
Sudah berjalan dua tahun ini Cathleen dan Gerald beserta dua jagoan mereka hidup tenang, bahagia, damai. Tidak ada seseorang yang mengganggu lagi maupun memberikan ancaman.
Gerald juga telah mengajak Cathleen untuk tinggal terpisah dari orang tua karena ingin bebas membangun keluarga kecilnya. Dia hidup di dalam apartemen untuk sementara, sampai mansionnya selesai di bangun.
“Faydor ... Galtero ... kalian di mana?” Itu suara Cathleen. Dia sedang bermain petak umpet dengan kedua anaknya yang telah berusia dua tahun.
Cathleen tidak mendapatkan sahutan. Hanya satu ruangan saja yang belum ia cari, yaitu ruang game suaminya, tempat di mana Gerald menghabiskan waktu untuk bekerja. Perlahan mendorong pintu tersebut.
Kepala Cathleen langsung menggeleng ketika melihat dua jagoannya ternyata tidak bersembunyi, tapi sedang berada di pangkuan Gerald dan ikut bermain game.
“Kalian masih terlalu kecil untuk bermain game dengan layar besar.” Cathleen mengomel tapi dengan suara yang sangat lembut.
Kaki wanita itu segera terayun mendekati ketiga lelaki dalam keluarga kecilnya. Menggendong satu persatu anak untuk diturunkan dari pangkuan Gerald.
__ADS_1
“Daddy ajak kami, Mommy.” Faydor dan Galtero yang tengah berdiri di depan Cathleen pun memberikan alasan dengan suara menggemaskan beserta tangan menunjuk Gerald.
Gerald langsung membulatkan mata, bisa-bisanya kedua jagoannya menuduh dirinya seperti itu. “Aku tidak melakukan itu, mereka datang ke sini lalu memintaku supaya memangku Faydor dan Galtero.” Dia sampai harus menjelaskan pada Cathleen karena wanita itu sudah melotot ke arahnya.
“Mereka ingin mengajakmu bermain, tapi Daddynya justru asyik dengan game terus.” Cathleen menarik tangan Gerald supaya berhenti menyentuh keyboard.
Melihat sang Mommy mengomeli Daddy mereka, Faydor dan Galtero cekikikan. Mungkin karena saat bayi, keduanya sering mendapatkan omelan dari Gerald, sekarang naluri ingin mengerjai tumbuh dengan sendirinya.
Gerald memutar kursi sampai menghadap ke dua anaknya. Memicingkan mata pada si kecil yang menjadi tersangka. “Kalian pasti ingin mengerjai Daddy supaya diomeli Mommy, ya?” Ia perlahan berdiri dan hendak menangkap Faydor dan Galtero.
“Ada gorila marah ...!” Galtero menyeletuk begitu saja karena sering melihat hewan-hewan dari gambar. Ia juga berlari menyusul saudaranya.
“What? Kau menyebut Daddy gorila?” Wajah Gerald nampak terkejut. Tidak menyangka kalau anaknya bisa mengeluarkan julukan padanya. “Akan ku tangkap kalian dan ku gelitiki.”
__ADS_1
Akhirnya, Gerald berhenti bermain game juga. Sekarang ia sedang mengejar dua jagoan yang ternyata memang ingin mengajaknya bermain.
Cathleen tersenyum melihat kedekatan tiga pria yang sangat disayangi. Tapi, terkadang ia masih sering memikirkan Edbert, entah pria itu hidup di mana sekarang. Sebab, hasil tes DNA dari sisa tulang di TKP, semua cocok dengan Gretta. Namun, mobil yang ditinggalkan sampai detik ini masih berada di sana, dipenuhi lumut dan mungkin sudah rusak.
“Dimanapun keberadaanmu, pasti kau senang melihat ini Ed. Dua keponakanmu tumbuh cepat dan menggemaskan. Semoga suatu hari nanti kita akan bertemu lagi,” gumam Cathleen dengan suara lirih. Matanya terus menyaksikan Gerald yang mengejar Faydor dan Galtero.
“Ketangkap kalian.” Gerald memeluk dua jagoan kecilnya, menidurkan di sofa dan menggelitiki.
Faydor dan Galtero tertawa karena geli. “Mommy, tolong ....” Mereka mencari bantuan.
“Mommy segera datang membantu, Sayang.” Cathleen mengayunkan kaki mendekati Gerald. Dia membalas pria itu dengan menggelitiki juga.
...*****...
__ADS_1
...Bersenang-senang di atas penderitaan orang, parah banget ya kalian berdua. Ck ck ck, kasian kali lah Uncle Ed ni...