
Satu minggu berlalu, Gerald tidak menjauh dari Cathleen. Ia tetap menjadi supir mantan istrinya. Selama itu juga sembari menganalisis permainan, kira-kira seperti apa yang diinginkan oleh Edbert dan Cathleen. Sampai membuatnya layaknya pria bodoh yang tak tahu kalau sebentar lagi akan menjadi seorang Daddy. Dan ia mendapatkan semua jawaban tersebut.
Pemilik perusahaan video game, tentu saja mudah sekali menilai permainan. Dan ia akan mengikuti apa yang diinginkan oleh Cathleen serta Edbert. Siapa yang akan menang nantinya? Tentu saja dia sangat percaya diri kalau bisa menyelesaikan semua itu. Sebab, yang dia simpulkan dari semua kejadian dan tingkah laku mantan istri serta rivalnya, tujuan permainan itu adalah ingin menguji keseriusannya.
Gerald yang sedang duduk di dalam mobil pun tersenyum ke arah Cathleen dan Edbert yang sedang berbincang di depan perusahaan. “Bersiaplah untuk kalah.”
Segera turun dari mobil, Gerald tiba-tiba langsung merengkuh pinggul Cathleen dan tersenyum sinis ke arah Edbert. “Kalau bekerja jangan di depan pintu masuk, sengaja ingin memperlihatkan kedekatan kalian di depan karyawan?” sindirnya.
Edbert menatap ke arah tangan Gerald yang melingkar di tubuh Cathleen. Ada perasaan lega karena pria itu tidak berubah sikap meskipun tahu kalau anak yang ada di dalam kandungan itu adalah keturunannya.
“Aku sengaja memperlihatkan kedekatan ini denganmu.” Edbert ikut melakukan hal yang sama seperti Gerald.
__ADS_1
Jadilah Cathleen yang ada di tengah dan dihimpit oleh dua mantannya. “Kalian itu kenapa? Lepaskan aku! Jalan masih lebar, tapi semua mendempel padaku.” Ia mencoba menyingkirkan tangan kekar Edbert dan Gerald. Dua pria itu jadi semakin aneh.
“Seharusnya dia yang menyingkir, jangan dekat-dekat dengan calon anakku,” usir Edbert seraya sedikit mendorong tubuh Gerald agar menjauh.
Gerald justru berdiri di depan Cathleen, sedikit berjongkok hingga kepala sejajar dengan perut buncit yang ada di hadapannya. Tangan terulur untuk mengusap. “Aku akan menjadi Daddy kalian, jangan mau dengan Edbert, lebih bahagia bersamaku.”
Memang sengaja Gerald menunjukkan kalau ia akan menerima anak itu sebagai darah dagingnya sendiri. Ingin menunjukkan bahwa dia tidak peduli kalau Cathleen sedang mengandung dari pria lain.
Edbert dan Cathleen sampai terbengong melihat Gerald si manusia dingin berani berjongkok dan mencium perut buncit itu di depan umum. Keduanya sampai saling pandang karena itu semua di luar ekspektasi.
“Ge, sudah, kita dilihat oleh karyawanku.” Cathleen menarik lengan mantan suaminya agar segera berdiri.
__ADS_1
“Apa kau malu mendapatkan ciuman di depan umum?” tanya Gerald seraya menatap Cathleen dengan sorot menginginkan sesuatu.
“Cih! Ciuman katamu? Itu hanya kecupan di perut.” Edbert langsung menyela dan tersenyum mengejek.
Tatapan permusuhan Gerald layangkan untuk kuman yang mengganggu hubungannya. “Aku tidak bertanya denganmu, tapi pada Cathleen.”
“Sudah, jangan bertengkar, nanti kita jadi bahan omongan orang lain.” Cathleen menengahi perdebatan dua mantannya yang tak pernah akur. “Ayo kita berangkat ke lokasi proyek,” ajaknya kemudian.
Cathleen memutar tubuh untuk mendahului. Tapi, tiba-tiba ada tangan kekar yang menyentuh lengannya dan membuatnya berbalik arah lagi.
“Aku ingin menunjukkan pada mantan kekasihmu, dia pikir aku tak tahu bagaimana cara berciuman.” Gerald secara tiba-tiba menempelkan bibir pada Cathleen. Memaksa wanita itu untuk membalas apa yang dia lakukan.
__ADS_1
...*****...
...Kalian tuh udah pada gede, masih aja main-main kaya bocah, balik SD lagi sono...