
Cathleen sudah berdiri di depan cermin yang ada di dalam kamar. Tangan kanan telah menggenggam gunting dan siap untuk memotong rambutnya yang sengaja di extension.
“Selamat tinggal rambut kesukaan suamiku. Maaf, bukannya aku tak menghargai seleramu, tapi ini bukan styleku,” gumam Cathleen. Tangan kiri membawa rambut ke bagian samping, dia menggunting secara asal dan sudah dipastikan tak akan rapi.
Edbert baru saja ingin melihat kondisi sang pujaan hati, takut kalau Cathleen menyalah gunakan gunting yang tadi dibeli. Saat melihat wanita yang sangat dicintai sedang berusaha memangkas rambut, dia berdiam sejenak, bukan tak mau menolong, tapi sedang membiarkan Cathleen puas menghilangkan sesuatu yang nampak menjadi sumber kesedihan.
Cathleen menatap penampilan dirinya di cermin. Menyaksikan secara detail bagaimana bentuk rambutnya. “Jadi tak beraturan dan jelek,” keluhnya dengan suara pelan dan helaan napas frustasi.
Mendengar kalau Cathleen tidak senang dengan hasil karya wanita itu sendiri, barulah Edbert kian mendekat dan berdiri di belakang punggung sosok cantik tersebut. “Mau aku bantu rapikan?” Ia memberikan penawaran seraya menatap pantulan dirinya bersama Cathleen dari kaca.
“Apa kau bisa?” Cathleen tidak langsung menyepakati, justru mengajukan pertanyaan juga.
Edbert mengulas senyum seraya tangan secara perlahan mengambil alih gunting yang ada di genggaman Cathleen. “Tentu saja bisa.”
“Sungguh?” Cathleen dan Edbert berkomunikasi tidak melalui cara saling pandang secara langsung, tapi keduanya sama-sama menatap ke arah cermin.
__ADS_1
“Kita buktikan saja.” Tangan Edbert menyentuh kepala Cathleen untuk diarahkan ke depan.
Cathleen tidak bisa melihat apa yang sedang dilakukan Edbert, hanya bisa merasakan kalau pria itu tengah menggunting rambutnya. Tapi, ia berusaha percaya saja dengan kemampuan sang mantan kekasih.
Hingga Edbert selesai merapikan potongan rambut Cathleen yang tadi asal digunting. Dia membawa kedua sisi ke bagian kanan dan kiri agar Cathleen bisa melihat hasilnya. “Bagaimana? Sekarang sudah rapi, ‘kan?”
Cathleen mencoba melihat dirinya dari cermin, mulai sebelah kanan, kiri, dan belakang. Kini rambutnya menjadi sepanjang punggung. “Rapi, terima kasih sudah membantuku, Ed.”
“Tidak perlu berterima kasih, semua yang ku lakukan padamu atas dasar ketulusan,” balas Edbert seraya memasukkan gunting ke dalam saku untuk dia jauhkan dari Cathleen agar wanita itu tetap aman serta tak bisa berbuat nekat dengan benda tajam.
“Mau aku bantu juga? Sepertinya yang ini lebih sulit kalau kau lakukan sendiri,” tawar Edbert. Dia selalu berinisiatif untuk memberikan bantuan sebelum Cathleen meminta.
Kepala Cathleen mengangguk. “Boleh.”
Edbert tentu saja senang bisa membantu sang pujaan hati. Walaupun pertanda bisa kembali dengan Cathleen sepertinya masih jauh, setidaknya ia bisa merasa tetap dekat dengan wanita yang sangat dia cintai.
__ADS_1
Edbert menutup bagian tubuh Cathleen mulai dari bahu ke badan supaya cat rambut tak meleber ke pakaian. Dia mulai membalurkan sedikit demi sedikit pasta berwarna cokelat tua yang telah diracik.
Setelah satu jam berlalu, akhirnya Cathleen selesai juga merubah gaya rambut yang awalnya sangat mirip dengan mendiang Chloe, kini sudah berganti seratus delapan puluh derajat.
Cathleen tersenyum saat melihat hasil rambutnya. Panjang sepunggung yang tak terlalu jauh dari bahu, warna cokelat tua, dan yang pasti sudah tak ada sisi menyerupai Chloe.
“Terima kasih, Ed,” ucap Cathleen diiringi bibir yang mengulas senyum puas.
“With my pleasure.” Edbert membalas seraya mengusap puncak kepala wanita pujaan hatinya.
Jika Cathleen sedang puas melihat hasil tatanan rambut yang baru, lain hal dengan Gerald. Pria itu masih berada di perjalanan menuju Taipalsaari.
“Ck! Kenapa harus pergi sejauh itu dari Helsinki? Bersama pria lain pula.” Gerald menggerutu karena perjalanannya tak kunjung sampai. Padahal hari sudah menunjukkan tengah malam dan masih ada dua jam lagi untuk sampai di tempat tujuan.
...*****...
__ADS_1
...Sukurin istrinya digondol PEBINOR, makanya move on dong...