
Cathleen segera menceritakan semua ucapan yang dilontarkan oleh Gerald. Ia ingin mendengar dari pemikiran Alceena juga apakah mengartikan sama seperti dirinya atau tidak.
“Menurutmu, malam ini Gerald akan mengajak aku bercinta?” tanya Cathleen seraya menggigiti jempol karena hatinya saat ini sangat gelisah.
“Ya, berarti bagus kalau Gerald masih memiliki napsu denganmu, ada kemajuan dalam hubungan kalian.”
Cathleen menghela napas berat hingga Alceena bisa mendengar kalau kembarannya sedang tak baik-baik saja. “Kau gelisah karena hal itu?”
“Sangat, aku takut kalau ketahuan menjebak Gerald dan dia akan menjauhiku,” jawab Cathleen.
“Semakin kau gelisah, maka Gerald akan melihat kau menyimpan sesuatu darinya.”
“Lalu, harus bagaimana? Aku sangat takut.”
“Justru kau harus tenang. Tarik napas dalam-dalam, dan keluarkan melalui bibir secara perlahan. Ulangi terus sampai kau tak gelisah.”
__ADS_1
Cathleen mengikuti perintah yang diberikan oleh Alceena. Walaupun tidak sepenuhnya membuat suasana hati menjadi damai. Begitulah jika seseorang menyimpan sebuah rahasia atas kebohongan yang sudah diperbuat, tak akan membuat hidup tenteram, pasti ada saja bayang-bayang yang menghantui.
“Apa kau yakin jika menghadapi secara tenang tak akan ketahuan?” tanya Cathleen. Dia masih belum seratus persen percaya dengan masukan Alceena.
“Gerald itu manusia yang menghadapi sesuatu dengan tenang tanpa emosi, tapi dia pandai membaca gerak gerik. Jadi, aku yakin sembilan puluh sembilan persen akan berhasil.”
“Kenapa tidak seratus persen? Lalu, satu persen ke mana?” protes Cathleen.
“Anggap saja itu risiko rencana gagal, tapi kemungkinan hanya kecil.”
“Aku ingin saran yang seratus persen, apa tak ada?” tawar Cathleen, dia tidak ingin gagal atau ketahuan sedikit pun.
“Jika Gerald bertanya kenapa aku kesakitan, bagaimana? Aku harus menjawab apa?” Cathleen tak cukup pandai perihal bercinta, tapi ia tidak bodoh juga.
“Tidak akan, dia pasti tahu kenapa kau masih merasakan sakit.”
__ADS_1
“Ini hanya untuk berjaga-jaga saja, beri aku ide sebagai alasan yang masuk akal untuk Gerald. Bisa jadi nasib buruk sedang datang padaku, dan membuat dia curiga.”
Alceena menghela napas, mencoba sabar menghadapi Cathleen yang tak pintar perihal bercinta. “Katakan saja kalau sejak kejadian malam itu kau tidak pernah disentuh oleh siapapun. Jadi, wajar saja jika kau masih merasakan sakit untuk yang kedua kalinya. Ya, walaupun sesungguhnya malam ini adalah kali pertama untukmu. Tapi aku yakin kalau Gerald paham dengan kondisimu, asalkan kau jangan menunjukkan gelagat aneh!”
“Baiklah, aku akan mencoba saran darimu,” tutur Cathleen. Ia mencoba untuk mulai mengikis perasaan takut.
“Cath? Lama sekali kau mandi, apakah baik-baik saja di dalam?” Tiba-tiba suara Gerald berteriak diiringi bunyi ketukan pintu dari luar.
Membuat Cathleen terkesiap, menengok ke arah pintu yang masih tertutup rapat. “Ceena, aku sudahi teleponnya, Gerald sudah memanggil,” pamitnya.
“Oke.”
Panggulan pun langsung diputus sepihak oleh Cathleen. Ia segera membukakan pintu dan mengulas senyum manis dengan rentetan gigi putih yang sengaja diperlihatkan. “Maaf.”
...*****...
__ADS_1
...Aku berasa jadi Alceena woiii, ikut kesel juga sama Cathleen. Makanya jangan boong....
...Sorry guys baru sempet update, abis jalan-jalan sama temen-temen aku hehehehe. Tungguin aja notifnya ya, abis ini aku update lagi kok. Tapi kalo gak muncul hari ini ya berarti salahnya NT reviewnya lama...