
Cathleen segera menuju lantai khusus ruang VVIP seperti yang diberitahukan padanya. Jantungnya berdebar terus, sangat tak bersahabat karena suasana menjadi terasa mencekam bagi dirinya. Tapi, hati sudah diperkokoh, sehingga kaki itu tetap melangkah menuju ruang rawat Chloe.
Kebetulan sekali, ketika Cathleen hendak mengintip, dia tak perlu susah payah untuk masuk. Sebab, pintu VVIP satu sudah terbuka karena ada perawat yang hendak ke dalam.
Melihat pemandangan tak mengenakkan di dalam sana, membuat Cathleen mematung. Dia menyaksikan suaminya sedang menggendong Chloe dan dipindahkan ke kursi roda. Seperti manekin, dia tak bisa bergerak, seolah ototnya kaku semua.
Gerald melihat istrinya di luar ruangan. Keduanya saling bertukar pandang hingga pintu yang kembali tertutup memisahkan keduanya.
“Kau di sini sebentar dengan perawat, aku ingin keluar,” ucap Gerald pada Chloe.
“Kau mau pergi lagi?” tanya Chloe seraya memegang tangan kekasihnya.
Gerald melepaskan tangan wanita yang dia sendiri bingung harus menyebut kekasih atau mantan, karena mereka belum pernah secara langsung mengatakan putus, hanya saja ada sesuatu yang sudah berbeda. “Aku ada urusan sebentar.”
Kaki Gerald tetap mengayun keluar. Dia sudah tak mendapati Cathleen di luar ruangan. Mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru, akhirnya melihat punggung wanita yang sudah menjauh. Buru-buru menyusul sebelum istrinya masuk ke dalam lift.
“Cath?” panggil Gerald seraya tangan memegang pundak istrinya hingga wanita itu berhenti.
Cathleen terdiam, dia tidak menjawab ataupun mengeluarkan suara sedikit pun. Bahkan berbalik juga tidak.
__ADS_1
“Kau mengikutiku sampai sini?” tanya Gerald dengan suara datar. Dijawab berupa anggukan kepala oleh Cathleen.
“Kenapa kau justru langsung pergi dan tak masuk ke dalam?” Gerald tak masalah kalau istrinya enggan menatapnya. Toh dirinya juga terkadang seperti itu.
“Tak apa,” jawab Cathleen singkat.
“Tidak mau menjenguk Chloe?” tawar Gerald.
“Tidak, sudah diwakilkan oleh suamiku dengan tambahan jasa perawatan gratis,” sindir Cathleen dengan terang-terangan. Sudahlah, dia tak mau terlalu lama di sana, terlalu menyesakkan.
Cathleen segera berjalan cepat menuju lift. Dia ingin melihat, mana yang diprioritaskan oleh suaminya. Apakah istri atau kekasih yang baru ditemukan.
Cathleen sadar posisi, dia tak mau menangisi nasibnya lagi. Sudah cukup bersedih. Hidup tidak selalu harus kalut dalam genangan kenangan penuh kepiluan.
...........
Hari ini Cathleen bertemu dengan pengacara pribadinya sekaligus sebagai penasehat hukum, dia sedang mendiskusikan sesuatu yang sangat penting dan menyangkut keberlangsungan masa depannya. Ia mengambil keputusan walaupun sedikit ragu apakah itu pilihan terbaik atau tidak.
“Bagaimana caranya agar aku bisa bercerai dengan suamiku tanpa proses lama?” tanya Cathleen.
__ADS_1
“Jika keputusan ini merupakan kesepakatan dua belah pihak, maka prosesnya akan cepat. Tapi, jika hanya salah satu, kita harus mencari bukti kuat supaya menang di pengadilan, dan Anda bisa mendapatkan harta gono-gini.”
“Aku tidak peduli mendapatkan sebagian harta suamiku atau tidak, aku hanya ingin memberikan dia kebebasan tanpa perlu merasakan sakit hati.”
“Apakah ini keputusan Anda sendiri?”
“Ya.”
Pengacara itu memberikan saran kepada Cathleen. “Kalau mau, akan saya buatkan dokumennya segera.”
“Boleh, pakai saja komputerku.”
Selama satu jam, Cathleen dan pengacaranya menyiapkan sebuah dokumen. Langsung dicetak dan dimasukkan ke dalam map agar tetap rapi.
Selepas menyelesaikan pekerjaan di kantor sampai malam, Cathleen pulang ke apartemen. Dia menanti kepulangan Gerald untuk membicarakan masalah perceraian ini.
...*****...
...Wuakakakak dicerein kan lo Ge, banyak tingkah sih jadi laki. Sukurinnnnnn...
__ADS_1