
Gerald tak langsung menanyakan tentang CCTV yang terlalu banyak di dalam ruang istirahat sang istri. Dia justru mengecek di dalam kamar mandi apakah ada kamera pengintai juga atau tidak, ternyata tidak ada. Pria itu beralih keluar di ruang kerja Cathleen, melihat ke seluruh penjuru, bahkan tidak ada satu detail pun yang terlewat.
Kening Gerald mengerut ketika mendapati sensor infrared lagi di lokasi yang tersembunyi. Ini tidak biasa karena di dalam ruangan itu sudah ada CCTV yang nampak jelas di dua sudut bagian atas.
“Berapa banyak kau memasang CCTV di ruangan ini?” Daripada Gerald berburuk sangka, lebih baik memastikan terlebih dahulu. Dia berbicara dengan Cathleen, tapi mata terus didekatkan pada televisi yang menempel di dinding, sejajar dengan sofa dan meja kerja.
“Dua,” jawab Cathleen. Dia menunjuk kamera pengintai yang jelas terpasang di atas. “Itu, dan satunya ada di sebelah sana.”
Gerald semakin curiga, pasalnya ada satu lagi kamera pengawas yang sangat kecil dan diletakkan bagian bawah dekat sensor televisi, sehingga sulit dibedakan jika tak teliti.
“Berapa kau memasang di dalam kamar?”
“Sama, dua juga.” Cathleen merasa aneh dengan pertanyaan Gerald. Ia berpikir kalau suaminya seperti memaksakan untuk mencari pembicaraan agar bisa mengobrol. “Memangnya ada apa?”
__ADS_1
Gerald memutar tubuh, menatap Cathleen. “Kau yakin hanya dua di setiap ruangan?”
Kepala Cathleen mengangguk sebagai pembenaran. “Semua tersambung di komputerku dan sistem keamanan.” Ia membukakan rekaman dari CCTV ruangannya. Menunjukkan bukti pada Gerald.
Gerald kian mendekat, dan kali ini dugaannya pasti tak meleset. “Ikut denganku.” Tangan dengan tato tiga garis di lengan kanan itu terulur di depan dada Cathleen.
Meskipun bingung, tapi Cathleen penasaran dengan apa yang akan ditunjukkan oleh suaminya.
Gerald membawa Cathleen untuk berhenti tepat di depan televisi. “Apa kau melihatnya?” tanyanya tanpa menunjuk apa pun.
“Bukan, tapi ini.” Barulah Gerald menunjuk ke arah sensor berupa titik merah. Ia melepaskan kamera sangat kecil yang menempel di televisi.
“Apa kau memasang ini di ruanganmu?” tanya Gerald seraya memperlihatkan sesuatu yang ada di telapak tangannya.
__ADS_1
Kepala Cathleen menggeleng. “Tidak.”
Gerald meremas kamera pengintai itu, membanting di lantai dan menginjak hingga hancur. “Berarti ada yang diam-diam mengawasimu.”
Pria itu mengajak Cathleen untuk masuk ke dalam ruang istirahat. “Tak hanya di ruang kerjamu, di sini pun ada.”
Tangan Gerald mengambil benda yang sama di atas almari, dan satu lagi ada di balik kaca. “Selama ini kau tak sadar jika ada yang meletakkan kamera secara tersembunyi?” tanyanya seraya menghancurkan benda tersebut. Tentu saja Gerald kesal jika ada orang yang kurang ajar sampai melakukan hal gila seperti itu.
Cathleen menggelengkan kepala pelan. Ia seakan terkejut sekaligus takut. Badannya sampai gemetar.
Gerald langsung merangkul sang istri, menuntun untuk didudukkan pada tepi ranjang. “Aku akan bongkar semua ruanganmu, siapa tahu ada kamera pengintai lain yang terlewat.”
“Siapa yang tega mengawasiku secara diam-diam? Untuk apa melakukan itu padaku?” Cathleen mencengkeram tangan Gerald semakin erat, ia sedang resah karena sering telanjang atau sekedar berganti pakaian di dalam kamar. Takut jika rekaman tersebar atau disalah gunakan oleh oknum tersebut.
__ADS_1
“Pasti orang yang mudah keluar masuk ke dalam sini. Siapa saja?” Gerald sembari mengusap punggung sang istri untuk meredakan gemetar Cathleen.