
“Benar.” Gerald menjawab dengan jujur. Memang selama satu minggu ini dirinya pergi ke rumah sakit di mana Chloe dirawat.
Akhirnya, setelah sekian lama, pria dingin itu mengeluarkan suara, walaupun hanya sepatah kata dan terdengar sangat menyakitkan. Tapi, begitulah Gerald, dia lebih memilih mengatakan kejujuran yang memilukan daripada berbohong demi kebahagiaan.
Cathleen tersenyum getir ketika mendengar itu. “Apakah kondisinya seburuk itu sampai membuatmu harus merawatnya dari pagi sampai malam? Hingga mengabaikan keluargamu?”
Gerald menatap istrinya dengan tatapan yang datar. Sulit menilai apa yang tengah dipikirkan oleh pria itu. “Ya.” Dia kembali mengayunkan kaki menuju ruang game di mana dirinya tidur akhir-akhir ini.
Cathleen hanya bisa menghembuskan napas pelan diiringi bulir bening yang menetes tanpa permisi. Sakit rasanya diabaikan seperti ini. Dia ada tapi seakan tak ada dalam kehidupan Gerald.
...........
Pagi harinya, Cathleen sengaja tak berangkat ke kantor. Dia ingin mengikuti suaminya dan melihat secara langsung kondisi Chloe, serta mencari tahu apa yang dilakukan oleh suaminya selama ini.
Cathleen masih berada di dalam kamar. Menanti pintu ruangan sebelah terdengar terbuka, barulah dia akan segera keluar.
__ADS_1
Satu jam berlalu, Cathleen sampai pegal duduk di lantai depan pintu kamarnya karena sedang menguping suara di luar ruangan. Akhirnya, dia mendengar ada suara pintu yang terbuka dan tertutup kembali. Barulah dirinya mengintip, memastikan kalau suaminya sudah keluar.
Cathleen segera membawa tas, kacamata hitam, dan topi untuk menyamar agar tak ketahuan menguntit suaminya sendiri. Dia berdiri di depan lift, menanti pintu stainless terbuka.
Jika Gerald turun ke basement untuk mengambil mobil, lain hal dengan Cathleen. Wanita itu turun di lantai satu, keluar dari lobby untuk mencari taksi. Sebab, dia sadar diri dengan kemampuan mengemudinya yang tak bisa kebut-kebutan, sedangkan Gerald selalu berkecepatan tinggi ketika berkendara.
Dari depan pintu kaca lobby apartemen, Cathleen bisa melihat mobil suaminya sudah keluar dan melaju cepat di jalan raya. Dia menggigit jemari karena taksi yang dipesan belum juga datang. “Kenapa lama sekali, aku tak tahu di mana Chloe dirawat,” gerutunya dengan rasa cemas.
Tak lama, ada sebuah mobil yang berhenti di depan Cathleen berdiri. Bukan taksi, melainkan Edbert. Pria itu turun dari kendaraan. “Cath?”
“Aku melihat kau seperti sedang gelisah, mungkin aku bisa membantumu. Tak ada niat buruk sedikit pun untukmu, tolong percaya padaku.”
Cathleen melihat wajah mantan kekasihnya, nampak sungguh-sungguh ketika berbicara. Dia tidak langsung menerima tawaran bantuan, tapi melihat aplikasi taksi online yang sedang ditunggu. Ternyata masih jauh, sementara dirinya harus menyusul Gerald. “Baiklah, bantu aku mengikuti mobil Gerald.” Terpaksa, harus menerima tawaran Edbert daripada ketinggalan jauh.
“Dengan senang hati.” Edbert membukakan pintu untuk Cathleen. “Masuklah.”
__ADS_1
Kendaraan Edbert melaju kencang, menyusul mini cooper berwarna abu-abu yang nampak dari kejauhan. Cathleen sampai berpegangan erat di sabuk pengamannya karena terlalu ekstrim.
Sampai akhirnya berhenti di sebuah rumah sakit terkenal karena banyak kalangan kelas atas yang selalu berobat di sana. Cathleen segera turun saat melihat Gerald masuk ke dalam.
“Terima kasih atas tumpangannya, tolong jangan ikuti aku,” pinta Cathleen pada Edbert. Dijawab anggukan oleh pria itu.
Kaki Cathleen terayun segera, masuk ke dalam bangunan rumah sakit. Tapi helaan napas pelan keluar dari bibir. “Aku kehilangan jejak Gerald.”
Cathleen pun sudah tak melihat suaminya, sepertinya sudah masuk ke dalam lift. Dia memilih untuk bertanya ke resepsionis. “Permisi,” ucapnya dengan suara lembut dan ramah.
“Ya, ada yang bisa dibantu, Nona?”
“Aku ingin menjenguk pasien bernama Chloe, ruangannya ada di sebelah mana?”
“Sebentar, Nona, saya cek terlebih dahulu.”
__ADS_1
Cathleen menanti resepsionis itu memberitahukan ruang rawat Chloe, dengan kaki yang tak bisa berhenti bergerak. Itu adalah tanda dirinya sedang cemas bercampur takut dengan kenyataan yang akan disaksikan. Tapi, dia ingin memantapkan diri untuk melihat langsung walaupun tahu akan lebih menyakitkan. Setidaknya, setelah ini bisa mengambil keputusan yang terbaik untuk dirinya dan Gerald.