kalinya.
“Abaikan saja, biarkan dia merasakan hidup tanpa keluarga itu bagaimana,” titah Geraldine. Ia tersenyum sinis melihat kelakuan kembarannya yang sok bisa hidup sendiri tanpa bantuan siapapun.
“Pasti dia sedang ada masalah dan butuh data penting karena menghubungiku.”
“Baiklah.” Roxy menurut dengan wanita yang ada di hadapannya itu. Dia kembali melanjutkan makan seraya sesekali mencuri pandang ke arah wajah cantik seorang Geraldine.
Benar apa kata Geraldine, tiga puluh menit kemudian Gerald memang datang ke sana. Cafe yang menjadi tempat kesukaan satu-satunya putri di keluarga Giorgio. Gerald hanya ingin memastikan saja apakah orang yang dicari ada di tempat tersebut atau tidak, ternyata tebakannya benar.
Gerald langsung menarik kursi kosong dan ikut duduk di meja yang sama. Ia menatap datar tapi menyiratkan sorot mata kesal pada kedua orang yang tidak memperdulikan kehadirannya.
__ADS_1
“Kau sengaja tidak mengangkat teleponku?” Suaranya begitu nyaring terdengar menusuk di telinga. Gerald bisa menyimpulkan seperti itu karena melihat ada dua ponsel di atas meja. Berarti mereka tahu kalau ia menghubungi.
“Memang.” Roxy menjawab dengan sangat santai, berani membalas tatapan tajam seorang Gerald.
“Pasti kau yang melarangnya, ‘kan?” Gerald menuding kembarannya yang terkesan sangat santai. Padahal ia tengah bersungut-sungut.
“Benar sekali.” Geraldine mengakhiri balasannya dengan senyuman sinis seolah sedang mengejek Gerald. “Kenapa? Tidak bisa hidup sendiri tanpa bantuan orang lain?” ejeknya kemudian.
“Keterlaluan kau jadi saudara,” umpat Gerald.
“Kau umpat saja terus Geraldine sampai puas, tapi jangan harap aku akan membantumu.” Roxy langsung membela wanitanya. Jantung data Cosa Nostra ada di tangannya. Dia adalah pengendali semua yang dibutuhkan oleh keluarga Dominique dan Giorgio.
...*****...
...Coba kau tanya pada komputermu yang buat ngegame aja Ge, malu ah udah marah-marah sama ngata-ngatain keluarganya eh tapi masih binta bantuan...
__ADS_1