
“Tidak.” Tanpa basa-basi, Gerald langsung menolak saat pertanyaan Cathleen mengarah ke permintaan untuk menjemput. Mengantar saja kalau bukan karena terpaksa pasti ia tak mau.
“Baiklah, aku pulang sendiri,” ucap Cathleen seraya membuka pintu.
“Ya memang seharusnya seperti itu,” ketus Gerald.
Cathleen pun menurunkan kaki dan diikuti oleh tubuh. Sebelum menutup pintu mobil, ia sedikit membungkukkan badan, tetap mengulas senyum pada Gerald walaupun pria itu belum bisa menerimanya sebagai istri sungguhan. “Hati-hati.”
“Hm.” Gerald hanya menjawab sebuah gumaman seraya mengibaskan tangan supaya Cathleen segera pergi.
Cathleen yang paham pun melakukan apa yang diminta oleh Gerald. Ia melambaikan tangan saat kendaraan suaminya mulai menjauh. “It’s okay Cathleen. Meskipun tidak ada cinta di antara hubungan pernikahan ini, tapi jauh lebih baik dibandingkan hidup terkekang dengan Edbert.”
Kaki Cathleen mengayun memasuki tempat kerja. “Setidaknya Gerald hanya dingin dan butuh dicairkan saja hatinya, bukan seperti Edbert yang terlewat posesif padaku.” Masih saja ia bergumam sendiri. Bahkan saat memasuki lift pun berkomat kamit tanpa bisa didengar oleh orang yang sedang berlalu lalang masuk ke gedung itu juga.
Sedangkan Gerald, pria itu justru menggerutu setelah Cathleen turun. “Ck! Menyusahkan sekali memiliki istri seperti dia.” Ia memijat pelipis yang terasa berdenyut. Saat mengatakan kalau ia pusing mendengar ocehan Cathleen, itu bukanlah sebuah perumpamaan, tapi memang sungguh kepalanya berdenyut.
Di hari pertama pernikahan mereka, tidak ada cinta, pesta, apa lagi rencana untuk honeymoon. Baik Gerald maupun Cathleen, keduanya melakukan urusan masing-masing. Pengantin wanita sibuk dengan pekerjaan. Sedangkan mempelai pria masih saja berkutat mencari sang kekasih yang belum ditemukan sampai sekarang.
__ADS_1
Waktu terus bergulir maju, sampai tak terasa jam pulang kantor pun telah datang. Cathleen segera menyudahi pekerjaan. Sebelum selesai membereskan dokumen di atas meja, pintu ruangannya ada yang mengetuk dari luar. “Masuk.”
Sekretaris Cathleen bernama Liliana pun berdiri tegak di tengah ruangan. “Nona, saya sudah menghubungi supir Anda untuk menjemput.” Ia datang hanya ingin memberitahukan hal tersebut.
“Oke, terima kasih atas bantuanmu, kau boleh pulang.” Cathleen mengulas senyum ramah.
“Baik, saya permisi.” Liliana menganggukkan kepala, memberi hormat sebentar dan langsung meninggalkan atasannya.
Setelah beres, Cathleen pun berjalan turun seorang diri. Ia langsung masuk ke mobilnya yang terparkir di depan lobby perusahaan.
“Langsung pulang ke mansion, Nona?” tanya supir yang biasa mengantarkan Cathleen kemana-mana.
“Baik.”
Kendaraan milik Cathleen pun melaju dengan kecepatan sedang, menuju mansion Pattinson. Saat perjalanan, supirnya membicarakan sesuatu hal penting.
“Nona, sebelumnya saya minta maaf jika selama bekerja dengan Anda kurang memuaskan,” ucap supir itu.
__ADS_1
“Kenapa kau tiba-tiba berbicara seperti itu?”
“Maaf, Nona. Sebenarnya, saya ingin mengundurkan diri, karena baru saja mendapatkan pekerjaan baru.”
“Apa pekerjaan barumu lebih nyaman?”
“Ya, Nona.”
“Baiklah, semoga kau betah di tempat kerjamu yang baru.”
Cathleen menghela napas pelan, mengalihkan pandangan ke arah jalanan di luar. “Sepertinya memang sudah saatnya aku belajar mengendarai mobil sendiri.”
Sampai di mansion, Cathleen mengambil pakaian ganti secukupnya untuk tinggal bersama Gerald, jaket milik pria itu juga dibawa. Tak mungkin ia tinggal terpisah dengan suami, mau dikata apa oleh keluarganya.
Cathleen masuk lagi ke dalam mobil dengan membawa satu koper besar. “Tolong ke apotik sebentar, aku ingin membeli sesuatu.”
...*****...
__ADS_1
...Mau beli apa Cath? Durex apa fiesta? Yang rasa apa? Kan udah nikah, gaperlu pake itu juga gapapa wkwkwk...