Trap Mr. Coldhearted

Trap Mr. Coldhearted
Part 52


__ADS_3

Gerald masuk dan menutup pintu ruangannya bukan untuk tidur lagi atau bermain game. Dia hanya berganti celana jeans pendek dan memakai kaus yang ditutupi dengan jaket denim.


Pria itu sudah memindahkan beberapa pakaian dari walk in closet yang berada di dalam kamar sebelah, untuk dipindahkan ke ruangannya, hanya yang sering dipakai saja. Gerald tidak mau keluar masuk ke dalam tempat di mana Cathleen istirahat. Sehingga ia lebih memilih mengalah, merelakan kamarnya yang luas, daripada harus memberikan ruang game untuk istri sementaranya tersebut.


Bahkan karena tak ingin mengganggu privasi masing-masing, Gerald pun merenovasi ruang gamenya. Ia menyatukan kamar mandi luar supaya menyatu di dalam tempat kesayangannya.


Sehingga, baik Gerald maupun Cathleen, tidak ada yang berbagi kamar mandi hanya untuk membersihkan diri ataupun membuang kotoran. Terlihat jelas sekali kalau Gerald membangun benteng tinggi yang sulit diterobos oleh Cathleen.


Tak lama, Gerald pun keluar lagi. Dia hanya mencuci muka, gosok gigi, dan menyemprot parfum saja. Sepertinya, kebiasaan yang jarang mandi sudah melekat dalam diri pria berparas tampan tersebut.


Mata Gerald sudah tak mendapati Cathleen di dapur, ruang makan, ataupun di ruang santai. Pasti wanita itu berada di dalam kamar.


Gerald pun mendekati pintu kamar Cathleen, mengetuk sebanyak tiga kali. “Cath? Keluar!” Ia memanggil sekaligus memberikan perintah.

__ADS_1


Setelah Gerald masuk ke dalam kamar, Cathleen juga memilih untuk istirahat karena tidak ada yang bisa dilakukan di apartemen itu. Toh dia sedang sakit juga. Baru saja ingin tidur, siapa tahu setelah itu pusing dan lemas yang melanda akan hilang, suaminya sudah memanggil.


Cathleen yang berada di dalam kamar pun memaksakan diri untuk memijakkan kaki di lantai. “Iya, sebentar.”


Ulasan senyum manis langsung dilayangkan oleh Cathleen setelah membukakan pintu dan melihat Gerald sudah rapi dan wangi. “Kau mau pergi?”


Gerald tidak langsung menjawab. Dia justru memasang mata untuk menelisik wajah Cathleen. Dalam pikirannya, wanita satu ini benar-benar aneh. Sudah tahu sakit, masih saja sok kuat.


“Ayo kita pergi, ku antar kau ke rumah sakit, sekarang,” ajak Gerald.


Sangat jarang Gerald berinisiatif mengajak keluar atau berbicara terlebih dahulu. Sehingga wajar saja kalau Cathleen sangat senang diperlakukan seperti itu, karena merupakan moment langka.


“Ya.” Gerald menegaskan kembali dengan wajah datar tapi serius.

__ADS_1


“Tunggu sebentar, aku ganti baju dulu yang lebih rapi,” pinta Cathleen.


“Tidak perlu, aku hanya mengantarmu ke rumah sakit, bukan untuk jalan-jalan.” Gerald membalikkan tubuh seakan ia tak sabar menunggu Cathleen untuk berganti pakaian sebentar. “Cepat, sebelum aku berubah pikiran,” ucapnya saat sudah mendekati pintu.


Daripada kehilangan kesempatan langka, Cathleen pun lebih baik mengambil tas dan ponsel saja. Ia segera menutup pintu kamar. “Tunggu,” teriaknya saat Gerald sudah satu langkah berada di luar.


Cathleen buru-buru berjalan secepat mungkin supaya bisa sejajar dengan Gerald yang telah mengayunkan kaki di depan.


“Ge, bisa pelan sedikit?” pinta Cathleen dari arah belakang Gerald.


Gerald pun menghentikan langkah kaki, menengok ke belakang di mana wajah Cathleen nampak semakin pucat. Ditambah napas wanita itu terlihat terengah-engah.


...*****...

__ADS_1


...Manja banget sih Cath, mau periksa aja nunggu dianterin Gerald dulu. Pasti kamu sengaja kan biar diperhatiin sama Gege?...


__ADS_2