
Gerald memutuskan untuk membuktikan apakah benar Chloe masih hidup. Dia segera beranjak dari lantai. Badannya terasa sakit semua karena tidur di alas yang keras. Tapi sudahlah, karena tak bisa mengeluarkan segala emosi pada orang lain, pria itu memang lebih memilih untuk menyiksa diri sendiri.
Merasa badannya lengket dan bau alkohol, Gerald membersihkan tubuh terlebih dahulu. Dia memakai pakaian yang disimpan di ruang game, hanya berkaus polos dan celana pendek saja.
Gerald keluar dengan rambut masih basah. Dia tidak menengok ke kanan dan diri. Tujuannya langsung ingin menuju pintu.
“Sayang, baru bangun? kau mau ke mana?”
Tiba-tiba suara Cathleen yang lembut membuat Gerald menghentikan langkah. Pria itu menengok ke arah dapur di mana istrinya sedang berada di sana. Tapi, pertanyaan tersebut tidak dijawab.
Cathleen berusaha untuk tetap tegar, kuat menghadapi suaminya yang sedang memasang mode bisu. Ia mendekati Gerald yang masih berdiri mematung di tengah ruangan. “Makan dulu, ini sudah sore.” Tangannya menggandeng lengan kekar bertato garis tiga, menuntun prianya untuk didudukkan ke ruang makan.
__ADS_1
Gerald tidak memberontak, hanya saja mulut terus terkunci.
“Aku sudah membuatkan spaghetti, makanlah sebelum pergi.” Cathleen menyodorkan piring berisi makanan, lalu ia ikut duduk di seberang Gerald.
Langsung melahap hidangan buatan istri, Gerald buru-buru menghabiskan makan sorenya. Dia langsung berdiri setelah piring itu kosong. Tanpa berpamitan, kakinya kembali melangkah meninggalkan meja makan.
Cathleen menghela napas pelan. Setidaknya dia tahu kalau Gerald masih sehat dan tetap menghargai hidangan yang sudah dibuat.
Gerald berhenti tepat di depan pintu. Menengok ke arah Cathleen yang tengah tersenyum manis ke arahnya. Wajah pria itu tetap datar, tidak ada yang bisa membaca isi pikirannya.
Segera memutuskan pandangan, Gerald membuka pintu dan keluar meninggalkan istrinya sendirian di apartemen. Dia tidak mengatakan ke mana akan pergi.
__ADS_1
Sedangkan Cathleen, ia tersenyum getir. “Gerald butuh waktu menenangkan diri Cath. Kau harus bisa memberikan ruang untuk suamimu berpikir. Dia sedang kecewa berat. Masih mau duduk berdua, menatapku, memindahkanku ke kamar, dan menghargai masakanku pun sudah luar biasa bersyukur.” Ia mengelus dada, menyingkirkan sifat egois yang ingin segera mendengar suara dan merasakan kehangatan dari suaminya.
Cathleen tidak berniat untuk mengikuti Gerald. Dia tidak mau hubungan yang sedang sedikit merenggang ini jadi lebih kacau kalau dirinya tidak memberikan ruang suami untuk berpikir. Toh, semarah-marahnya pria itu, tetap pulang ke apartemen juga walaupun dini hari. “Lebih baik aku bertemu Alceena dan keponakanku saja, daripada terus memikirkan dan bersedih menanti suamiku kembali hangat.”
Padahal, tanpa Cathleen ketahui, Gerald kini berhenti di rumah sakit yang disebutkan oleh Edbert. Dia harus memastikan informasi tentang Chloe, apakah benar atau tidak.
Gerald segera masuk lift. Dia menuju lantai khusus ruang VVIP. Setiap langkah kaki yang terhentak diiringi debaran. Entah apa yang membuat pria itu menjadi takut untuk membuka pintu ruangan di depannya.
“Semoga hanya orang yang memiliki nama sama seperti mendiang kekasihku,” gumam Gerald.
...*****...
__ADS_1
...Sayangnya, doamu tak akan ku kabulkan Ge. Yang akan kau lihat di dalam itu emang Closetmu tersayang, dan siap menggeser tahta Kucing. Atau kalau enggak, mendingan Closet sama Kucing jadiin satu aja. Kan mayan biar Kucing punya tempat berak, gak poop di pasir lagi...