
Edbert sudah memantapkan hati untuk mengungkapkan semua rencananya yang telah terjadi. Dia mempertimbangkan ucapan Bene supaya berkata jujur. Setelah berkecamuk di dalam pikirannya selama perjalanan menuju restoran, kini ia sudah yakin seratus persen, siap menerima segala konsekuensi yang akan didapatkan juga.
“Aku ingin mengungkap dosa yang sudah ku perbuat pada Cathleen,” ucap Edbert.
Kalimat itu membuat Cathleen dan kedua orang tuanya menatap Edbert dengan raut penuh tanda tanya. Sedangkan Bene justru tidak menyangka kalau sarannya akan dilakukan secepat ini, padahal biasanya selalu tidak dipedulikan.
‘Apakah Tuan Edbert sungguh sudah berubah?’ Bene bergumam dalam hatinya.
“Dosa apa yang kau maksud? Apakah perbuatanmu dahulu?” tanya Cathleen bingung. Dia sudah memaafkan semua yang telah berlalu ketika hubungan mereka sudah berakhir.
“Bukan, tapi perbuatanku yang baru-baru ini terjadi,” sanggah Edbert.
“Langsung saja katakan,” tegas Papa Danzel yang sangat penasaran.
Edbert menghela napas kasar, menatap satu persatu orang yang ada di sana. Lalu berakhir pandangannya tertuju pada Cathleen, wanita yang sangat dia cintai.
__ADS_1
“Aku yang menemukan Chloe, dan aku minta maaf juga pada Cathleen karena kejadian pagi ini,” ungap Edbert dengan penuh percaya diri. Tak masalah kalau dia akan dibenci, setidaknya maksudnya baik sebelum benar-benar merelakan wanita yang dicintai.
“Pagi ini? Maksudmu?” Alis Cathleen sebelah kiri naik ke atas.
“Aku meminta Chloe untuk berpura-pura kejang pagi ini, bisa disimpulkan kalau akulah penyebab Gerald datang terlambat ke pengadilan.”
“What?” pekik Cathleen, Papa Danzel, dan Mama Gwen bersamaan. Ketiganya bergeleng kepala bersamaan.
“Aku tak menyangka, ternyata kau selicik itu,” ucap Papa Danzel, nada bicaranya terdengar sangat kecewa. Pria yang sudah dipercaya selama ini, ternyata turut andil dalam kehancuran rumah tangga putrinya.
Edbert pasrah saja mendapatkan pukulan dari Cathleen dan pelototan dari Tuan Pattinson. “Justru karena aku mencintaimu, ku lakukan semua itu untuk menguji seberapa besar kepedulian Gerald padamu. Aku ingin tahu apakah dia memprioritaskanmu atau tidak, dengan cara menghadirkan masa lalunya. Kalau memang kau selalu diutamakan, dicintai sepenuh hati, tidak pernah disakiti sekali pun, maka akan ku relakan kau hidup bahagia bersama Gerald. Tapi, kenyataannya justru tidak seperti itu.”
Penjelas Edbert yang kedua membuat Cathleen berhenti memukul dan Papa Danzel juga memahami maksud tindakannya. Tadinya sudah ingin membenci, tapi ternyata ada niat baik dibalik itu.
...........
__ADS_1
Satu bulan berlalu, Gerald sudah seperti mayat hidup saja kalau sedang di dalam apartemen. Semenjak berpisah dari Cathleen, dia tidak bergairah untuk melakukan apa pun kecuali menguntit mantan istrinya. Bahkan game yang menjadi kesukaannya pun sekarang sudah tak menjadi seleranya lagi. Menjenguk Chloe juga hanya sesekali kalau dihubungi Tuan Eleanor atau pihak rumah sakit.
“Argh ... bisa gila aku karena terbayang wajah Cathleen terus,” gerutu Gerald seraya mengacak-acak rambutnya.
Selama ini Gerald hanya melihat mantan istrinya dari foto saja. Dia menyesal karena tidak memiliki potret berdua.
“Aku tak mau tahu, pokoknya kali ini harus berhasil bertemu Cathleen.” Gerald sudah tak tahan. Dia akan menguntit dari pagi sampai ada celah untuk bertatap muka langsung.
Pria yang tak mandi selama satu minggu itu nampak tak terurus badannya. Bulu disekitar wajah pun sangat lebat.
...*****...
...Galaunya baru kerasa sekarang ya? Kebiasaan laki mah nangisnya belakangan...
...Baru sempet ngetik aku bestie, puyeng palanya, ditambah abis nangisin Deavenny jadi makin ++ pusing, mana idung mampet, susah mikir jadinya...
__ADS_1