
Tapi, Edbert sebetulnya tidak bersungguh-sungguh ingin bekerjasama dengan Gretta. Dia harus memastikan kalau sekutu wanita psikopat itu sudah dipastikan menjauh dari Cathleen dan dua keponakan jagoannya.
Sembari menguping supaya memastikan kalau Gretta sungguh memberikan perintah mundur, Edbert justru mengeluarkan bom yang sudah disetting waktunya. Lalu ikut masuk ke dalam kamar wanita itu.
Edbert bisa melihat punggung Gretta saat selesai memberikan perintah pada orang suruhan. Senyum bak iblis terbit di wajah pria itu saat si psikopat tak cantik itu berbalik ke arahnya.
“Sudah ku lakukan, mari merencanakan untuk merebut orang yang kita cintai,” ucap Gretta. Sedetik kemudian, kening mengernyit karena melihat Edbert menyembunyikan sesuatu di balik badan. “Apa yang kau bawa?”
“Hanya hadiah kecil untukmu.” Edbert menunjukkan bom di tangannya. “Tak perlu repot-repot memikirkan rencana, aku sudah ada misi sendiri.” Ia menyeringai seraya mengayunkan kaki mendekati Gretta.
“Keparat kau! Membohongi aku!” Gretta nampak marah, dia hendak meraih ponsel untuk membatalkan perintahnya.
Tapi, sayang sekali, Edbert lebih cepat. Pria itu menepis ponsel yang ada di atas nakas sampai terjatuh di lantai. Ia menginjak benda tersebut sampai layar pecah tak berbentuk. “Kau lebih cocok mati.”
__ADS_1
“Shitt!” Gretta belum siap dengan senjata apa pun. Dia segera mengambil pistol yang disembunyikan di balik bantal.
Tapi, gagal karena Edbert memeluk Gretta dari belakang supaya sulit bergerak. Ia membalikkan tubuh wanita itu supaya menghadap ke arahnya. “Ada kata-kata terakhir sebelum ku jemput ajalmu?”
Gretta meludahi wajah Edbert. “Kau pria terbodoh yang ada di bumi, lemah, tidak bisa mempertahankan wanita yang kau cintai supaya tetap menjadi milikmu!” Kedua bola melotot sembari mengejek.
“Setidaknya aku tidak gila seperti kau.”
Gretta terus berusaha memberontak, dia berjalan menuju dapur untuk mencari pisau tajam. Berusaha bisa bergerak meskipun sangat berat karena ada Edbert yang menjadi beban menghalanginya.
Tepat di dapur, bom yang ada di tangan Edbert langsung dilingkarkan pada tubuh Gretta. Benda berbahaya itu dibuat supaya ada sabuk yang begitu kencang serta sulit dibuka karena ada kode angka yang harus dipecahkan. Lengan wanita itu ikut terikat.
“Waktumu hidup tersisa satu menit lagi, nikmatilah udara terakhir di dunia.” Edbert menepuk pipi Gretta sebagai ejekan kalau wanita itu sudah kalah darinya.
__ADS_1
“Selamat tinggal, psikopat.” Edbert melambaikan tangan. “Kalau boleh jujur, hasil operasi plastikmu sangat jelek.” Ia lalu berbalik badan, harus bergegas keluar dari rumah kayu itu supaya tak terkena ledakan.
Tapi, Gretta tidak terima, dia segera menyusul dan mencekal kedua pergelangan Edbert. Tangannya dari siku ke bawah masih bisa digerakkan karena bom melingkar di lengan yang sejajar dengan dada. “Kalau harus mati, mari kita ke neraka berdua.”
“Shitt!” umpat Edbert, dia berusaha meloloskan diri dari cengkeraman Gretta yang ternyata sangat kuat. “Lepaskan aku!”
“Tidak akan, waktu kita tersisa tiga puluh detik lagi, nikmatilah udara terakhir di dunia.” Gretta justru membalikkan lagi kata-kata yang keluar dari bibir Edbert.
...........
Gerald menjambak rambutnya sendiri saat ia sampai di lokasi tempat persembunyian Gretta. “Sial! Aku terlambat.” Ia gagal mencegah Edbert. Kedua bola mata kini bisa melihat kalau api sedang melahap habis rumah di hadapannya.
“Kita cari Edbert di sekitar sini, siapa tahu dia berhasil keluar sebelum ledakan bom!” titah Gerald.
__ADS_1
...*****...
...Malaikat maut full senyum melihat ini...