Trap Mr. Coldhearted

Trap Mr. Coldhearted
Part 229


__ADS_3

Bukan perkara mudah bagi seorang Gerald untuk naik ke atas tumbuhan hidup yang menjulang setinggi enam puluh lima meter. Butuh waktu tiga jam tiga puluh menit hingga akhirnya pria itu bisa memijakkan kaki di ranting atas walaupun bukan yang terujung. Sebab, dia tidak bisa mencapai bagian paling tinggi karena terlalu beresiko. Setidaknya hanya menyisakan kurang lebih empat meter saja. Lagi pula lingkar pohon terlalu kecil yang ada di atas.


“Apa aku boleh berhenti di sini?” Gerald berteriak sekeras mungkin pada Tuan Pattinson yang ada di bawah. Sialnya, kaki mulai terasa bergetar karena ini adalah pertama kali berada di ketinggian tanpa pengaman yang menempel di tubuh. Kalau salah jatuh sudah pasti remuk semua tulangnya, syukur langsung kehilangan nyawa, kalau menjadi lumpuh dan tak bisa apa-apa justru lebih menyakitkan karena menyusahkan semua orang.


Papa Danzel belum langsung menjawab. Dia mendongak ke atas untuk melihat pria itu yang nampak sangat kecil seperti sebuah titik. “Kau boleh turun, tapi harus dalam kondisi hidup,” balasnya dengan berteriak juga.


Gerald bingung juga caranya turun bagaimana. Naik saja kesulitan sampai beberapa kali berhenti karena menyeimbangkan tubuh supaya tidak jatuh.

__ADS_1


“Oh Cathleen, kenapa kau harus memiliki Papa seperti Tuan Pattinson,” gerutu Gerald. Rasanya dia ingin mengumpat, tapi hanya mampu di dalam hati saja. Bisa-bisa dicoret dan ditendang jauh dari restu keluarga Pattinson.


Gerald sudah berada dalam posisi memeluk pohon. Selama masih ada ranting, dia bisa memijakkan kaki di sana. Tapi, itu hanya ada di bagian atas. Karena sudah tak ada lagi pijakan, ia memberanikan diri untuk merosot saja secara perlahan. “Ya Tuhan, aku masih duda dan belum rujuk dengan mantan istriku, tolong selamatkan sampai bawah.”


Sepanjang tubuh Gerald terasa merosot ke bawah, dia terus menggumamkan doa. Kedua tangan dan kaki masih tetap memeluk pohon supaya tidak akan jatuh.


Sepuluh meter sebelum menyentuh dasar, Gerald berusaha mengerem supaya kecepatan jatuhnya tidak terlalu cepat.

__ADS_1


Wanita berperut buncit itu baru bisa menghela napas lega ketika Gerald berhasil menjatuhkan diri tepat di matras. Lega sekali, setelah berjam-jam menjadi manusia yang menempel di pohon, akhirnya lulus juga dari tantangan Papanya.


Gerald tidak langsung berdiri. Dia tidur di atas matras dengan posisi terlentang. Napas terengah-engah tapi bibir mengulas senyum. “Aku tak akan pernah mau naik ke atas pohon seperti monyet. Cukup ini yang pertama dan terakhir,” gumamnya pelan.


Papa Danzel mengakui kalau Gerald tergolong cukup berani. Dia mengayunkan kaki mendekati pria itu untuk memastikan apakah masih hidup atau tidak, karena tak kunjung berdiri. Ternyata masih bernapas.


Tangan Papa Danzel terulur untuk membantu Gerald berdiri. “Aku ingin berbicara denganmu, hanya berdua.”

__ADS_1


‘Apa lagi yang akan diujikan padaku, ingin tinggal bersama Cathleen saja harus menjadi ninja warrior terlebih dahulu.’ Gerald menyamakan dirinya seperti salah satu game online yang pernah dimainkan, namun hanya terucap di dalam hati.


Gerald membalas uluran tangan Papa Danzel, dan berdiri. “Ujian apa lagi yang akan diberikan?” Ia menghela napas pelan. ‘Hidup pecinta game ternyata sedang dipermainkan juga.’


__ADS_2