Trap Mr. Coldhearted

Trap Mr. Coldhearted
Part 51


__ADS_3

Cathleen melepaskan garpu dari tangan untuk beralih menyentuh bibirnya. Ia memastikan apakah lipstik masih menempel di sana atau tidak. Ternyata masih. Tapi, kenapa bisa Gerald menanyakan tentang kondisi kesehatannya. Padahal sudah sengaja ditutupi karena ia tak mau menyusahkan suaminya jika sakit, seperti janji yang disebutkan sebelum menikah.


“Tidak, aku baik-baik saja,” bohong Cathleen. Ia mengulas senyum, menyembunyikan terjangan pusing yang melanda dirinya sejak semalam. Wanita itu justru kembali melanjutkan melahap hidangan ke dalam mulut. Cathleen menundukkan kepala supaya tidak bisa diamati terus oleh Gerald.


Sedangkan Gerald, meskipun dia terlihat acuh, tapi sesungguhnya pria itu cenderung peka dengan kondisi sekitarnya. Tapi Gerald lebih sering memilih masa bodo.


“Bibir kau poles make up, tapi matamu yang sayu itu tak bisa bohong,” ucap Gerald dengan nada bicara datar. Ia mulai makan dan tak memperhatikan Cathleen lagi.


Cathleen meringis saat usahanya menutupi sakit ternyata ketahuan juga. “Maaf.”


“Untuk apa?”


“Karena sudah berbohong denganmu.”

__ADS_1


Gerald menarik sebelah sudut bibir. “Bawa ke dokter, aku tak mau disalahkan oleh keluargamu jika sakitmu semakin parah!” titahnya.


“Belum ada waktu, pekerjaanku sedang padat,” jawab Cathleen seraya menelungkupkan garpu dengan lemas. Sekuat-kuatnya dia menutupi tenaga yang sudah habis, ternyata ketahuan juga kalau kondisinya sedang tak baik-baik saja.


Seketika itu Gerald melotot ke arah Cathleen. “Jika kau sakit, keluargamu pasti menyalahkan aku! Aku sedang malas ribut dengan mereka. Jadi, pergilah ke rumah sakit.” Kalimat berupa perintah itu terlontar sangat tegas.


Gerald berdiri setelah menandaskan makanan dan susu putih yang disiapkan oleh Cathleen. Ia menarik alat makan di hadapan istri sementaranya itu. Menumpuk seluruh piring dan gelas kotor.


Gerald membawa alat makan tersebut ke tempat cuci. Tidak mungkin juga ia membiarkan Cathleen menyelesaikan semua ini di saat sakit. Gerald tak sekejam itu.


“Telat, sudah selesai,” jawab Gerald seraya meniriskan enam buah alat makan yang sudah bersih.


Cathleen mengekori Gerald yang hendak masuk ke dalam ruang khusus pria itu bermain game sekaligus tidur. Tapi tiba-tiba Gerald berhenti, dan otomatis Cathleen juga mematung.

__ADS_1


Gerald membalikkan tubuh hingga bersitatap dengan istri sementaranya. “Hari ini juga kau ke rumah sakit, aku tak mau tahu! Periksakan kondisi kesehatanmu.” Ia kembali mengeluarkan perintah dengan wajah datarnya.


“Bukannya aku tak mau periksa. Tapi, selain sibuk, mobilku juga sedang di bengkel, kemarin lusa baru saja menabrak halte saat aku buru-buru karena sedang diare,” jelas Cathleen diakhiri dengan cengiran yang memperlihatkan gigi serta membuat wajahnya semakin manis.


“Naik taksi, atau kendaraan umum lain.” Gerald memutar tubuh dan melanjutkan menuju ruangannya.


“Aku takut naik kendaraan umum lagi. Terakhir kali naik taksi online, supirnya genit,” beri tahu Cathleen. Ia hanya bisa memandang punggung Gerald yang semakin menjauh.


Padahal Cathleen sangat lemas tubuhnya, tapi terus saja memaksakan diri untuk terlihat kuat.


Gerald menghela napas, ia tetap masuk ke dalam kamar, tapi bukan untuk tidur lagi.


Sedangkan Cathleen, wajahnya muram karena merasa diacuhkan lagi. Baru juga sebentar bisa mengobrol dengan Gerald, pria itu sudah menutup pintu saja.

__ADS_1


...*****...


...Cath, udah dibilang, si Gege tuh sulit di takhlukkan. Udah, mundur aja, cerai sana, terus balik ke si Eed. Pasti kalo kamu sakit langsung diurusin sama manusia manipulatif itu. Sejelek-jeleknya sifat Edbert, tapi dia cinta banget loh sama kamu...


__ADS_2