Trap Mr. Coldhearted

Trap Mr. Coldhearted
Part 67


__ADS_3

“Kau tahu di mana kamar yang biasa digunakan oleh Gerald untuk istirahat?” tanya Cathleen.


“Jelas aku tahu, ayo ku antar.” Geraldine masih merangkul saudara iparnya tersebut. Ia mengajak Cathleen untuk naik ke lantai tiga menggunakan lift agar cepat.


“Apa kalian memang sering menginap di sini?” Saat di dalam lift, Cathleen mencoba mengajak Geraldine mengobrol.


Kepala Geraldine mengangguk. “Hampir setiap minggu atau setidaknya satu bulan sekali pasti kami berkumpul di sini,” jawabnya secara lebih detail.


“Oh, pantas saja semua orang sudah hapal ke mana harus istirahat,” balas Cathleen. Baru pertama kali ini dia bisa berkumpul bersama tiga keluarga besar sekaligus. Biasanya di mansion Pattinson justru sering sepi, tidak seramai di sini.


“Mommyku dan Aunty Diora ‘kan kakak adik, jadi kami masih saudara. Di mansion keluarga kami, semua memiliki kamar sendiri-sendiri, karena memang sering berkumpul atau saling menginap,” jelas Geraldine. Dia seperti sedang mengenalkan bagaimana budaya di keluarga besarnya.

__ADS_1


Cathleen mengangguk seolah paham. “Seru sekali kalau bisa berkumpul terus, jadi tak pernah merasa kesepian.”


Ting!


Lift pun berhenti di lantai tiga, Geraldine segera mengajak Cathleen untuk keluar dan mengayunkan kaki menuju salah satu kamar yang ada di ujung.


“Kami tidak pernah merasa kesepian, dan anggota keluarga kami pasti akan membantu kalau ada yang memiliki masalah. Kau juga bisa minta tolong kalau butuh bantuan menghadapi suamimu itu,” tutur Geraldine seraya menghentikan langkah kaki di depan pintu kamar.


“Tenang, nanti ku bantu dengan saudaraku yang lain. Uncleku juga sepertinya mau membantumu. Kalau dia sudah turun tangan, semua masalah pasti bisa terselesaikan dengan jutaan trik liciknya.” Geraldine menaik turunkan kedua alis, menunjukkan kalau permintaan Cathleen adalah masalah yang mudah diatasi.


Dua sudut bibir Cathleen tertarik sempurna. “Ku harap Gerald bisa melupakan Chloe dan menerima keberadaanku sebagai istrinya. Terkadang aku sedih jika melihat dia berwajah kacau ketika teringat kekasihnya yang belum tahu bagaimana kabar dan kondisi saat ini.”

__ADS_1


“Dia itu spesies pria bodoh yang terlalu setia, jadinya ya seperti itu. Sudah tahu harapan Chloe ditemukan hidup itu kecil, tapi masih saja tak mau melupakan dan menyerah begitu saja.” Geraldine mulai menyentuh handle pintu untuk membuka kamar. “Kau bisa istirahat di sini, ini kamar Gerald.”


Cathleen tidak langsung masuk ke dalam. Ia melihat kondisi kamar tersebut. Masih gelap, sepertinya tak ada penghuni di sana. “Gerald tak ada di sini?”


Pertanyaan itu membuat Geraldine ikut melihat ke sekeliling kamar kembarannya. Dia menghidupkan lampu supaya lebih terang. “Mungkin dia sedang keluar atau di ruang game. Kau istirahat saja, mandi dulu. Nanti malam pasti diajak berkumpul lagi di ruang keluarga.”


“Di sini ada ruang untuk bermain game juga?” tanya Cathleen seraya duduk di atas ranjang empuk. Kamar suaminya yang ada di sini tidak bernuansa serba pink dan merah. Justru terkesan lebih maskulin dengan paduan warna abu-abu dan hitam.


“Tentu saja ada, Delavar dan Dariush saat masih remaja hingga dewasa juga sering bermain game. Itu ruangan kesukaan para lelaki di keluarga kami.” Geraldine terlihat sangat ramah menerima Cathleen sebagai bagian dari keluarga besarnya. Dia yang cenderung tidak sabaran pun sampai mau menjelaskan dan mengenalkan tentang keluarganya. “Kau mau mengecek Gerald di sana?” tawarnya kemudian saat melihat wajah Cathleen seperti sedang cemas.


...*****...

__ADS_1


...Wahhh Geraldine perlu dicuci otaknya nih biar gak welcome sama si kucing. Woyyy Gerald versi cewek, sadar dong itu kucing, nanti taiknya bikin bau rumah kalo dipelihara dan disayangi...


__ADS_2