
Dua minggu berlalu, tepat sekali hari ini adalah lima bulan pernikahan Gerald dan Cathleen. Hubungan keduanya semakin baik dan dekat. Gerald juga menunjukkan banyak sekali perubahan. Pria itu sudah tak tidur lebih dari tengah malam, selalu bangun pagi, berbicara lebih banyak, menunjukkan perlakuan hangat, dan perlahan telah tumbuh benih cinta walaupun masih sedikit.
Setidaknya kemajuan Gerald tergolong cepat. Walaupun tetap tak bisa menghilangkan kebiasan bermain game, karena sudah mendarah daging dan memang sejak kecil sangat tertarik dengan permainan online. Bahkan ketika umur tujuh tahun pun pernah membeli berbagai game online berbayar hingga menghabiskan uang orang tua sebanyak dua puluh ribu euro.
Tapi, kecintaan Gerald dengan game online tidak pernah dihalangi oleh Daddy George dan Mommy Gabby. Mereka justru mendukung apa pun pilihan anak. Tapi tetap diimbangi dengan memberikan pendidikan yang mengasah kemampuan supaya berguna untuk masa depan. Dan nyatanya, Gerald tidak pernah menjadi benalu dalam keluarga seperti yang Cathleen pikirkan kalau pria itu pengangguran.
Sudah satu minggu ini Gerald terus antar jemput Cathleen, agar lebih menjiwai dengan predikat pengangguran di mata sang istri. Selain itu juga mengurangi kemungkinan buruk kalau Cathleen menabrak sesuatu lagi. Sebab, tujuh hari yang lalu, wanita itu baru saja menabrak pembatas jalan. Untung saja tidak ada yang luka.
Daripada kehilangan wanita untuk kedua kali, lebih baik Gerald menjadi supir saja. Toh waktunya juga fleksibel, tidak perlu ke kantor.
__ADS_1
“Ge, aku jadi merepotkanmu terus jika seperti ini,” ucap Cathleen. Dia memang cenderung mudah tak enakan pada orang lain.
“Sudahlah, ada untungnya juga kau memiliki suami tunakarya,” balas Gerald seraya mengelus permukaan tangan Cathleen dengan lembut.
Cathleen sedikit memiringkan posisi duduk supaya bisa menghadap pada pria yang telah memenuhi setengah dari ruang hatinya. “Bagaimana kalau kau bekerja menjadi supirku saja? Nanti aku bayar.” Ia mencoba memberikan penawaran. Sampai detik ini, masih belum tahu apa pekerjaan sang suami.
“Tak mau, aku lebih suka pengangguran tapi banyak uang.” Tangan Gerald mengusap puncak kepala istri saat mobil sudah berhenti di depan perusahaan tempat Cathleen bekerja.
Gerald tidak menanggapi ocehan sang istri. Dia membukakan seatbelt sebelum Cathleen melepaskan sendiri. Kedua bola mata mereka saling bersitatap dalam jarak dekat.
__ADS_1
“Malam ini aku ingin mengajakmu berkencan, apa kau ada waktu luang?” tanya Gerald tanpa mengedipkan kelopak mata, dia sedang menikmati wajah sang istri yang ternyata sangat manis.
Kepala Cathleen otomatis mengangguk. “Tentu saja akan selalu ada waktu untukmu.”
“Good. Nanti sore aku jemput, sekaligus kita langsung berangka.” Gerald menyentuh puncak kepala Cathleen, mengusap pelan, dan terakhir melabuhkan kecupan di kening untuk beberapa saat.
Cathleen sampai mematung mendapatkan perlakuan manis dari sosok pria yang dahulu sangat kaku dan enggan menyentuh ataupun disentuh olehnya, justru kini sering menebar gula terlalu banyak hingga membuatnya lupa dengan sosok Edbert yang sering menghantui pikiran karena rasa takut dijerat oleh pria itu.
“Selamat bekerja, Sayang.” Untuk pertama kali Gerald memanggil istri tidak menggunakan nama asli. Bahkan elusan di pipi dari jemari kekar itu membuat Cathleen tahan napas.
__ADS_1
...*****...
...Napas bego! Bisa mati lu!...