
Gerald hendak merebahkan Cathleen di sofa, tapi bagaimanapun juga, ia adalah manusia yang memiliki setidaknya sedikit rasa kasian. Gerald pun merelakan kamar untuk digunakan istri sementaranya istirahat.
Dengan berat hati, Gerald merebahkan tubuh Cathleen ke ranjang berukuran besar. Ia memilih meninggalkan wanita itu seorang diri, tidak berniat atau tertarik untuk tidur bersama. Justru Gerald memindahkan koper ke dalam kamar itu juga.
Jika Cathleen diizinkan untuk tidur di kamar tempat Gerald biasa terlelap, si pemilik unit apartemen tersebut justru memilih untuk istirahat di ruangan khusus untuk bermain game.
Gerald lebih mencintai ruangan berisi beberapa komputer dan juga mesin permainan, daripada kamarnya sendiri. Di dalam sana juga ada sofa besar yang bisa digunakan untuk tidur. Di situlah ia membawa alam bawah sadar ke dalam mimpi.
Kini, Gerald bisa dengan muda terlelap setelah memberikan tempat nyaman untuk Cathleen tidur. Pikirannya tidak diputari lagi oleh isi pesan wanita yang berstatus sebagai istrinya.
...........
__ADS_1
Matahari mulai menunjukkan pesonanya, tinggal di unit lantai tertinggi itu membuat cahaya berhasil menyusup ke dalam celah jendela di mana Cathleen tengah terlelap.
“Engh ....” Cathleen melenguh seraya menarik tangan ke atas. Ia menutup mulut yang menguap, lalu perlahan mengerjapkan mata.
Tangan Cathleen mengusap sisi kanan kiri, merasakan betapa empuknya ranjang yang ditiduri. Dan seketika itu ia membuka mata lebar-lebar, melihat ke sekeliling ruangan tersebut. Kamar yang terasa asing baginya, tapi langsung tahu dirinya berada di mana saat melihat foto seorang pria dan wanita yang berada di dalam bingkai di atas nakas.
“Sejak kapan aku ada di dalam apartemen Gerald?” gumam Cathleen yang tak ingat apa pun. Terakhir kali ingatannya terhenti pada menunggu di lobby sampai suaminya pulang.
Tidak ada yang menjawab pertanyaan Cathleen. Wanita itu justru teringat dengan luka lebam di wajah Gerald. Ia turun dari ranjang nyaman tersebut, mengambil obat yang kemarin di beli dan disimpan dalam tas.
Mata Cathleen menyusuri seluruh isi tempat tinggal Gerald. Tapi sepi dan tak menunjukkan tanda-tanda kehidupan. Bahkan sofa pun kosong. “Apa suamiku sudah pergi bekerja? Tapi ini masih terlalu pagi,” gumamnya.
__ADS_1
Cathleen pun beralih melihat pintu ruangan yang tertutup. “Mungkin dia tidur di sana.” Ia mengayunkan kaki menuju kamar yang dimaksud.
Hati-hati Cathleen menurunkan handle pintu ke bawah. Gerald memang jarang sekali mengunci kamar karena ia terbiasa hidup sendiri. Sehingga Cathleen bisa melihat sosok pria yang tengah tidur meringkuk di atas sofa tanpa berselimut apa pun.
Hati Cathleen langsung merasa tak enak. Karena dirinya, Gerald jadi tidur seperti itu. Ia kembali ke dalam kamar untuk membawa selimut yang semalam menghangatkan tubuhnya.
Wanita itu kembali lagi ke ruangan di mana Gerald masih terlelap. Perlahan menyelimuti sang suami agar tak kedinginan, tapi justru membuat pria itu terbangun karena merasakan mendapatkan sentuhan.
Gerald langsung membuka mata seketika itu juga. Ia menangkap jelas wajah Cathleen yang mengulas senyum ke arahnya. “Kenapa kau masuk ke sini?!” tanyanya dengan suara parau tapi tetap saja terdengar seperti sengaja ditekan.
Cathleen tidak menjawab dengan suara. Ia mengeluarkan ponsel dan mengetikkan sesuatu, mengirim Gerald sebuah pesan berisi tanggapan atas pertanyaan tersebut.
__ADS_1
...*****...
...Usir aja Ge si kucing, nanti dia ngelunjak loh. Kucing kan suka diem-diem ambil makanan orang, berak sembarangan yang baunya buset dah. Daripada nanti dia nyusahin, mending buang aja, kan kamu gamau ribet orangnya...