
Napsu makan Gerald mendadak meningkat saat berada di dekat Cathleen. Biasanya satu suap pun sudah membuatnya ingin memuntahkan isi perut karena terasa tak enak. Tapi, kali ini tidak, lahap sekali menghabiskan hidangan. Bahkan sampai menambah pesanan.
Cathleen yang melihat mantan suaminya seperti orang satu bulan tak makan pun tersenyum seraya kepala bergeleng pelan. “Sepertinya enak sekali makanannya,” ucapnya setelah berhasil menelan makanan yang baru saja dikunyah dalam mulut.
“Perutku lapar sekali, tapi kalau sudah di apartemen tidak merasakan keroncongan sedikit pun. Anehnya, ini terjadi ketika aku melihatmu, saat jauh justru tidak ada hasrat untuk makan,” jelas Gerald. Dia mengambil lagi hidangan di piring yang masih penuh.
Cathleen tidak berkomentar apa pun. Dia tak mau hanyut dalam setiap kata yang dilontarkan oleh mantan suaminya. Cukup menikmati makan siang saja sampai semuanya habis. Ada dua puluh piring kosong di atas meja, keduanya sama-sama melahap sepuluh sajian.
Diakhiri dengan mengusap mulut menggunakan sapu tangan, Gerald kembali menatap mantan istrinya. “Boleh aku meminta sesuatu denganmu?”
“Apa?” tanya Cathleen sangat lembut.
“Maukah kau temani aku makan setiap hari? Supaya napsu makanku meningkat seperti ini?” pinta Gerald dengan tatapan matanya yang nampak sangat memohon.
__ADS_1
“Aku tidak pernah menutup akses jika kau ingin bertemu denganku, silahkan saja temui aku kalau kau memang ingin makan bersama. Kalau sedang tidak sibuk, maka akan diusahakan. Tapi ketika sibuk, mungkin tidak bisa.”
Kelembutan suara Cathleen itu benar-benar membuat Gerald gila. Meskipun sudah menjadi mantan, tapi tetap lemah lembut dan menerima dia seramah mungkin. Mungkin bisa dikatakan ia mulai menyesal karena tidak memanfaatkan waktu sebaik mungkin dan mengedepankan emosi akibat rasa kecewa di masa lalu.
“Terima kasih karena kau tidak membenciku, meskipun hubungan kita saat menjadi suami istri tidak tergolong baik.” Gerald rasanya bersyukur karena mantan istrinya seperti Cathleen.
Cathleen hanya mengangguk dan mengulas senyum. Dia mengeluarkan ponsel ketika merasakan ada seseorang yang menelepon. Segera mengangkat panggilan tersebut.
“Aku di tempat biasa,” ucap Cathleen saat orang yang dia tunggu sejak tadi menanyakan keberadaannya.
“Apa kau sedang sangat sibuk?” tanya Gerald. Dia takut menganggu pekerjaan.
“Lumayan, sekarang aku mengerjakan proyek baru, jadi banyak agenda rapat, peninjauan ke lapang, evaluasi,” jawab Cathleen seraya memasukkan ponselnya lagi ke dalam tas.
__ADS_1
“Sekarang kau ingin bertemu client?” Gerald mulai banyak ingin tahu, padahal dahulu ia masa bodo dengan apa yang dilakukan oleh Cathleen.
“Partner kerjaku.”
“Oh, kalau begitu, aku pamit pulang. Terima kasih sudah mau menemani makan, akan ku bayar tagihannya.” Meskipun hatinya terasa berat beranjak dari sana, tapi Gerald harus memberikan ruang untuk mantan istrinya bekerja. Hari ini sepertinya sudah cukup, setidaknya ia bisa melihat dan mengobrol sebentar, yang terpenting rindu sudah sedikit terbayarkan.
“Tidak perlu repot-repot, tagihan makannya sudah aku bayar.”
Ketika Gerald hendak beranjak berdiri, tiba-tiba suara seorang pria yang baru saja masuk ke dalam ruang VIP itu terdengar menyahut. Membuatnya langsung mengalihkan pandangan dari sosok cantik Cathleen ke orang tersebut. “Apa ini rekan kerjamu?”
“Benar, apakah aku perlu memperkenalkan diri?” Bukan Cathleen yang menjawab, tapi pria yang baru datang itu.
...*****...
__ADS_1
...Berat Ge berat, jandamu udah diincer banyak batangan ternyata...