Trap Mr. Coldhearted

Trap Mr. Coldhearted
Part 182


__ADS_3

Sejak pertikaian saudara di mansion Dominique, Gerald selama satu minggu ini mendiamkan semua orang. Pria itu kembali mengasingkan diri untuk menghilangkan rasa kecewanya. Dia memilih untuk memaafkan seluruh kebohongan yang menyakitkan, tapi menutupi goresan luka itu tak mudah.


Cathleen berusaha tetap tegar menghadapi suaminya yang seperti orang asing, setiap hari keluar pagi dan baru pulang dini hari. Dia berusaha untuk memahami perasaan Gerald, walaupun dirinya sendiri terluka batinnya. Tapi, untung saja ada pekerjaan yang sedang banyak, jadi membuatnya sedikit teralihkan dan tak terus larut memikirkan suaminya. Namun, tetap berusaha untuk menjadi istri yang baik, memberikan perhatian pada suami walaupun tidak pernah ditanggapi.


“Nona, Anda tidak pulang?” tanya sekretaris Cathleen saat jam pulang kantor tapi masih mendapati atasannya tak kunjung keluar dari ruang kerja.


“Kau duluan saja, aku ingin mengoreksi laporan penjualan,” jawab Cathleen seraya memijat pelipisnya yang terasa berdenyut. Akhir-akhir ini ia sering pusing, mungkin karena banyak yang dipikirkan.


“Anda baik-baik saja, Nona?” Liliana, sekretaris Cathleen ini berjalan mendekati atasannya. “Lebih baik lanjutkan besok saja, sepertinya Anda sangat lelah.”


“Aku sengaja bekerja terus untuk mengalihkan pikiranku. Kau pulang saja, tolong pesankan aku makanan, perutku sangat lapar.” Padahal belum ada tiga jam Cathleen makan, tapi perutnya seperti terasa kosong.


“Anda ingin makan apa?”


“Aku ingin masakan Jepang.”


“Baik, saya pesankan dahulu.” Liliana meninggalkan atasannya seorang diri. Dia segera membelikan langsung saja ke restoran Jepang terdekat agar lebih cepat.

__ADS_1


Liliana langsung kembali ke perusahaan dengan menenteng papperbag. Dia berhenti di seberang jalan ketika melihat ada sebuah mobil yang sedikit mencurigakan. Untuk memastikan apakah orang yang terus mengamati ke arah pintu keluar lobby itu berbahaya atau tidak, kakinya terayun untuk mendekat.


Dengan segenap keberanian, Liliana mengetuk jendela mobil itu. Perlahan kaca mulai diturunkan, dia menunduk untuk memberikan hormat, ternyata salah satu orang terdekat atasannya. “Anda menunggu Nona Cathleen?”


“Iya, apa dia belum pulang?”


“Belum, Nona Cathleen ingin lembur kerja.”


“Oh.”


“Tidak, aku tunggu di sini saja, biarkan Cathleen menyelesaikan pekerjaannya.”


“Baik, saya permisi. Nanti akan disampaikan kalau Anda menunggu di luar.” Liliana menganggukkan kepala, pamit undur diri.


Kaca mobil pun kembali tertutup, Liliana segera masuk ke perusahaan dan menuju ruang CEO. Dia meletakkan pesanan ke atas meja. “Nona, di luar ada Tuan Edbert sedang menunggu Anda.”


Cathleen langsung menghentikan aktivitas. Mengalihkan pandangan ke arah sekretarisnya. “Untuk apa dia ke sini?”

__ADS_1


“Saya tidak tahu, Nona, Tuan Edbert tidak mau diajak masuk juga.”


Cathleen menghela napas berat. Dia sedang malas memiliki urusan dengan siapa pun yang membebani pikirannya. Sudah cukup pusing dengan Gerald yang terus diam dan jarang di apartemen, kini ada mantan kekasihnya yang mulai menunjukkan batang hidung lagi.


“Baiklah, terima kasih atas makanan dan informasinya,” ucap Cathleen dengan suara lemas.


“Ada lagi yang diperlukan?”


“Tidak.”


“Kalau begitu, saya pulang dulu.” Liliana menundukkan kepala sekilas dan meninggalkan Cathleen seorang diri.


Cathleen meneruskan untuk bekerja, dia tidak berniat untuk turun menemui Edbert. Lebih baik menyelesaikan mengecek laporan penjualan saja sembari menikmati ramen dan sushi.


...*****...


...Si biang kerok muncul lagi wkwkwk mau ngapain lagi tu si Eed? Mau bikin huru hara lagi ya biar makin rusuh? Bagus, kamu memang pejuang cinta yang tangguh dan pantang menyerah, ku dukung untuk menghancurkan rumah tangga mereka *tawa jahat*...

__ADS_1


__ADS_2