Trap Mr. Coldhearted

Trap Mr. Coldhearted
Part 54


__ADS_3

Selepas mendaftarkan Cathleen untuk periksa dengan dokter umum karena Gerald juga tak tahu sakit apa yang diderita oleh istrinya itu, anak Tuan Giorgio ikut duduk menemani di samping wanita dengan wajah cantik berpadu manis yang sesungguhnya tidak bosan untuk dipandang bagi orang normal. Tapi pengecualian bagi Gerald, pria itu bahkan masa bodo saat Cathleen dilirik oleh pengunjung lain walaupun hanya sekilas.


Akhirnya sepasang pengantin baru itu pun mendapatkan giliran masuk. Gerald tidak sepenuhnya masa bodo juga. Ia tetap menemani Cathleen untuk periksa di ruang dokter.


Cathleen diarahkan untuk berbaring di sebuah brankar untuk diperiksa. Sedangkan Gerald menunggu dengan duduk menatap ke arah wanita itu. Mendengarkan tanya jawab antara pasien dan dokter, serta menyaksikan bagaimana istri yang tidak dia cintai itu mulai dicek oleh dokter menggunakan alat-alat kesehatan.


“Nona, boleh saya tahu apa yang Anda rasakan?” tanya Dokter.


“Pusing, lemas, tenggorokan rasanya kering terus,” jawab Cathleen.


“Sejak kapan Anda merasakan gejala itu?” Sembari mengecek tekanan darah, Dokter terus mengajak pasiennya mengobrol.


“Sudah tiga hari yang lalu, sejak aku diare terus.”


“Apakah sampai sekarang masih diare?”

__ADS_1


“Ya, tapi tidak parah seperti yang awal.”


“Saat diare, apakah Anda mengkonsumsi buah-buahan dan seberapa intens minum air mineral?” Dokter mulai menggunakan stetoskop untuk mengecek detak jantung.


“Sepertinya aku makan anggur, apel, ya buah yang biasa aku makan, dan untuk minum lebih sedikit karena sedang sangat sibuk.”


Dokter mengulas senyum pada pasiennya itu. “Jika sedang diare, jangan makan yang tinggi serat terlebih dahulu, karena serat justru bisa memicu keluarnya feses. Jadi, bukannya berhenti diarenya, justru bisa memperparah. Dan saat diare, tolong minum air mineral jangan sedikit karena cairan dalam tubuh Anda semakin berkurang.”


Cathleen mengangguk, memberikan pertanda kalau ia akan melakukan semua yang dikatakan oleh Dokter.


“Saya minta sampel darahnya, ya? Untuk pengecekan lebih lanjut,” izin dokter tersebut seraya menarik sebuah meja yang ada roda di bawahnya.


“Itu suami Anda?” tanya Dokter saat menunggu cairan merah itu keluar sesuai batas yang diperlukan.


“Iya, tampan, ‘kan?” jawab Cathleen. Sedang sakit, masih saja bisa tersenyum seperti orang biasa.

__ADS_1


“Iya.” Dokter itu menutup sampel darah yang sudah berada di dalam sebuah tabung kecil. Dia menuliskan identias pasien menggunakan kertas label. “Anda berbaring saja di sini, Nona. Saya akan berbicara dengan suami Anda.”


Cathleen mengangguk dan menurut saja. Ia melihat ke arah Gerald yang sejak tadi tak pernah mengalihkan pandangan ketika dirinya diperiksa. “Senangnya kalau bisa dicintai oleh suamiku,” gumamnya sangat lirih ketika dokter sudah duduk berhadapan dengan Gerald.


Sedangkan Gerald, pria itu tetap saja memasang wajah tak berekspresi saat diajak mengobrol oleh dokter.


“Dia sakit apa?” tanya Gerald yang tidak mau basa-basi dan ingin langsung pada intinya.


“Ini baru perkiraan saya, istri Anda sepertinya mengalami dehidrasi, Tuan. Tapi, untuk lebih akurat lagi, saya akan melakukan tes darah terlebih dahulu.”


“Oh.” Reaksi Gerald terlihat biasa saja, tidak cemas sedikit pun. Bahkan cenderung santai mendengar istrinya dehidrasi.


“Untuk saat ini saya sarankan rawat inap, Tuan. Sepertinya Nona Cathleen kehilangan banyak cairan akibat diare.” Dokter bermaksud meminta persetujuan anggota keluarga pasien.


“Lakukan saja, kau tenaga medis, tahu mana yang baik untuk orang sakit.” Walaupun jawaban Gerald nampak biasa saja. Tapi wajah datar pria itu membuat intonasi bicara seperti orang sinis.

__ADS_1


...*****...


...Mulai ngelunjak nih si Keket, woiiii itu si Gege perhatian bukan karena punya perasaan sama kamu. Sadar Ket sadar! Mana mau si Gege sama kamu. Sadar diri itu perlu biar gak gila...


__ADS_2