Trap Mr. Coldhearted

Trap Mr. Coldhearted
Part 176


__ADS_3

“Selamat istirahat, aku tak akan mengganggumu jika kau memang butuh waktu sendiri.” Cathleen beranjak berdiri. Entah ucapannya tadi yang sepanjang jalan kenangan didengar atau tidak oleh Gerald, yang pasti dirinya sudah mengeluarkan semua perasaan. Tapi, yakin kalau suaminya pasti mendengar.


Cathleen tak akan memaksakan diri menunggu di depan pintu sampai Gerald memberikan respon. Dia beranjak berdiri, menyeka air mata yang sudah tak terhitung lagi. “Jika kau butuh sesuatu, bangunkan saja aku. Aku tidur di kamar kita.”


Tangan kanan Cathleen memegang pintu, menatap ke arah itu dengan nanar. Bahkan senyum pun terasa hambar. Akhirnya, dia kembali ke dalam kamar. Mencoba melanjutkan istirahat yang terasa tak nyenyak, tidak seperti malam kemarin yang masih merasakan dipeluk oleh suaminya.


Sedangkan Gerald, pria itu tak terasa menitikan air mata ketika sudah tidak mendengar suara istrinya. Kepalanya juga terasa berat bagaikan memikul batu alam yang begitu besar. Masih duduk di atas lantai, kedua kaki Gerald ditekuk, tangan disilangkan di atas lutut, dan kepalanya menunduk hingga kening menempel di lengan. Dan dia tertidur dengan posisi itu, tanpa selimut. Benar-benar merasa kacau karena Gerald bingung bagaimana menghadapi perasaan terhadap Cathleen yang tercampur bumbu kekecewaan.


Namun, tidur Gerald tidak lama. Ia merasakan ada suara ponsel yang mengganggu. Dengan malas, harus mengangkat karena sangat berisik.


Ponsel yang diambil oleh Gerald bukanlah miliknya, melainkan benda yang direbut dari Edbert. Dia mengangkat panggilan, tapi tidak mengeluarkan suara. Hanya menunggu untuk mendengarkan.

__ADS_1


“Halo, kawan, bagaimana kabarmu?” Suara Edbert keluar dari speaker.


Gerald sengaja mengeraskan suara karena malas memegang. Sementara dirinya berpindah posisi menjadi terkapar di atas lantai. Meskipun sudah mendengar suara Edbert, dia tetap enggan membalas. Mungkin pria itu sedang memasang mode bisu untuk semua orang.


“Kau tidak mendengarkan aku? Woi! Gerald!” Edbert sampai berteriak karena merasa diabaikan.


Gerald hanya melirik ke arah ponsel yang ada di dekat tangan kanan. Tetap menutup mulut serapat mungkin, justru memilih untuk memejamkan mata karena kepalanya pusing.


“Aku yakin kau mendengarku, jangan pura-pura tuli karena akan ku beri tahu informasi sangat penting!” Edbert kembali berbicara setelah memastikan masih terhubung dengan nomor ponselnya yang dibawa oleh sang rival.


“Anastasha Chloe Eleanor, kekasihmu yang kau anggap sudah mati, ternyata masih hidup.” Akhirnya karena tak tahan, Edbert pun mengeluarkan kartu AS.

__ADS_1


“Omong kosong!” Gerald melempar ponsel itu hingga membentur tembok. Tapi tidak sampai mati, hanya retak saja dibagian pelindung.


“Jika tak percaya, datang saja ke Hakanimen Luxury Hospital, VVIP satu. Kau buktikan apakah ucapanku benar atau hanya sebuah bualan,” teriak Edbert. Dia pun memutuskan panggilan dan mulai mencetak senyum.


Sedangkan Gerald, pria itu menghela napas panjang. “Kenyataan pahit apa lagi yang akan ku lihat?” gumamnya begitu frustasi.


Gerald menutup kedua mata menggunakan lengan. Pusing sekali kepalanya. Dia memilih untuk tidur saja daripada pergi ke rumah sakit. Saat ini sedang tak bisa berpikir apa pun.


Waktu terus bergulir, tak terasa Gerald sudah terlelap hingga sore hari baru membuka mata. Ia termenung sejanak menatap ke arah langit-langit ruang game. Lalu teringat dengan informasi yang diberikan oleh Edbert. “Haruskah aku membuktikannya?”


...*****...

__ADS_1


...Iyalah, buktikan, dateng aja ketemu Closet. Kasian kali dia udah lama gak kamu berakin. Eh salah, maksudnya gak kamu tengokin...


__ADS_2