
“Tujuh belas minggu, Tuan.”
Gerald berhenti sejenak untuk berpikir, tujuh belas minggu berarti usia kandungan Cathleen sudah empat bulan. Kalau mereka saja baru bercerai dua bulan lalu berarti ...
“Edbert bukan Daddy dari anak-anak Cathleen, tapi aku,” celetuk Gerald setelah yakin dengan perhitungannya. Empat bulan lalu hubungan mereka masih baik-baik saja, dan memang sebelumnya sering melakukan rutinitas untuk berkembang biak.
Ada rasa bahagia, tapi ia juga tidak senang karena tak diberi tahu tentang kehamilan tersebut. Hanya saja pikirannya tidak berfokus pada kekecewaan, tapi lebih ke arah kenapa mereka melakukan itu padanya.
Kedua bola mata Gerald terus memandang pintu toilet yang sejak tadi belum terbuka. Setelah dipikirkan secara matang dengan menimbang bagaimana keluarga Pattinson yang tetap menerima dia, kemudian Edbert yang terkesan sangat dekat dengan mantan istrinya hingga membuatnya berpikiran kalau janin tersebut adalah anak dari rivalnya, dan Cathleen yang secara sengaja diam tanpa memberikan penjelasan atau memberi tahu padanya tentang semua ini. Sekarang dia bisa menyimpulkan maksud dan tujuan semua melakukan itu padanya.
“Apa mereka sedang mempermainkan aku?” gumam Gerald. Tapi keyakinan pikirannya memang mengarah ke sana. “Seorang pemilik perusahaan video game sedang diajak bermain? Baiklah, akan ku ikuti cara mainnya, kita lihat siapa yang akan menang.” Sebelah sudut bibirnya sengaja ditarik hingga wajah tampan itu terlihat sangat sinis.
Gerald bukan tidak terima dengan semua yang sudah terjadi padanya. Tapi, dia tak mau kalah kalau memang sedang dipermainkan. Enak saja, malu dengan jabatannya sebagai seorang pecinta, pembuat, dan pemilik perusahaan game.
__ADS_1
Merasa Cathleen lama sekali tak segera keluar toilet, akhirnya Gerald pun berdiri dan mengayunkan kaki ke sudut ruangan dokter. Ia mengetuk pintu di mana mantan istrinya sedang berada saat ini.
“Cath? Apa kau baik-baik saja?” tanya Gerald.
“Ya, tunggu sebentar.” Suara Cathleen terdengar menyahut dengan sedikit berteriak.
“Apakah kau butuh bantuan? Kenapa lama sekali?”
“Aku sedang buang air besar.”
Tiga menit kemudian, barulah wanita itu terlihat menyembul dari toilet. Cathleen terlihat terkejut karena wajah Gerald mendadak ada di depannya dengan tatapan mata yang tajam, mengintimidasi, tapi semua itu mampu menggetarkan jiwa.
“Kau mengejutkan aku, Ge.” Cathleen mengelus dadanya sendiri yang saat ini sedang berdebar.
__ADS_1
“Maaf sudah membuat kalian terkejut.” Gerald langsung berubah lebih hangat, bahkan ia berbicara seraya mengusap perut Cathleen. Lalu beralih mengelus puncak kepala wanita itu. “Kau lama sekali berada di dalam, jadi aku khawatir kalau terjadi sesuatu denganmu atau anak-anak di dalam kandunganmu,” jelasnya kemudian.
Gawat, ini tidak bagus untuk hati dan jantung. Perlakuan Gerald yang manis membuat Cathleen tidak tahan ingin memeluk mantan suaminya.
Cathleen berusaha untuk tidak mudah hanyut, walaupun sejujurnya itu sangat sulit karena pesona Gerald, pria tampan beraura dingin tapi terkadang perlakuannya bisa sangat hangat.
“Ayo kita ke perusahaan, aku harus segera bekerja.” Cathleen segera menghindar supaya tidak ditatap terus oleh Gerald. Ia mengayunkan kaki untuk mengambil tas yang sengaja ditinggal di kursi.
Tak lupa mengucapkan terima kasih, Cathleen segera keluar dari ruang dokter kandungan. Dia sengaja mendahului Gerald.
Gerald yang melihat mantan istrinya seperti salah tingkah pun tersenyum puas saat melihat punggung Cathleen yang perlahan menjauh. “Jika biasanya aku bermain game di dalam komputer atau ponsel, sekarang akan ku mainkan yang ada di dunia nyata.”
...*****...
__ADS_1
...Dan kalian semua itu secara tak sadar sedang dipermainkan oleh aku hahahaha si antagonis yang sesungguhnya...