
Gerald memang mabuk, tapi tak kehilangan kesadaran sepenuhnya. Dia masih bisa melihat Cathleen yang tertidur di atas sofa. Pria itu pun mengeluarkan decakan. “Kebiasaan,” gerutunya.
Marah, kecewa, tentu saja masih menyelimuti diri Gerald. Tapi pria itu tetap saja mendekati istrinya dan menggendong untuk dipindahkan ke dalam kamar.
Merebahkan tubuh Cathleen ke atas ranjang, dia berdiri tidak tegak dan menatap wajah wanita itu sejenak. Tapi, tangannya mengepal, hatinya terasa kacau saat mengingat kalau istrinya sudah membohongi sejak awal.
Gerald buru-buru keluar dari kamar sebelum dia kembali emosi. Pria itu menutup pintu dengan kasar hingga menimbulkan bunyi. Sementara ia segera masuk ke ruang game dan mengunci dari dalam agar tak ada yang bisa menerobos.
Cathleen terkejut saat suara nyaring masuk ke dalam gendang telinga. Dia langsung membuka mata dan wajahnya nampak bingung. “Gerald?” panggilnya seraya mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan.
__ADS_1
“Aku yakin pasti itu Gerald, dia memindahkanku ke kamar,” ucap Cathleen seraya berpindah posisi duduk. Dia segera menurunkan kaki sampai menyentuh lantai.
Wanita itu keluar dari kamar, ingin menemui dan memastikan kalau suaminya sudah pulang. Kini ia berdiri di depan ruang game, mengetuk pintu itu sekeras mungkin. “Ge? Kau sudah pulang?”
Berusaha membuka handle, tapi tak bisa. Padahal terakhir kali dicek tidak terkunci. “Aku yakin kau ada di dalam, Sayang. Apa kau sudah makan? Kau baik-baik saja?”
Tidak ada suara Gerald yang menyahut. Pria itu memang ada di dalam, tapi berdiam diri. Duduk di atas lantai dengan punggung bersandar tembok. Jangan dikira dia tak kacau. Bahkan wajahnya sangat kacau dengan rambut berantakan, apa lagi belum mandi selama seharian.
“Ge? Kau sudah tidur?” Cathleen masih berusaha mengajak suaminya berbicara. Walaupun pada akhirnya tak ada tanggapan.
__ADS_1
Cathleen berangsur menyandarkan punggung di pintu, tubuhnya kian merosot hingga ia duduk di lantai. Matanya menatap ke arah depan, tapi sorot itu terlihat nanar penuh penyesalan dan kesedihan.
“Jika kau belum tidur, tolong dengarkan aku, dan percayalah pada apa yang ku katakan,” pinta Cathleen diiringi air mata menetes begitu saja.
Gerald tetap diam. Begitulah dia jika marah, daripada kasar atau membentak, lebih memilih untuk bungkam. Matanya menatap ke arah pintu yang tertutup rapat. Yakin kalau di balik itu ada Cathleen.
“Maaf, aku akan selalu mengatakan itu sampai kau mengampuniku. Semua memang salahku, aku sadar itu. Tapi, apa tak ada cinta yang mulai tumbuh di hatimu? Atau hanya aku saja yang mencintaimu? Jika memang hanya aku, tak masalah, mungkin memang semua ini adalah konsekuensi yang harus ku dapatkan karena mengawali hubungan dengan sebuah kebohongan. Tapi, tolong percaya padaku kalau perasaanku sungguhan. Ku mohon, jangan ceraikan aku, tak apa kau menghukumku dengan diammu, tapi tetaplah berada di sisiku. Aku tahu kau pria yang baik, penuh perhatian. Buktinya, meskipun sedang marah, kau tetap memindahkan aku ke kamar. Tandanya kau masih peduli denganku.”
Tetap tak mau memberikan tanggapan. Gerald diam seribu bahasa. Tapi ia mendengarkan semua yang dikatakan oleh Cathleen.
__ADS_1
...*****...
...Gege lagi mode bisu Cing, dah kamu mgt aja alias minggat daripada makan ati. Tapi enak sih ati goreng cocol sambel. Lanjutkan perang dingin kalian, persediaan popcornku banyak, nanti ku tambah es milo biar makin seger nonton drama kalian berdua...