
Anggota Cosa Nostra yang datang bersama Gerald mulai menyisir ke seluruh hutan yang ada di dekat rumah persembunyian Gretta. Siapa tahu Edbert ada di dekat sana, berhasil melarikan diri sebelum api melahap rumah yang berinterior kayu.
Sementara Gerald, dia masih berada di depan api. Kobaran merah itu sudah tersebar merata sampai tempat persembunyian Gretta sudah tak berbentuk rumah lagi karena terbuat dari kayu jadi memudahkan api menyebar secara cepat.
“Panggil pemadam kebakaran, segera!” titah Gerald. Dia harus tetap mencoba memastikan apakah Edbert ikut menjadi korban atau tidak.
“Baik.”
Sembari menanti pemadam kebakaran datang, Gerald mendekati mobil Edbert. Siapa tahu ada orang di dalam sana. Ia mengintip dari jendela, melihat secara seksama. Tapi, kosong.
Helaan napas kasar keluar dari bibir Gerald dengan kedua tangan berkacak pinggang. “Ku harap kau selamat.”
Gerald tidak tinggal diam, dia ikut mencari pertanda di sekitar sana. Mungkin ada jejak Edbert yang ditinggalkan. Tapi tak mungkin mencari di dalam kobaran api karena tak aman untuk saat ini.
__ADS_1
Sampai waktu mulai menunjukkan malam hari, Gerald tak mendapatkan pertanda apa pun. Entah jejak kaki, darah, dan semacamnya. Perasaan semakin tak enak dan cenderung ke arah mantan rivalnya ikut habis dimakan si jago merah.
“Api sudah berhasil dipadamkan, Tuan, apakah Anda tidak ingin mengecek?” Salah satu anggota Cosa Nostra sampai menghampiri Gerald yang ada di tengah hutan untuk memberi tahu hal tersebut.
“Ya.” Gerald segera kembali ke bekas tempat persembunyian Gretta. Sudah tak berbentuk, kayu telah menjadi arang, walaupun ada beberapa yang belum.
Satu jam lamanya Gerald mencari, mungkin ada jasad Edbert. Dia akan membawa dan memakamkan sebagaimana mestinya. Tapi, sayangnya, hanya ada sisa potongan tulang.
“Sepertinya api sudah membakar habis tubuh mereka sampai menjadi abu,” gumam Gerald. Itu yang dia yakini saat ini, karena tak ada pertanda lain, kecuali bekas ban mobil saja, pasti dari kendaraan Edbert.
Langit telah gelap, Gerald mengajak anggota Cosa Nostra supaya kembali ke markas.
“Mobil Tuan Edbert bagaimana?” tanya salah satu dari mereka.
__ADS_1
“Biarkan di sini, siapa tahu Edbert masih hidup dan dia butuh kendaraan untuk kembali,” jawab Gerald. Meskipun ia tak terlalu yakin, setidaknya ada kemungkinan pria itu selamat walaupun sangat kecil.
Gerald beserta seluruh pasukan kembali ke markas Cosa Nostra. Setelah sampai, dia langsung ke kamar untuk bertemu Cathleen yang sejak tadi khawatir.
Mendengar ada pintu terbuka, Cathleen segera memberikan Faydor kepada Geraldine. Sementara dirinya menghampiri sang suami.
“Kau pulang bersama Edbert, ‘kan?” Cathleen bertanya dengan mata berkaca-kaca dan suara sedikit bergetar. Dia belum siap mendengarkan jawaban yang tak sesuai keinginan.
Kepala Gerald menggeleng. “Maaf, aku datang ke sana sangat terlambat, dan tidak menemukan Edbert.”
Kaki Cathleen mendadak lemas sekali, tak kuat menahan tubuh untuk tetap berdiri. Ia beringsut ke bawah dan berakhir dengan menangis lagi. “Ed, kau tidak menepati janji untuk kembali dengan selamat.”
Gerald perlahan berjongkok, menarik tubuh sang istri untuk masuk ke dalam dekapannya. “Maaf.” Tidak terasa, matanya juga ikut berkaca-kaca. Meskipun dahulu Edbert adalah rivalnya. Tapi, ia ikut merasa kehilangan.
__ADS_1
...*****...
...Malaikat maut left this universe...