
Gerald melihat Cathleen masuk ke dalam ruang VIP, biasanya sebagai tempat untuk orang-orang yang tidak ingin terganggu ketika makan. Selain itu juga biasa digunakan sebagai tempat pertemuan. Dia langsung saja ikut menyelonong ke sana.
Kedatangan Gerald secara tiba-tiba itu membuat kedua bola mata Cathleen tersita ke arah pintu masuk. Dia pikir partner kerjanya, ternyata bukan.
“Jadi benar kau sengaja mengikutiku, Ge?” tanya Cathleen. Wajah nampak biasa saja melihat mantan suaminya di sana, tidak terkejut ataupun bahagia.
Gerald mengangguk tanpa rasa bersalah. “Aku merindukanmu.” Kakinya terayun mendekati Cathleen dan hendak memeluk wanita itu.
Tapi tangan Cathleen memberikan isyarat kalau ia tidak mau dipeluk. “Maaf, Ge, aku tidak suka dengan bau parfummu.”
Ungkapan tersebut membuat Gerald mengendus bandannya sendiri. Perasaan tidak bau, dan cenderung wangi. “Parfumku tak pernah ganti, dahulu kau sangat menyukai aroma ini.”
“Sekarang situasinya sudah berbeda,” balas Cathleen lembut. “Kau mau bergabung makan denganku? Di sana kosong, bisa untuk duduk.” Tangannya menunjuk ke arah kursi yang ada di hadapannya.
Gerald harus menelan kekecewaan, tadinya dia ingin langsung memeluk Cathleen. Tapi ternyata mantan istrinya tidak suka dengan bau badannya. Tahu seperti itu lebih baik tak perlu mandi saja.
__ADS_1
Tapi, lumayan juga, Gerald tetap bisa bertatap muka secara langsung dengan wanita yang sudah sangat dirindukan belakangan ini. Akhirnya ia ikut bergabung di sana, duduk menatap sosok Cathleen yang nampak lebih cantik saat sudah menjadi janda. Keduanya tersekat oleh meja berbentuk bulat.
Cathleen menaikkan sebelah alis ketika Gerald menatapnya dan tidak berkedip sama sekali. “Pesan makanan, Ge, melihat aku tak membuatmu kenyang.”
“Tapi menatapmu cukup untuk mengobati rinduku,” sahut Gerald. Dia pun membuka menu yang ada di depan matanya.
Sedangkan Cathleen hanya membalas dengan senyuman lembut. Tapi cukup miris juga melihat penampilan mantan suaminya sekarang. “Kau kurus sekali, apakah makanmu terurus?”
Kepala Gerald menggeleng setelah ia memesan makanan pada pelayan yang baru saja dipanggil ke dalam. “Tidak, hidupku berantakan semenjak tak ada kau. Mungkin, makan pun belum tentu satu hari sekali.”
“Kenapa?”
Penjelasan itu membuat Cathleen terkekeh pelan. “Kalau begitu kau harus pesan makanan yang banyak, selagi ada aku, sebagai ganti karena kau jarang makan.”
Meskipun mereka sudah bercerai, tapi Cathleen tidak membenci Gerald sama sekali. Ia masih tetap ramah, baik, dan perhatian.
__ADS_1
Gerald balas menelusuri penampilan mantan istrinya, mulai dari ujung kepala sampai sebatas badan karena kaki tertutup oleh meja. “Sekarang kau lebih berisi, terlihat gendut, apa karena dress yang kau pakai kebesaran? Atau karena semakin bahagia setelah berpisah denganku?”
“Nanti kau juga akan tahu alasannya.”
Tak berselang lama, pelayan pun masuk membawakan pesanan Cathleen. Banyak sekali hidangan yang disajikan di atas meja.
Gerald sampai membulatkan mata ketika ada kurang lebih sepuluh piring di sana. “Semua pesananmu?”
“Ya.” Cathleen menganggukkan kepala. “Sekarang kau tahu kenapa aku terlihat lebih gendut.”
“Napsu makanmu sepertinya meningkat sepuluh kali lipat, sedangkan aku kebalikannya.”
“Aku hanya sedang menikmati hidup saja, tidak perlu meratapi nasib yang sudah terjadi.” Cathleen memutarkan kaca yang ada di atas meja supaya hidangannya berpindah ke hadapan Gerald. “Ambillah, selagi menunggu pesananmu datang, makan saja punyaku agar kau tidak terlalu kurus, nanti orang menilaimu tak bahagia setelah bercerai.”
“Tapi kenyataannya memang seperti itu, aku tidak bahagia setelah berpisah darimu.”
__ADS_1
...*****...
...Inget Cing, Janda lebih menggoda, mari menggaet duda duda diluaran sana, jangan balikan sama yang namanya mantan, nanti kau dikira petugas kebersihan karena memungut wkwkwk...