Trap Mr. Coldhearted

Trap Mr. Coldhearted
Part 50


__ADS_3

Tiga bulan berlalu, tidak ada kemajuan apa pun dari hubungan Gerald dan Cathleen. Tak ada cinta yang tumbuh di hati Gerald, tapi lain hal dengan Cathleen yang mulai merasa hambar dengan hubungan yang begitu-begitu saja.


Setiap hari tidak ada tegur sapa diantara mereka. Tidur terpisah bagaikan dua orang yang sedang menyewa kamar kos di apartemen mewah itu.


Gerald tidak pernah berubah, tetap pulang dini hari, bangun siang. Tapi yang berbeda hanya ia mulai mengunci pintu saat tidur, karena Cathleen sering sekali keluar masuk sesuka hati, membangunkan dirinya setiap pagi untuk diajak sarapan namun selalu dia usir karena mengganggu.


Sedangkan Cathleen, sudah tahu Gerald acuh seperti itu, tapi tetap saja terus mencoba memberikan perhatian untuk mendapatkan hati suaminya. Dia selalu menunggu kepulangan Gerald walaupun sampai tak sengaja tertidur di sofa atau ruang makan.


Cathleen yakin kalau Gerald pasti memiliki kepedulian dengan dirinya. Sebab, setiap kali ia terbangun, sudah berada di dalam kamar. Dan yang lebih membuat dirinya senang adalah, pria itu selalu makan apa pun hidangan yang dia sajikan, entah enak atau tidak, ia tak pernah melihat ada makanan yang dibuang di tempat sampah.


Dari situlah Cathleen mulai tumbuh sedikit percikan rasa karena usahanya dihargai. Sebagai manusia yang tidak pernah puas, tentu ingin hubungan suami istri itu ada kemajuan. Setidaknya duduk berdua dan mengobrol agar tercipta sedikit kehangatan dalam berumah tangga. Keinginannya saat ini tidak terlalu tinggi, cukup bisa berbincang, makan bersama setiap pagi dan malam. Mungkin itu adalah harapan yang sangat sederhana bagi seorang wanita yang memiliki suami acuh.


Sebab, selama tiga bulan itu, Cathleen dan Gerald hampir tidak pernah bertegur sapa karena jam operasional aktivitas mereka berbeda. Cathleen pagi sampai sore untuk bekerja, sedangkan malam istirahat, sedangkan Gerald mulai beraktivitas keluar sudah sore dan pulang dini hari. Jadi, sangat jarang ada waktu berdua.

__ADS_1


Hari ini sabtu, weekend sudah menyambut. Cathleen tidak memiliki agenda apa pun. Ia menunggu Gerald sampai bangun dengan menonton televisi.


Cathleen tidak pernah luntur semangatnya untuk meluluhkan hati Gerald. Ia yakin kalau pria itu bisa hangat karena sejatinya, Gerald adalah seseorang yang peduli pada orang-orang terdekat.


“Lama sekali Gerald bangun, perutku sampai sakit menahan lapar,” gumam Cathleen seraya memegang perut yang sejak semalam belum terisi makanan, ditambah ia juga lembur sampai larut.


“Coba ku bangunkan lagi, ini sudah jam dua siang.” Cathleen kembali meninggalkan sofa untuk mendekati ruangan Gerald. Ia mengetuk dengan tak bertenaga.


Baru juga dua kali ketuk, terdengar suara kunci yang diputar dari dalam. Cathleen bisa melihat seorang pria bertubuh kekar tanpa kaos dan menggunakan boxer saja, telah berdiri di hadapannya. Dan ia mengulas senyum untuk menyapa.


“Dari pagi sudah ku tunggu, tapi bangunmu siang sekali,” ucap Cathleen. Ia langsung menarik tangan Gerald untuk diajak ke meja makan.


Pria itu diam saja saat diarahkan duduk. Dengan wajah datar, Gerald mengamati Cathleen yang mulai memposisikan diri di kursi hadapannya.

__ADS_1


“Mau ku panaskan makanannya? Sepertinya ini sudah dingin,” tawar Cathleen.


“Tidak.” Tolak Gerald. Sejak menikah dengan Cathleen, dia sudah biasa makan hidangan dingin.


“Baiklah, selamat makan,” tutur Cathleen. Ia mengulas senyum bahagia. Ini adalah kali pertama dirinya dan Gerald makan bersama setelah tiga bulan menikah.


Jika Cathleen melahap masakannya sendiri penuh suka cita, lain hal dengan Gerald yang masih mendiamkan makanan. Pria itu justru sedang mengamati sesuatu yang aneh dari wajah Cathleen.


“Kau sakit?” Tiba-tiba pertanyaan itu terlontar dari bibir seorang Gerald Gabriel Giorgio.


...*****...


...Hambar ya Cath punya suami kaya Gerald? Makanya, sedia masako serenteng, siramin tuh ke Gege biar gak hambar, kasih garem sekalian. Salah sendiri dikasih Edbert malah mintanya Gerald. Gak bersyukur sih....

__ADS_1


__ADS_2