Trap Mr. Coldhearted

Trap Mr. Coldhearted
Part 251


__ADS_3

“Kau siapa?” Karena Edbert tak mengenal suara si penelepon, akhirnya dia bertanya dengan suara yang terdengar tegas menusuk.


Bukannya langsung menjawab, justru wanita itu tertawa terbahak-bahak terlebih dahulu. “Aku? Kau tak tahu siapa aku? Lucu sekali.”


“Jangan mempermainkan aku!” sentak Edbert karena ia merasa kesal. Memang dasarnya ia tempramen. Meskipun sedang belajar meredam amarah, tapi kalau dipancing juga akan mudah emosi.


Mendengar suara Edbert yang intonasinya tinggi, Faydor dan Galtero langsung menangis. Mungkin mereka pikir baru saja dibentak akau dimarahi oleh Uncle Ed.


Edbert berhenti berbicara dengan si penelepon tak jelas itu, lalu mendiamkan dua keponakan jagoannya. Dia meletakkan ponsel tanpa memutus sambungan.


“Uncle Ed tidak memarahi kalian, Sayang, tapi sedang menelepon orang.” Edbert segera menjelaskan meskipun kedua bocah mungil itu belum paham. Namun satu detik berikutnya ciuman mendarat di pipi gembul Faydor dan Galtero serta gelitikan tangan pada perut bayi itu langsung membuat jagoan-jagoannya tertawa lagi dan berhenti menangis.


Cathleen sampai menggelengkan kepala dengan kedua anaknya karena yang bisa mendiamkan secara cepat justru kaum lelaki. “Siapa yang meneleponmu?” tanyanya dengan rasa penasaran besar.


Edbert mengedikkan bahu. “Tak tahu. Aku titip keponakanku sebentar, daripada menelepon di sini dan membuat mereka menangis lagi.”

__ADS_1


“Hm, pergilah.” Cathleen beranjak berdiri untuk menggantikan posisi duduk di tempat Edbert. Ia melihat pria itu yang nampak keluar menuju taman.


Edbert berdiri di samping bangunan utama, kembali menelepon orang yang tak jelas karena tadi sudah dimatikan oleh pihak sana, maka berganti ia yang menghubungi.


“Katakan, siapa kau?!” tanya Edbert dengan suara mendesak harus dijawab.


“Bukankah kau sedang mencariku? Kenapa tidak tahu aku? Bahkan sampai mengirim agen rahasia bayaran untuk menyelidiki keberadaanku.” Gelak tawa dari seorang wanita yang terdengar seperti penjahat pun masuk ke telinga Edbert. “Orang bayaranmu sudah ku habisi.”


Pria bernama tujuh suku kata itu langsung paham. “Gretta?”


Edbert tidak peduli, dia justru lebih fokus dengan keberadaa psikopat itu. “Di mana kau?”


“Di tempat yang bisa melihatmu, wanita yang kau cintai, dan dua anaknya.”


Edbert otomatis masuk ke dalam lagi, memastikan Cathleen dan keponakannya baik-baik saja. Dari jaraknya sekarang, ia bisa melihat ketiganya aman. Kedua bola mata terus menyusuri seluruh isi mansion, ada yang janggal atau tidak di sana. Tapi, semua sepi, tidak ada pelayan juga, hanya Tuan dan Nyonya Pattinson yang baru saja datang dari luar.

__ADS_1


“Jangan jadi pengecut kau! Tunjukkan batang hidungmu kalau berani.”


Gretta justru kembali tertawa sinis. “Kenapa? Kau takut?”


“Cih! Tak pernah aku takut denganmu. Bahkan akan ku habisi kau sampai tak bernyawa,” ancam Edbert dengan kedua bola mata terus waspada melihat Cathleen.


“Daripada kau sibuk mencariku, lebih baik kau jaga baik-baik wanitamu itu. Jauhkan dia dari Gerald kalau kau ingin nyawanya selamat.”


“Aku tak akan menghancurkan kebahagiaannya,” tolak Edbert dengan sangat yakin.


“Terserah kau, yang pasti aku sudah memperingatkanmu.”


“Sial!” Edbert mengumpat saat panggilan itu diputus sepihak oleh Gretta.


Edbert tak melepaskan pandangan dari Cathleen sedikit pun. Ia mencoba menghubungi agen rahasia yang dibayar untuk memastikan apakah benar sudah dihabisi oleh Gretta atau hanya sekedar gertakan wanita itu saja.

__ADS_1


__ADS_2