
Cathleen menolak tawaran Gerald untuk tidur bersama. Bukan karena dia tak mau, tapi mencoba membatasi diri supaya tidak terkesan membutuhkan pria itu. Lagi pula sudah menjadi mantan juga. Setidaknya ia terobati dengan melihat wajah Gerald sebelum tidur.
Gerald juga tidak memaksa, ia justru meninggalkan kecupan di kening Cathleen sebelum meninggalkan kamar. Menengok ke ranjang terlebih dahulu sebelum pada akhirnya pintu ditutup.
“Padahal aku ingin tidur bersama dia dan anak-anakku,” gumam Gerald, wajahnya nampak sedikit kecewa karena Cathleen tidak menginginkan dirinya ada di sisi wanita itu.
Tapi Gerald juga sadar diri kalau mantan istrinya pasti memiliki sedikit atau mungkin banyak sisa sakit hati yang tertinggal akibat kelakuannya. Bahkan sampai detik ini pun ia belum berani mengajak Cathleen untuk rujuk karena terkadang masih menjenguk Chloe.
Kaki Gerald membawa tubuhnya untuk berbaring di sofa yang menghadap ke arah kamar di mana Cathleen sedang tidur. Ia terus mengamati ke sana, sampai waktu sudah menunjukkan pukul tiga dini hari.
__ADS_1
Gerald tidak bisa tidur karena dihantui keinginan untuk memeluk Cathleen. Lama sekali ia tak melakukan itu.
“Ku kira hamil anakku bisa menimbulkan rasa ingin selalu dekat denganku. Tapi ternyata sejak tadi ku tunggu, Cathleen tak kunjung keluar sekedar meminta untuk ditemani tidur,” ucap Gerald. Mungkin terlalu percaya diri kalau mantan istrinya membutuhkan dia, lupa kalau Cathleen bisa melakukan apa pun sendirian.
“Nyatanya, akulah yang ingin berada di dekat dia. Haruskah aku mengaku kalah, atau tetap mau memenangkan permainan ini sampai Cathleen yang menyerah dan memintaku untuk kembali?” Gerald bergulat dengan hati dan pikirannya sendiri. Rasanya tidak tahan ketika ada wanita yang dirindukan berada di dalam apartemennya. Tapi ia tidak bisa melakukan apa pun.
Gerald merubah posisi menjadi duduk, mengusap kasar rambutnya yang berwarna cokelat tua. “Bisa gila aku kalau menahan terus seperti ini.” Ia menggerutu kesal.
Hati-hati sekali Gerald membuka pintu. Ia berdiri di depan Cathleen yang sedang tidur miring. Berjongkok hingga wajah sejajar dengan kepala wanita itu. “Bagaimana bisa kau tidur nyenyak ketika berada di apartemen seorang pria?” ucapnya lirih seraya menyingkirkan helaian rambut yang sedikit menutupi wajah.
__ADS_1
‘Siapa yang nyenyak? Bahkan aku tak bisa tidur sejak tadi.’ Cathleen tidak berani mengatakan itu, cukup diucapkan saja dalam hati.
Gerald kembali berdiri, kali ini ia mengambil posisi untuk ikut berbaring di atas ranjang. Ia merebahkan tubuh di balik punggung Cathleen, menyatu di bawah selimut yang sama.
“Maaf, Cath, aku tidak kuat menahan diri ingin memelukmu,” ucap Gerald. Ia meninggalkan kecupan di pelipis Cathleen, sebelum akhirnya melingkarkan tangan tepat di perut buncit wanita itu.
Gerald mengusap bagian tubuh Cathleen yang di dalamnya ada dua calon anaknya. Ia tersenyum ketika merasakan tendangan dari dalam.
“Cath, anak-anak kita aktif sekali, apa kau kesulitan selama masa kehamilanmu?” Gerald terus berbicara karena tahu kalau tak akan didengar oleh orang yang sedang tidur. Padahal Cathleen masih terjaga sejak tadi. “Maafkan aku karena terlambat mengetahui kalau kau mengandung buah cinta kita. Andai saja waktu bisa diulang, aku tak akan melukai hatimu seperti sebelumnya.”
__ADS_1
...*****...
...Telat penyesalanmu Ge, nasi sudah menjadi bubur, tapi kalo makan bubur tuh cepet laper, jadi mendingan masak nasi aja jangan kebanyakan aer...