
Gerald menyetir sepanjang perjalanan. Ia tak mau kalau Cathleen mengambil alih kemudi walaupun wanita itu terus berusaha menawarkan diri.
Perjalanan yang seharusnya sampai selama tiga belas jam jika tak berhenti sedikit pun, akhirnya Gerald tempuh dua puluh jam. Sebab, ia banyak berhenti ketika jalanan tertutup salju dan membuatnya mau tak mau harus menunggu petugas membersihkan jalan.
“Kita datang dadakan, apakah masih bisa dapatkan penginapan? Di sini sangat ramai kalau winter.” Cathleen mengajukan pertanyaan yang mengandung keresahan ketika mobil sudah memasuki wilayah Lapland.
“Bisa tidur di dalam mobil,” cetus Gerald sangat santai. Ia mengajak Cathleen untuk turun ketika sudah sampai.
Cathleen menurut saja saat digandeng dan berjalan menuju banyaknya pepohonan. “Kau yakin mau tidur di mobil? Dingin sekali dan bisa saja kita hipotermia.”
Seolah paham dengan keresahan sang istri, Gerald merubah gandengan tangan menjadi mengelus lengan Cathleen. “Tenang, aku sudah reservasi untuk tempat kita menginap.”
Semakin terkejut saja Cathleen dengan tindakan dan perlakuan Gerald. Bahkan ia tak menyangka kalau pria yang berstatus sebagai suaminya secara negara itu sudah menyusun rapi perjalanan yang tak pernah dibayangkan akan terjadi.
__ADS_1
“Aku tak menyangka kalau kau sudah merencakan ini semua,” tutur Cathleen seraya melingkarkan tangan di pinggul Gerald. Keduanya berjalan dengan posisi tak ada jarak satu centimeter pun. Gerald langsung membawa Cathleen ke penginapan berupa rumah lumayan besar dan terlihat paling mewah daripada yang lain.
“Mencoba berdamai dengan keadaan, mungkin bisa membuat rumah tangga kita jauh lebih baik dari sebelumnya,” jelas Gerald dengan senyuman khas yang memabukkan dan candu bagi siapa saja yang melihat. Untung hanya Cathleen yang sering diberikan senyuman tersebut.
Ah ... dada Cathleen selalu melompat-lompat ketika melihat wajah tampan yang sedang tersenyum itu. Gerald adalah definisi pria idamannya jika sifat seperti sekarang, bukan yang dahulu ketika masih dingin.
“Boleh aku egois, Ge?” tanya Cathleen dengan suara lirih, seraya ikut masuk ke dalam penginapan.
“Bisakah kau jangan tersenyum ketika di tempat umum?” pinta Cathleen. Ia takut kalau akan banyak wanita terpesona dengan ketampanan Gerald yang diatas rata-rata.
Gerald terkekeh seraya mengacak-acak rambut Cathleen. “Memangnya kenapa?”
“Terlalu tampan, takut ada wanita lain yang melirikmu,” jelas Cathleen dengan rentetan gigi yang sengaja ditunjukkan. Ia sedikit malu saat mengatakan hal tersebut.
__ADS_1
Gerald menarik dua ujung bibir, mendadak menarik pinggul Cathleen hingga mereka saling mendempel.
“Kau ingin memilikiku sepenuhnya?” tanya Gerald seraya meraih dagu Cathleen hingga wajah wanita itu mendongak ke arahnya.
Pertanyaan itu dijawab anggukan kepala oleh Cathleen, pertanda iya. Jelas saja sangat mau, apa lagi Gerald sudah berubah seratus delapan puluh derajat.
Gerald menundukkan kepala, mendekatkan bibir ke telinga sang istri. “Jika kau ingin memilikiku sepenuhnya, maka persiapkan dirimu juga untuk malam ini. Tak selamanya aku bisa menahan diri ketika kita bersama setiap saat.”
Suara serak yang terkesan maskulin mengalun pelan di gendang telinga Cathleen. Sekujur tubuh wanita itu langsung merinding. Seakan ucapan Gerald terdengar horor. Bahkan ia sampai tahan napas ketika napas hangat sang suami menyapu kulit lehernya.
...*****...
...Nahloh, sukurinnnnn tiati ketauan boongnya wkwkwk. Tapi aku bakalan jadi orang yang paling seneng sih kalo Cath ketauan hahahaha *tawa jahat*...
__ADS_1