
Gerald tidak menanggapi pertanyaan Cathleen. Dia langsung keluar kamar begitu saja dengan wajah yang tetap datar minim ekspresi.
“Apa aku salah jika perhatian dengan orang? Bukankah itu menunjukkan sisi kemanusiaan. Atau Gerald tak suka kalau aku memberikan perhatian dengannya?” Cathleen bergulat dengan pikirannya sendiri karena kalimat yang terlontar dari sang suami tak mampu dia pahami, sedangkan Gerald pun tak menjelaskan sedikit pun.
Tentu saja spekulasinya itu membuat Cathleen menekuk wajah. “Aku tak bisa seacuh Gerald, toh yang aku perhatikan juga suami sendiri.”
Padahal, yang dimaksud oleh Gerald bukanlah perhatian pada pria itu, tapi Cathleen yang masih menunjukkan kepedulian pada Edbert. Sedangkan wanita itu sudah mengatakan tidak ingin kembali dengan Edbert karena memiliki sifat yang pemarah dan pemaksa.
Tapi, Cathleen tidak bisa memahami maksud dari ucapan Gerald. Manusia berhati dingin itu juga malas untuk menjelaskan. Jadi, berakhirlah Cathleen menilai dari pemikiran sendiri.
“Haruskah aku acuh? Tapi yang dia maksud kalau tak suka, sedangkan aku menyukai Gerald walaupun belum banyak.”
Cathleen menggaruk kepalanya karena pusing sendiri memahami makna ucapan sang suami. Dia pun memilih untuk ikut keluar dan menyaksikan para lelaki yang hendak berpindah ke sebuah kapal selam.
__ADS_1
“Hati-hati, semoga segera mendapatkan apa yang kau cari,” ucap Cathleen diiringi wajah yang mengulas senyum manis.
Gerald yang hendak berjalan menuju ujung kapal pesiar itu pun menyempatkan untuk berbalik. Dia tidak mengeluarkan suara sedikit pun, hanya menatap Cathleen yang sedang melambai ke arahnya.
Tanpa semua orang sadari, Gerald menarik sedikit dua ujung bibir. Senyum tipisnya tak bisa dilihat oleh siapa pun karena terlalu samar.
“Ge, ayo!” tegur Daddy George saat melihat anaknya tak kunjung berjalan.
Gerald segera memutuskan pandangan dan melanjutkan berjalan. Dia pun masuk ke dalam helikopter yang akan membantu membawanya berpindah ke transportasi selanjutnya.
“Aku hanya menghargainya sebagai istriku. Karena sebelum menikah, kami sudah membuat surat perjanjian,” jawab Gerald yang saat ini matanya melihat ke arah luar dan memenuhi kornea dengan hamparan laut.
“Ya, ya, ya. Anak dan Daddynya sama-sama bodoh dan buta akan cinta.” Tuan Dominique menghina keponakan beserta sahabatnya yaitu George.
__ADS_1
“Apa uncle tak bisa diam? Suaramu keras sekali di telingaku,” tegur Gerald dengan nada bicara dingin.
Semakin dilarang, maka Daddy Davis akan mengeluarkan sifat jahilnya. Pria berusia lebih dari enam puluh tahun itu meniup microphone yang tersambung dengan headphone. “Hahaha ... beraninya kau mengaturku, memangnya kau itu siapa sampai memiliki nyali seperti itu?”
Gerald mengepalkan tangan karena pamannya sungguh mengganggu telinga. Andai saja tak perlu memakai headphone saat berada di dalam helikopter, pasti akan langsung dilepas. Jika tahu perjalanannya kali ini tak nyaman, lebih baik bergabung dengan sepupunya saja di helikopter yang sudah berangkat lebih awal.
Dan akhirnya, Gerald pun memilih untuk mengalah daripada pamannya semakin menggila.
Tujuan mereka pun sampai juga. Helikopter yang ditumpangi oleh Gerald telah mengudara di atas sebuah kapal selam yang bagian atasnya terlihat di permukaan.
Dengan menggunakan tali, Gerald turun dan memijakkan kaki di bagian kapal selam tersebut. Dia segera masuk ke dalam seorang diri. Paman dan Daddynya tak ikut menyelam, kedua pria paruh baya itu akan mengudara. Dan Gerald langsung bertemu Marvel, Danesh, Dariush, serta Delavar.
...*****...
__ADS_1
...Sok-sokan nasehatin kucing biar gak perhatian sama orang kalo gak suka. Eh situnya sendiri juga perhatian tuh sama si Keket, padahal gak suka juga kan? Atau udah mulai suka? Kamu waras gak sih Ge sebenernya tuh?...